Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Mencatat Batu” – Komroden Haro
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:

Foreword MDTL

Mencatat batu…

Adalah pameran tunggal pertama yang dilakukan Komroden Haro, dilaksanakan pada 6 Agustus sampai 14 Agustus 2011 di Taman Budaya Yogyakarta.

Komroden Haro atau biasa di panggil “Pak Kom” lahir di Mandala/Batu Raja 26 Mei 1966 yang sekarang dikenal sebagai salah satu dari sekian banyak seniman patung lulusan FSRD ISI Yogyakarta dalam hiruk pikuk dunia seni rupa di Yogyakarta atau Indonesia saat ini.

Karya Komroden Haro mempunyai ciri yang khas spontan terinspirasi dari bentuk-bentuk benda alam misalnya batu. Kesederhanaan bentuknya menggugah instingtif atau instuitif yang dimilikinya, menangkap citraan, menelaah bentuk batu misalnya, kemudian mentransformasikan dengan imajinasi serta layaknya seorang penggubah, menambahkan muatan pemikiran dari pengalaman yang didapat, yang akhirnya tercipta berbagai berbagai citraan atau bentuk eksploratif yang lugas dan memiliki makna, yang bisa dikaji atau dipahami bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain pula, dari karya-karyanya seakan mewakili pengalaman-pengalaman individu-individu yang lain.

Karya seni yang menarik tidak pula harus dengan melahirkan kerumitan bentuk namun kesederhanaan juga bisa menjadi inspirasi yang menyegarkan dalam proses berkesenian. Ide semangat mengubah atau eksplorasi karya-karya Komroden Haro akan lebih meramaikan hiruk-pikuk dalam berkesenian, maka dari itu kami merasa layak untuk menampilkan karya-karya patung Komroden Haro. Selamat buat “Pak Kom”…

Love

Adita Ayu 26072011


Komroden:

Mencatat Batu

PATUNG

Di tahun 1979, Rosalind Krauss membuka definisi batas-batas formalisme dalam patung yang jauh melampaui pandangan tradisional mengenai patung. Krauss menulis sebuah artikel yang didasarkan oleh fakta-fakta yang ‘agak mengejutkan’ mengenai apa yang disebut seni patung: koridor sempit dengan monitor tv di ujungnya, cermin yang ditempatkan pada sudut yang aneh pada kamar biasa, atau garis temporer yang memotong sebuah gurun. Dia mengkritik pandangan dalam patung modern yang memerlukan setumpu (pedestal) untuk penyajiannya, sehingga secara fungsional menjadi tidak terkait dengan tempat dan sebagian besar mengacu pada dirinya sendiri (self-referential). Hal itu berbeda dengan patung pra modern, yang berkaitan dengan logika monumen. Dalam mengembangkan medan seni patung postmodern di era itu (70an), Krauss menjelaskan “marked sites”, “site contruction”, “axiomatic structures”, dan “sculpture” melalui relasi-relasi dan beroperasinya pada lanskap dan arsitektur, dan juga negasinya. Pandangan ini digunakan untuk memperluas medan seni patung, yang pada waktu itu mulai bermunculan karya-karya patung di ruang terbuka yang menjadi bagian dari sebuah tempat, tapi bukan lanskap dan bukan arsitektur. Krauss juga menyebutkan bahwa pelebaran medan dari karya patung postmodern seperti itu terjadi dalam moment tertentu dalam sejarah seni rupa. Pandangan Kraus membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang kemudian terjadi dalam perkembangan seni patung dunia. Bahkan jika kategori patung tampaknya luwes dan tak terhingga, Krauss menegaskan bahwa sejarawan seni memiliki tanggung jawab untuk memetakan batas-batas yang tepat dari perluasan medan patung ini. Walaupun disiplin patung telah melanggar keasyikan tradisional, tetapi masih mungkin untuk mengartikulasikannya dalam satu rangkaian oposisi (tidak arsitektur, tidak lanskap) yang mendefinisikan ke mana perluasan medan patung ini berlanjut.

Para pelaku seni di Indonesia, yang mejadikan praktik seni di Indonesia sebagai bagian dari praktik seni Internasional mengalami pengaruh yang besar dari perubahan batasan dalam patung. Perkembangan seni patung di Yogyakarta ditandai dengan beberapa perubahan yang terjadi di kalangan para pematungnya. Menyebut istilah ‘seni’ patung di Yogyakarta, tidak dapat dilepaskan dari lingkungan akademik seni rupa ISI Yogyakarta, yang memproduksi para pelakunya. Istilah ‘seni’ yang selalu digunakan sebelum kata ‘patung’ menyiratkan adanya ‘patung’ lain di luar yang ‘seni’. Di luar lingkungan akademik pendidikan seni, kebanyakan patung yang diproduksi di masyarakat lebih dikenal dengan nama reca (arca), dan mengacu secara erat dengan produksi patung-patung kerajinan dan patung-patung batu atau kayu yang berkaitan dengan seni tradisi. Kebanyakan motif yang dibuat adalah figur manusia dan binatang.

Pameran seni patung dalam setahun terakhir ini mengalami peningkatan kuantitas di galeri-galeri seni di Indonesia. Selain beberapa pameran khusus menampilkan karya patung, beberapa pameran besar seni rupa juga menghadirkan karya-karya patung yang menarik perhatian. Para pelaku seni pun banyak yang memproduksi patung, baik dari kalangan yang sebelumnya dikenal sebagai pematung, maupun yang dikenal menggunakan media lain. Praktik seni kontemporer yang dari semula melakukan pengabaian-pengabaian terhadap batasan, menjadikan batas seni patung menjadi sangat cair. Karya-karya yang ‘dapat disebut’ sebagai seni patung semakin beragam, dari bentuk, bahan, display, perlakuan, dan sebagainya. Patung-patung yang lebih kini, tidak saja mengambil bentuk-bentuk figur manusia atau binatang, tetapi juga benda-benda baik benda alam maupun benda buatan manusia. Di Yogyakarta, banyak pematung yang kemudian mencari bentuk-bentuk pengucapan berbeda selain patung figuratif melalui bentuk-bentuk objek. Dalam buku Language of Sculpture, secara alamiah, patung adalah objek, yang membedakannya dengan misalnya lukisan atau puisi. Objek menggambarkan bagaimana sebentuk patung menjadi sebuah karya mandiri baik pada bahan maupun pola aturannya.

Di kalangan pematung di Yogyakarta, terdapat batasan aktivitas antara mematung sebagai bentuk ekspresi seni (yang dalam pendidikan tinggi seni disebut seni murni/fine art), membuat patung pesanan, dan membuat patung kerajinan. Patung sebagai bentuk eksresi seni diarahkan untuk dipamerkan dalam pameran-pameran seni rupa yang disertai dengan judul dan konsep karya.  Sementara patung pesanan walaupun kadang-kadang masih disebut sebagai karya si pembuat patung, tapi tidak merupakan bagian dari aktualisasi diri si pematung. Pematung hanya menjadi sarana bagi pemesan untuk mewujudkan bentuk patungnya. Untuk patung kerajinan, mereka memproduksi dan  mendistribusikannya secara massal.

KOMRODEN HARO

Salah satu seniman di Yogyakarta yang berdedikasi terhadap pekerjaan mematung yang diarahkan ke bentuk pameran seni adalah Komroden Haro.  Komroden yang mulai belajar patung secara formal di ISI Yogyakarta tahun 1985, dibesarkan dalam lingkungan mahasiswa yang mengerjakan proyek mematung pesanan untuk pemerintah maupun swasta. Pilihan untuk tetap bekerja mematung dalam wilayah kerja seni rupa menjadi cukup sulit di masa itu. Setiap mahasiswa mempunyai godaan sekaligus usaha untuk survive dengan membuat karya pesanan dan juga benda-benda kerajinan. Komroden sempat menjadi bagian penting dari industri kerajinan yang diekspor ke luar negeri. Selama mahasiswa pun, Komroden banyak ikut dalam projek-projek dari pematung seniornya, seperti Eddi Sunarso dan Kasman KS. Beberapa mahasiswa seni patung yang seangkatan dengan Komroden hampir sama situasinya, beberapa di antara mereka sekarang sukses mengelola studio patungnya, seperti Yulhendri, Heri Maizul, dan Murdani Daud.

Perkenalan saya dengan Komroden pertama kali adalah sekitar tahun 1996, ketika saya dan teman-teman mengorganisasi sebuah pameran patung di Yogyakarta. Komroden Haro adalah salah satu pematung lulusan FSRD ISI Yogyakarta, angkatan 1985, beberapa tahun di atas saya yang dianggap aktif berkarya patung. Pada masa itu pameran patung sangat jarang dilakukan, setidaknya yang bisa disebut adalah Pameran Besar Seni Patung Indonesia di Purna Budaya Yogyakarta, di tahun 1992. Selain itu, pameran-pameran seni rupa pada umumnya juga sangat jarang menampilkan karya patung. Saya dan beberapa mahasiswa seni patung FSRD ISI Yogyakarta membuat pameran seni patung yang kemudian kami namakan kelompok Dimensi. Kelompok itu sempat dua kali pameran, yaitu di tahun 1994 dan tahun 1996. Pada masa persiapan pameran itulah, saya mulai melihat bagaimana modus berkarya seniman pematung di Yogyakarta.

Pada masa kejayaan patung monumen,  mahasiswa seni patung ISI Yogyakarta sebagian besar dibawa oleh senior dan dosennya untuk bekerja melayani pesanan patung yang membanjir baik dari kalangan swasta maupun dari pemerintah. Bagi para mahasiswa itu, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan mematung dan sekaligus memperoleh penghasilan ekonomi. Keterampilan yang dituntut adalah keterampilan modeling dan mencetak dalam mematung, terutama patung-patung manusia dengan proporsi dan anatomi yang realistik. Di dalam kampus, studi mengenai proporsi anatomi manusia menjadi studi yang paling awal dilakukan di kampus ISI Yogyakarta. Selama lebih dari 2 semester, setiap mahasiswa dituntut untuk mengolah bentuk-bentuk patung yang berdasar figur manusia itu. Pada tingkat selanjutnya persoalan kebentukan dan pengolahan material mematung menjadi bagian yang sangat penting bagi setiap mahasiswa.

Mahasiswa seni patung di ISI Yogyakarta, berbeda dengan mahasiswa bidang lain yang hanya membutuhkan kamar kos, mereka membutuhkan ruang yang besar untuk studio pribadinya. Kebanyakan dari mereka menyewa rumah sederhana, dengan halaman yang luas yang bisa mereka sulap menjadi studio yang menampung bahan-bahan dan peralatan mematung. Sebagian dari mereka, kemudian merintis bisnis mematung mereka sendiri dengan cara menerima pesanan dan membuat kerajinan tiga dimensional. Pada tahun 1990an, ketika ISI Yogyakarta masih berada di kawasan Gampingan, mereka banyak menyewa di daerah sekitar itu, di kampung-kampung pinggiran Yogyakarta, menyesuaikan dengan budget yang mereka miliki. Dari kawasan itu, para mahasiswa ISI banyak menyebar ke desa-desa yang lebih pinggir karena semakin mahalnya daerah kawasan perkotaan.

Setelah beberapa kali berpindah studio, pada tahun 2003, Komroden yang lulus dari ISI tahun 1991 mempunyai studio milik sendiri di daerah gunung Sempu, selatan Yogyakarta. Studio ini dibangun di lahan kosong di tengah hutan jati. Komroden membangunnya secara bertahap, sebelum akhirnya sekaligus digunakannya sebagai tempat tinggal bersama keluarganya.

Selama proses menjadi pematung, Komroden mengalami beberapa masa perubahan dalam mematung. Pada masa awal studinya, pematung ini lebih banyak mengerjakan karya-karya patung yang figuratif dengan kecenderungan yang realistik. Bentuk-bentuk figuratif itu juga terpengaruh dari pengalaman kerjanya bersama pematung-pematung senior dalam mengerjakan proyek-proyek monumen.

Setelah masa studinya selesai, Komroden banyak mengerjakan patung dengan material kayu, dan lebih menonjolkan aspek kebentukan. Pada masa itu, Komroden tidak terlalu produktif dalam berkarya patung, karena juga membuat produksi benda-benda kerajinan. Salah satu momentum yang penting dalam perjalanan karir seni patung Komroden adalah pada saat mengkuti pameran berdua dengan Herly Gaya, di Dirix Gallery (2001). Pameran ini mengukuhkan pilihan dia dalam mengambil peran sebagai seniman pematung, karena mendapat tanggapan yang positif dari kalangan pecinta seni dan kolektor.

Momentum lain yang juga mempengaruhi karir dan cara kerja mematung Komroden adalah pada sebuah pameran bersama di Jogja Gallery di tahun 2008. Karya patungnya yang berbetuk sapi besar mendapat perlakuan khusus dalam ruang galeri. Kurator pameran meminta Komroden untuk merubah display karena pertimbangan ruang dan gagasan. Pada saat itulah, Komroden menyadari beberapa hal, yaitu bahwa dengan keseriusan dia dalam mengerjakan patung, maka respon publik juga akan sebanding dengan usahanya. Yang tak kalah penting adalah, Komroden menyadari bagaimana patung pada masa ini tidak hanya selesai setelah keluar dari studio, tetapi masih mempunyai kemungkinan-kemungkinan tak terduga ketika berhadapan dengan ruang gallery maupun dengan kurator dan publik seni.

Perubahan-perubahan prinsip mematung yang dilaluinya itu kemudian membuat Komroden memilih untuk lebih bersikap mengalir dalam proses mematungnya. Aspek-asprek lain di luar bentuk dan bahan, seperti aspek audiens dan penyajian display menjadi bagian yang ikut dipertimbangkannya. Dalam pameran ini, cara kerjanya yang mengalir dan keasyikannya dalam mengerjakan bentuk apa saja, coba dibatasinya dengan idiom batu.

MENCATAT BATU

Pameran patung “Komroden: Mencatat Batu” ini memamerkan 40 patung karya terkini Komroden Haro. Semua karya dalam pameran ini dikerjakan sebagai seri patung Komroden mengenai batu-batu. Sebagian karya dikerjakan dengan bahan batu, dan sebagian lain dengan bahan-bahan lain seperti resin, logam, dan kayu. Batu dipergunakan oleh Komroden untuk menandai salah satu fase dari perjalanan kreatifnya dalam mematung, dan memberi benang merah bagi keragaman karya yang dikerjakannya.

Studio kerja Komroden mencerminkan seorang pematung yang sangat produktif. Di beberapa bagian, nampak bahan-bahan mematung yang belum diolah, seperti kayu, batu dan tanah liat. Di bagian yang lain, bertumpuk sisa-sisa cetakan patung yang sudah dikerjakan. Beberapa karya patungnya yang sudah jadi maupun dalam proses pengerjaan, bergeletakan di seluruh penjuru studio. Komroden biasa mengerjakan beberapa patung sekaligus, atau meninggalkan sebuah patung yang masih belum selesai untuk mengerjakan patung yang lain. Pematung ini bekerja rata rata dibantu oleh 8 karyawan setipa hari. Ide berkaryanya seringkali meloncat-loncat, setelah mengerjakan sesuatu, muncul gagasan lain yang kemudian perlu segera direalisasikan dalam karya. Komroden juga biasa menggunakan bermacam teknik dan bahan. Mulai dari modeling, yang dicetak menggunakan resin atau logam, sampai pada memahat batu dan kayu. Dari berbagai macam teknik dan bahan itu, karya-karyanya menjadi nampak sangat beragam. Perlakuan terhadap material pun di beberapa karya nampak menyiratkan kontradiksi, misalnya pada satu karya dia terlihat sangat menghargai karakter material, di karya lain, dia menggunakan material hanya sebagai penyampai bentuk. Dari bermacam bentuk, gagasan, dan bahan berkarya seniman ini, bisa dilihat melalui serangkaian pola dari aspek-aspek penting kekaryaannnya, yaitu : bentuk/material – studio – narasi (yang disebutnya sebagai “misi”) – karya patung.

Bentuk/Material

Antara bentuk dan material menjadi bagian pertama yang kadangkala hampir tidak bisa dibedakan bagi Komroden. Bentuk batu, misalnya, bagi Komroden bukan hanya persoalan sebuah karakter material, tetapi juga karakter bentuk. Untuk itu, dalam karya-karyanya hari ini Komroden seolah meniadakan batas antara batu sebagai material dalam mematung, dan batu sebagai bentuk yang kadang dia alih-bahankan pada bahan lain seperti resin dan logam. Perlakukan ini sangat berbeda dengan prinsip dalam seni patung modern yang mementingkan kualitas material, seperti “truth of material(s)” dalam karya-karya Henry Moore. Moore pada waktu itu menyatakan bahwa sebuah karya seni tidak dapat dipisahkan dari material apa yang membentuknya. Komroden secara unik justru mencetak bongkahan batu biasa untuk kemudian dialih-bahankan ke bahan yang lain. Tindakan mencetak batu itu untuk memperoleh bentuk batu sebagai semata-mata sebuah bentuk, dengan tekstur dan karakter visualnya yang nampak. Bentuk batu itu kemudian diolahnya menjadi bentuk-bentuk yang kontradiktif dengan sifat asalnya, misalnya ditampilkan sebagai bentuk yang mampu memiuh karena diikat, atau bongkahan batu yang menjadi ringan dan menggantung. Pada karya yang lain, Komroden juga menggunakan bahan batu sebenarnya yang digunakannya juga untuk menampilkan kotradiksi. Batu-batu diolah sedemikian rupa menjadi bentuk yang lembut, dan terkesan lunak.

Studio

Studio adalah bagian lain yang tidak kalah penting dalam proses produksi patung-patungnya. Studio bagi Komroden menjadi determinan positif, ketika dalam studio segala proses yang dilakukannya selama menjadi pengrajin, menjadi pematung pesanan, bertemu dengan ambisi dan semangatnya dalam ekspresi seni. Salah satu cara yang unik dilakukan oleh Komroden adalah mencetak bongkahan batu untuk mencari bentuk batu yang serupa dengan bentuk alamiahnya. Komroden seringkali belum menemukan gagasan, untuk apa bentuk batu itu dibuatnya. Dia bahkan meletakkan begitu saja bentuk-bentuk batu itu di tempat-tempat yang biasa dilaluinya di studionya. Dengan melihatnya setiap hari, Komroden menemukan ide untuk mengolah bentuk batu itu, entah ditambahkannya dengan elemen lain, memecahnya, atau mengurangi bagian-bagiannya. Pola ini dikerjakan hampir untuk semua karya patungnya. Bahkan dia tidak segan-segan berdiskusi dengan teman-teman yang datang ke studionya mengenai bentuk-bentuk patung yang sedang dikerjakannya. Tak jarang, setelah berdiskusi, dia akan menambah, atau mengurangi patungnya, baik atas masukan temannya, atau bahkan karena menolak pendapat temannya.

Narasi

Narasi dalam patungnya sebenarnya sudah ada semenjak dia mulai membentuk sesuatu. Komroden membiarkan bentuk patungnya bercerita sendiri, walaupun disadarinya dia selalu mempunyai intensi mengenai sesuatu ketika dia mulai mengerjakan bentuk tertentu. Karya patungnya menggunakan bentuk-bentuk yang komunikatif, seperti batu, tali, ember, figur manusia, dan sebagainya. Dia merasa tidak perlu lagi terlalu banyak menjelaskan bentuk-bentuk itu. Komroden memberi kunci pada penikmatnya berupa judul-judul karya.

Karya-karya

Ketiga aspek itu saling berkaitan dalam proses mematung Komroden. Misalnya pada karya-karya mengenai packaging. Beberapa bentuk batu yang dikerjakannya melalui proses mencetak, dibuatnya dalam versi dikemas, baik menggunakan plat logam maupun dengan kayu. Karya-karya itu berasal dari pengalaman Komroden dalam membuat kemasan pada patung-patung dan kerajinannya di studio. Kebiasaannya dalam bekerja di studio yang mengharuskannya juga terlibat dalam persoalan kemasan karya yang hendak dikirmkan ke pembeli ataupun galeri-galeri. Karya itu juga menunjukkan sikap Komroden pada bentuk dan material karya. Batu sebagai bentuk dibuatnya dengan menggunakan bahan yang sesuai dengan intensinya, yaitu dibuat seringan mungkin karena akan diletakkan diatas plat logam atau kayu packaging yang sekaligus sebagai setumpunya.

Karya lain adalah sebuah patung yang menggunakan katrol yang biasa digunakan untuk mengangkat benda berat di studionya. Karya ini memanfaatkan peralatan tersebut sebagai bagian dari karya yang secara interaktif dapat digerakkan oleh audiens.

Karya-karya Komroden seperti mengalir, tekadang menjadi sangat puitis, seperti sebuah karyanya yang berjudul “Wish You Were Here”. Sebuah batu yang digantung melayang, dan sebuah jejak bayang sosok kepala manusia yang menjadi lubang di tengah batu itu.

Rain Rosidi


Liberty stone

“Lelaki sekali”… ketika melihat keringat menetes di dahi nyaris menyentuh sudut mata yang memercing fokus tak terpengaruh apapun selain pada bongkahan batu, ujung kaos putih usang yang dipakai sebagai penutup rambut kepalanya juga basah oleh keringat, semakin macho ketika tubuh kekarnya bewarnah coklat mengkilat terbakar matahari, sambil kedua tangannya yang berotot memegang gerinda listrik hingga percikan api menyembur deras dari mata gerinda yang membelah batu besar saat membuat pahatan patung. Sayangnya saya tidak menemukan hal itu ketika beberapa kali datang ke studio patung Komroden Haro, padahal bayangan saya sedikit banyak terbangun oleh sensualitas seorang pematung batu klasik sebagaimana yang sering terlihat di adegan film.

“Ada perlakuan khusus untuk membelah batu, dan aku temukan itu pada tukang pembelah batu di daerah bukit berjo godean” kata Komroden. Materi batu yang keras tidaklah mudah untuk di pahat, di belah dan di bentuk menjadi sebuah karya seni. Kita bisa merasakan alur batu dan dengan mengikuti alur tersebut akan mempermudah dalam membelahnya. Tentulah pengendalian alat pembelah juga merupakan satu hal yang harus di pahami tambahnya sambil menunjukan karya patungnya yang bermaterial batu sungai yang saya tidak sempat acheter viagra melihat proses pembuatannya.

Tekstur lapisan luar batu yang cenderung kasar menarik perhatiannya, bentuk batu yang bulat tak ber-arah dan keras, menggoda untuk di olah menjadi sesuatu yang lunak. Umumnya sifat  keras batu kerap dijadikan simbol bagi manusia sebagai halangan sekaligus kekuatan. Komroden merasakan hal yang sama namun tidak meresponnya sebagai mana umumnya.

Baginya “batu” lebih mengusik hatinya ketimbang fisik batu itu sendiri, tepat ketika Komroden membongkar makna batu untuk dijadikan lantai tarian jemarinya dan menghasilkan pemaknaan baru dari batu.

Sambil ngobrol diambilnya ‘seonggok’ Tanah liat tanpa harus menghentikan isapan rokok di mulutnya. Kedua tangannya bergerak natural memijit-mijit dan sesekali mengiris tanah liat itu menjadi bentuk pohon setinggi sekitar 40cm lengkap dengan tekstur kayu dan tekstur batu yang di cengkeram oleh akar pohon. Diselah obrolan kami yang masih jauh dari selesai tiba-tiba tanah liat itu sudah menjadi wujud pohon yang mencengkeram sebongkah batu, komrudin meninggalkan karya tersebut dan duduk di dekat saya. Sembari minum kopi dan membakar rokok, dia berkata, “tanah liat itu model dan siap untuk di cor”.

Pergerakan tangannya yang mengalir begitu saja saat mengolah tanah liat mengingatkan saya akan cerita Komroden saat kecil yang mengagumi ketrampilan bapaknya sebagai petani dan pedagang kelontong di daerahnya, namun ketika membuat perahu, bagian depannya dibuat datar dan belakang melengkung, bentuk perahu seperti itu  terbalik pada bagian depan dan belakangnya dibandingkan dengan perahu pada umumnya di daerah tersebut. Yang menarik proses pembuatannya  tidak di sengaja seperti demikian selain merespon material kayu yang tersedia. Komroden kecil juga melihat bapaknya membuat tulisan di batu nisan tidak di pahat sebagimana umumnya, namun dengan cara menggunakan potongan kayu rotan kecil yang di bentuk abjad kemudian di tekan kedalam nisan.

Hal-hal seperti itu membuat Komroden kecil terbiasa merespon benda-benda sekitarnya seperti kayu, batu, botol plastik dan lainnya untuk dijadikan obyek tiga dimensi. Bahkan kesenangannya terhadap tokoh film action di televisi di wujudkannya menjadi patung figur dari botol plastik.

Menginjak dewasa kebiasaan membuat karya tiga dimensi semakin mengalir di Institusi Seni, Imam adalah teman dari masa muda yang mengajaknya masuk ISI Yogyakarta. Semakin banyak pemahaman terhadap seni patung saat di Yogyakarta telah membawa dan mengiringinya untuk setiap saat menggenggam tangan istri beserta anak-anaknya hingga sekarang, Menyenangkan saat melihat tekstur batu yang di buatnya  pada tanah liat, tampilan natural dari batu terlihat kuat walaupun dilakukannya dengan alat sederhana yang di ambil dari sekitarnya. Kali ini Komroden membuat tekstur batu pada tanah liat tanpa harus bermandikan keringat dan terbakar matahari.

Kamipun melihat karya patung batu lainnya yang di cor menggunakan material resin, baginya batu yang nyata ada pada pikirannya, bentuk bulat batu menarik perhatiannya untuk di beri lubang dan ditiup bagai balon, batu besar yang tengahnya berlubang seperti mangkok membentuk tubuh manusia bersayap, batu yang di sobek oleh pisau, batu di ikat oleh tali hingga sifat keras dari batu lenyap oleh lembutnya tali pita pengikat, batu kuping, batu tidur, poket batu, maupun tas batu..

Material cor resin pada sebagian besar karya yang di pamerkannya merusak logika batu dan juga sekaligus terasa kuat pengembangan semangat artistiknya. Komroden memperlakukan batu yang keras menjadi sesuatu yang lunak, ringan dan bahkan  dapat di belah oleh pisau kecil. Dia seakan memadamkan api yang menerangi benda-benda di dalam gua dan melihat cahaya diluar gua menerangi benda-benda yang jauh lebih banyak dari pada di dalam gua (gua Plato). Komrudin membawa pengembangan makna genetika batu keluar dari dirinya. Selayaknya benda yang terlihat oleh mata bukanlah yang asli, benda yang asli ada di dalam ide.

Begitupun Komroden bukanlah orang yang mengendari mobil sendirian dengan iblis, tanpa ada bir, tak ada ponsel, tak ada pistol, hanya ada nyanyian di kepalanya. Karya patungnya pada pameran ini merupakan seri batu yang kehadiran akan batu dicarut-marutkan dengan  kehidupannya; keluarga di masa lalunya, anak istrinya, karyawan, kolektor, tetangga, teman-teman seniman yang sering diajak diskusi, manusia, singa, dan naga berkepala banyak, tanpa harus menjadi arkeolog.

Komroden mengambil simbol batu untuk  menggugah semangat tentang kelembutan yang bisa mengendalikan kekerasan pada karya seni patung sebagai wujud dari seni fungsional. Menurut pengertian dari terminology tersebut: Fungsional adalah suatu kenyataan yang menekankan adanya unsur-unsur di dalam suatu masarakat atau kebudayaan yang saling berbangun dan menjadi suatu kesatuan yang berfungsi (Muliono, 1990: 245).

Proses berkesenian patung Komroden mengalami benturan budaya dari lingkungan di masa mudanya yang melihat patung sebagai suatu hal yang kurang berfungsi bertabrakan dengan ketrampilan professional yang berasal dari budaya lain. Kenyataan ini tanpa di sadari telah membuatnya mengedepankan peran individu seniman dalam me-ekspresikan dirinya baik secara wacana maupun material hingga melahirkan karya patung non figuratif yang melihatkan ekspresi artistik. Di sisi lain pengalaman praktis dalam memimpin usaha merchandise telah membuahkan manajeman diri dalam berkarya, yang mana hasil dari orderan merchandise bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga serta membiayai proses berkesenian yang mengedepankan peran individu. Karya seni yang aku buat belum bisa menghidupiku tapi aku yang menghidupi karya seni tersebut ujarnya.

Subsidi silang yang dijalankannya adalah refleksi dari simbol batu pada karya patungnya, kemerdekaan berfikir akan kelembutan yang mengalahkan kekerasan, mampu menjalankan kehidupan berkesenian yang beriringan dengan kehidupan rumah tangganya.

Patung

Terjangan seni patung saat ini semakin mendapat tempat yang lebih baik secara publik maupun individu. Selain pada ruang publik yang banyak didirikan patung, kolektor seni juga berminat untuk mengoleksi karya patung. Fungsi karya patung sendiri juga mengalami perkembangan.

Dari patung publik di tempat ibadah seperti relief di candi Borobudur yang merupakan refleksi narasi dari ajaran Budha sebagai media dokumentasi yang efektif, juga untuk media memahami ajaran agama pada waktu itu. Patung tokoh pahlawan di perempatan jalan maupun depan kantor instansi sebagai monument pengingat akan sebuah peristiwa heroik yang pernah terjadi, patung boneka sawah sebagai pengusir burung yang merupakan salah satu hama bagi tanaman padi, patung manusia bersayap di makam dan juga patung pilot lengkap dengan helm di atas makam untuk mengingatkan orang yang dikubur adalah pilot yang gagah perkasa dan gagah berani. Berbagai jenis patung tersebut mempunyai fungsi sendiri dan berada pada tempat yang tepat hingga atsmosfirnya bisa terbangun.

Bentuk patung figurative mengalami masa yang panjang dan sampai saat ini masih sering di gunakan. Jauh pada masa sebelum masehi keberadaan patung figurative sudah di kenal, pada masa animisme dan dinamisme di mana figure patung wanita pada masa itu bentuknya tidak proposional, pada bagian dada dan kelamin di bikin lebih besar dari bentuk tubuh lainnya sebagai simbol kesuburan. Patung figurative yang menggambarkan dewa-dewa di bikin lebih proposional dalam bentuk tubuh manusia yang mengalami penambahan organ tubuh seperti tangan berjumlah empat, dan juga pada patung pahlawan yang realistik untuk memberikan suatu pemahaman kepada masyarakat akan arti sebuah perjuangan.

Patung relief dan figurative di masa lalu terasa menjadi media dalam usaha mevisualkan sastra serta sebagai fungsi dokumentatif dari sebuah kejadian atau sebuah ajaran agar bisa terdokumentasi sebagai pemahaman bagi masyarakat.

Penggunaan material dari benda keras seperti batu dan kayu yang di pahat menjadi sebuah karya seni patung juga mengalami perkembangan, seniman patung saat ini banyak yang menggunakan material resin, perunggu, tembaga dan lainnya dengan cara cetak cor. Dengan media ini seniman pautung semakin terpicu untuk mengembangkan wacana serta menampilkan peran individu dalam mengekspresikan dirinya.

Namun perkembangan peran dari individu sang seniman yang divisualkan dalam bentuk tiga dimensi kadang masih terjebak pada peran mevisualkan sastra, ketika karya patung di buat dengan menambah ornament lain yang terasa di paksakan hanya karena ingin karyanya terlihat menarik dan lebih lengkap dalam menyampaikan ide, serta ambisi yang membutah ketika berusaha untuk memperlihatkan keistimewaan pribadi yang jenius. Hal demikian mungkin terpengaruh oleh keinginan akan karya yang dibuatnya menjadi laku. Di sisi lain mevisualkan sastra bukanlah suatu hal yang musti di hindari, karya patung dengan unsur naratif di tampilkan akan lebih kuat jika memang di buat untuk maksud yang tepat seperti pada relief dinding candi Borobudur.

Literature, penghayatan material dan sentuhan artistik serta pembacaan seniman pada suatu obyek patut di gunakan dalam membuat karya seni, karya Komroden di pameran ini mencerminkan karakteristik pribadinya yang diapresiasikan pada pembacaan batu.

Konsep Komroden dalam me-expresikan patungnya bukan sekedar mengolah material batu semata, namun wujud dari pembacaan tentang batu yang secara natural di keluarkan dari dirinya dengan menggunakan material yang tidak hanya batu. Batu di gunakan sebagai alat yang kuat untuk memperluas pengelihatannya, merangsang imajinasinya, dan memperdalam pemahamannya yang di visualkan pada karya seni patung.

Yogyakarta,16 Juli 2011

Yoyok widodo

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


Leave a Reply