Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“The Crown” – ARS DEWO DePe
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:


Tentang Ars DP
dan Rambut dalam Konsep

Biodata

Pertama saya kenal atas tulisan-tulisan dikatalognya yang eksplosif-provokatif. Bacalah katalog di pameran tunggal keduanya yang bertajuk “Berfikir Dengan Hati Blenk”, ….bahwa seni blenk tidak akan mati-matian bersikukuh tentang makna, manfaat, fungsi dan guna. Baca juga dari katalog saat dia berpameran berdua, di katalog dituliskan “Dengan demikian kebenaran prinsip kesenian memiliki arti baru, kebenaran adalah penampilan dalam, ia menggunakan kekuatan pikiran dan keluasan wawasan dan mengangkat apresiator menuju pada kekuasaan tertinggi. Hal ini pula yang menurut Nietzche, “ bahwa kita mencari pengetahuan atau kebenaran seperti juga penemu kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupan”.

Lahir di Bandung, menetap dan beralamat di Surabaya. Sudah menamatkan studi seni di Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia (STISI) Bandung, jurusan Seni Murni, Seni Lukis. Sebelum tahun 1995 juga pernah mencicipi beberapa semester di pendidikan tinggi seni rupa STKW Surabaya.

Rambut dalam Konsep

Rambut dalam konsep, baginya seni tidak ubahnya bermain-main yang kali ini medianya rambut, yang keberangkatan awal dimaknai sebagai media penghargaan terhadap apa yang telah dilindungi oleh rambut yaitu otak, yang selanjutnya dimana organ yang “tidak dapat” hancur setelah tulang, atau kegunaan rambut yang lain di bagian tubuh kita tentunya memiliki fungsi dan kegunaan.

Setelah ngobrol beberapa menit, saya belum menangkap tanda keunikan ataupun sinyal untuk bisa dituliskan dari karya “rambut” yang akan di gelar di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) Menayu Kulon, kasihan Bantul-Yogyakarta, tetapi setelah detik awal dia menceritakan pengalaman di tempat kerjanya di pabrik rambut disinilah muncul keinginan untuk menuliskan.

Kesaksian dan Riwayat

Berkilo bahkan berpuluh ratus kilo helaian rambut tergeletak di lantai siap untuk dicuci, aroma tajam bercampur antara sisa kutu yang sudah membusuk dan kombinasi aroma bangkai layaknya bulu-bulu hewan piaraan yang begitu tak terawat…..tiba-tiba salah seorang kesurupan, dia mengucap kata dan kalimat yang tidak dimengerti oleh mereka yang juga turut memilah. Terucap bahasa China yang begitu fasih, tidak terbata-bata, seakan si pesakitan pernah belajar bahasa mandarin sejak kanak-kanak atau bahkan penggunaan bahasa china kuno yang mungkin saat ini bahasa itu sudah tidak dipergunakan lagi.

……belum selesai satu mengomel gaya mandarin, di seberang sana muncul dari salah satu pencuci rambut itu secara hampir bersamaan menarikan tarian gaya india yang amat sukar dan sesekali berucap bahasa asal tarian tersebut.

Suasana sempat gaduh sebentar, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena ada beberapa teman mereka yang mencoba menenangkan suasana, meredam dengan cara mengucap jampi-jampi/ mantra menggunakan bahasa jawa dan arab yang tentu sangat berlainan dengan apa yang terucap oleh mulut si sakit. Walau sangat berlainan toh! akhirnya satu demi satu dua kondisi rekannya mereda, terlihat begitu berkeringat, lelah, pucat, dan layu seakan telah menyelesaikan lari berkilo-kilo meter dalam waktu berjam-jam yang padahal di dalam kejadian sebenarnya hanya beberapa menit, tidak lebih dari lima atau bahkan tiga menit.

Tidak jarang bila maghrib tiba, suasana begitu senyap, memang tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan oleh alat-alat mesin sehingga gaduh dari denting dan dentangan antar logam-logam berminyak tidak terdengar, semua dikerjakan secara manual, kecuali degub dan detak jantung para penganyam rambut. Hanya suara-suara halus dari gesekan-gesekan antar helai rambut,……makin malam sesampai isya suasana begitu mencekam, kecuali tarikan dan hembusan nafas-nafas mereka yang teratur menjaga ketelatenan menjumputi helaian rambut yang sebagian tercecer, menganyam helai demi helai…..tidak asing lagi para pekerja malam tidak jarang dikejutkan oleh suara kakikaki telanjang yang sedang menyusuri lorong, ataupun bunyi dari lembutnya rambut terurai yang tersisir. Mereka tidak lagi harus merasa takut dari kejadian asam garam seperti itu, walau ada perasaan was-was, mereka hanya saling diam dan memandang antar teman sebangku untuk mengernyitkan dahi memberi sinyal bahwa, “ areke ..teko!” ( untuk menyebut kedatangan para arwah gentayangan ).

Helai demi helai dari seluruh yang terkumpul akan meriwayatkan darimana helai-helai itu sampai tiba di sini, atau dengan cara apa rambutrambut itu terpotong. Artinya bisa juga terpotong dari para mayat, baik mayat yang semasa hidupnya telah sudi/ rela menyerahkan rambutnya untuk diberikan/ dijual, atau dari para mayat yang mungkin terpaksa harus dipotong paksa karena ritual pemakaman/ kremasi tertentu, atau bahkan dari para mayat yang rambutnya “harus” dicuri untuk dijual atau dari para penjual rambut yang terpelihara.

Baik si empunya rambut memang harus menjual karena kebutuhan ekonomi yang pada kasus ini si pemilik pabrik rambut akan juga memberikan dengan “cuma-cuma” obat penumbuh rambut/ shampoo yang tentu di bulan-bulan berikutnya akan mendatangi kembali untuk memangkas membeli http://cialisfrance24.com rambut-rambut mereka.

Sehingga tidak heran helaian rambut-rambut itu mengutarakan kesaksian dan riwayat dari masing-masing dari mana berasal, terpotong dari rambut siapa, terpotong secara suka rela atau tidak, terpaksa atau dipaksa, baik rambut orang yang masih hidup atau rambut yang berasal dari mayat. Begitulah rambut tidaklah anonim, rekaman tiap rekaman menyembul keluar dengan cara, bahasa, dan karakter asal yang tentu berbeda.

Selamat bagi Arsdewo DP yang telah menggelar pameran Tunggal ketigakalinya di MDTL, setidaknya kita akan menikmati tatanan dan susunan gumpal-gumpal rambut itu tertata di suatu ruang pamer, atau kita akan lebih seksama menikmati rambut itu sendiri tanpa harus tahu wajah si empunya. Baik dari bentuk lurus, gelombang atau ikalnya, atau dari halus dan kasarnya, atau kepekatan warnanya. Silakan menikmati, tidak usah terjebak dalam ranah pertanyaan ini seni atau tidak seni, karena akan mengacaukan kenikmatan pribadi atas rambut dan hal-hal yang berkenaan dengan rambut.***

hari parajitno, perupa dan staf pengajar seni rupa STKW surabaya


K.B.R.I. + P.T.A.D.= F.E.

(Kerja Bersama Rambut Imajiner + Pameran Tunggal Ars Dewo = Feat Ebiet)

Oleh: Syalabi Ahmad Syalabi

Ars Dewo lahir di Bandung, memulai karir seni keliling bersama ‘young artists’ surabaya, jogja dan bandung sejak 1994. Pameran tunggal pertamanya ‘Di Sini Tidak Ada Siapa-siapa  tahun 2000’, diadakan di CCCL Surabaya. Sejak itu ia dikenal sebagai seorang yang memilih bermain instalasi. Sifat bermainnya muncul di pameran tunggal kedua tahun 2004 bertema ‘Berfikir dengan Hati Blank’di Galeri Surabaya. Di tahun yang sama ia bergabung di program ‘Travel’ pameran 33visualartistclub Surabaya di Jogja kidul, tepatnya di Rumah Seni Muara yang dikelola ‘arek-arek’ Palembang, Pameran ‘club’seni rupa ini bertema ‘HRLEWAPRBVHBLVSSP..’ menggunakan berbagai media campur yang dikurasi oleh Kuss Indart dan di buka oleh Ugo unt.. (klop kan?) ini sedikit cerita saja dan intro tentang teman yang pernah kuliah di STSI Bandung dan artist residensi di Universitas Fukuoka Jepang…

Kini, jogja dipilih khusus untuk pameran tunggal berikutnya.. (selamat y bro..) pameran yang diadakan di Museum Dan Tanah Liat [MDTL] Yogyakarta ini, sangat berhubungan dengan tempat ia bekerja, Ide ini juga bukan baru atau terburu karena bertahun-tahun ia memang bekerja di pabrik wig  hingga harus residensi ke india dan amerika alias kunker atau study kelayakan rambut dan pembutuhnya. Lantas apa yang akan membedakan rutinitas dunia kerjanya dengan pameran tunggalnya kini? Tampaknya rambut menjadi subjek aneh untuk sebuah pameran seni. Marilah kita coba dulu membayangkan rambut, bulu, rambutan, mahkota dsb dsb..

keluarga Besar Rambut Imajiner [KBRI]

Perbedaan mitos/makna rambut dan sebagainya menjadi cara untuk memulai memahami isi pikiran/tema/KBRI. Itu rasa ingin tahu sejarah mengingatkan kita bahwa rambut selalu erat terjalin dengan hal-hal keindahan dan gaya dandan.

Pertama, Rambut hampir mirip dengan seni.. simak saja percakapan seorang backpacker domestic kepada malioboro-man yang nongkrong sehabis ngamen di depan gedung DPR tahun 90-an. “Mas, cara manjangin rambut itu gimana ya?.. Nglukis sing apik piye Mas?”. Jawabnya hanya, ”di nengke wae, dowo-dowo dewe..” cukup realistik! gak ada jurus khusus, seperti shampo metal, herbal maupun tehnik khusus. Selama masih ada kehidupan semua pasti tahu akses yang menuju ke rahasia jawaban eh jaman. Rambut-seni terus tumbuh-tahan lama, suwi-suwi apik-apik dewe.. Tapi suwi! Tapi apik! kecuali yang nggak..

Kedua, Rambut dan bulu jelas berbeda bukan hanya karena dimana tempat tumbuhnya, seperti pada orang atau unggas dan ulat bulu, tapi jelas  pada kemampuannya bisa tumbuh panjang terus-terusan tidak mandek pada batas fungsi. Ini yang membedakan bulu dengan rambut. Bulu kita misalnya hanya terdapat pada daerah hidung, kening, dada, kaki-tangan, ketiak, tidak sama dengan rambut yang bisa panjang dan berubah-ubah jenis; mulai lurus ngombak jadi keriting atau sebaliknya. Namun pada pengecualian istilah ‘bukan rambut bukan bulu’, dinamai; kumis, jenggot hingga kumis-jenggot bagian ‘bawah’ alias pubis yang identik usia Baliqh.

Ketiga, ‘rambutan’ semua tahu sebagai nama buah-buahan. Tapi kenapa ada cewek yang membuat teka-teki visual-verbal begini,“apa beda tahu bacem dengan pantat item?”. Ternyata keduanya memang berbeda meskipun sama-sama empuk ya? Coba kalau keduanya kita balik bersamaan; tahu dibalik ya tetap tahu, tapi kalau pantat di balik..  jadi buah-buahan.. aneh.. tapi exhibionist lebih tahu itu? Anggapaeseni.. dekat pipa air..

Ke-empat mahkota, istilah ini kalau dihubung-hubungkan banyak sekali artinya.. bisa tiara kecantikan, bisa tutup kepala raja atau kepala gayus sebagai tanda kuasa, bisa nama toko atau tempat usaha, bisa keperawanan atau kehormatan, misalnya pada kalimat ‘mahkotanya direnggut buaya..’, bisa juga lambang gambar yang di sukai oleh seniman-Mas Basquiat, bisa juga crown atau tema pameran ini dan sebagainya dsb.

Kelima atau dsb, kita, budaya semua tahu tentang sanggul, konde, wig; semir pirang, poni Beatles, kribo jimmy Hendrix, gimbal Rastafarian, duri-Punk celupan, dan eksistensi rambut yang luar biasa hingga hari ini, sama saja skin head atau gaya kojek filsuf foucault, memiliki rangsangan tertentu. seperti wig yang bersifat kosmetik mudah digonta-ganti layaknya baju menjadi pandangan yang ‘mencuri’ mata pengamat jadi sedikit mikir sambil mbatin. Inilah betapa peninggalan orang mati dapat diubah menjadi benda-benda populer seni dekorasi dari waktu mereka, dengan ingatan seni terkini. Helai demi helai..

Yang terakhir, rambut seperti zat fisik yang dapat di-inventariskan ke-panca indera serta seksualitas, apalagi sudah di-instal atau di-pasang-pasang, siap dipahami sebagi yang lain dari definisi diatas. Semua siap dinikmati secara rileks, lebih individu seperti ‘keinginan tersembunyi’ rambut imajiner yang mengeksplorasi makna pribadi, psikis, jarahan sejarah, spiritual, kenangan, kerinduan, serta pelepasan sebagai mana orang menghabiskan waktu menyisir-nyasak, mengecat, memotong, mencabut, dan mencukur rambut hingga dibentuk ornament, tulisan, gambar partai atau kesebelasan kebanggan pacarnya.. (hla..)

Demikian, rambut menawarkan titik-titik segar yang sempurna untuk bisa mengingat topik penting dalam seni kontemporer-termasuk gender dan seksualitas, ras dan perbedaan budaya, citra mediasi, konsumerisme dan mitos pribadi khusus. Pada pameran ini saya yakin ‘rambut’ dapat bercerita secara visual dan verbal menampilkan teks yang berurusan dengan tubuh dengan isu-isu fluktuasi, campuran seni instalasi yang menjelaskan semua hal-hal biasa dengan merespon ruang dan tubuh yang mampu mengubah kebiasaan, baik yang nyata dan fiktif. Mungkin berupa wig, mix media, potong-potongan atau hanya di  gantung, di suwir-suwir ditenun, menjadi sejarah keluarga rambut dan mengambil bagian dari semua ketegangan, keintiman, emosi dan doa yang berputar melalui kehidupan berkeluarga bahkan pengalaman dipabrik wig tempat ars bekerja, siapa tahu? Ebiet G Ade mengingatkan kita mengenai seni instalasi ‘rambut’ lewat lagu ‘Biarlah Aku Diam’:

Bahkan pernah kucuri, sehelai rambutnya                                                                       Aku tanam di depan pintu, jelas ada maksudnya                                                             Setiap hari aku langkahi, agar dia yang terjerat                                                         Dalam bayang-bayanganku..

Museum of Mind [MoM] artspaciousness, 19 mei 2011

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


One Response to ““The Crown” – ARS DEWO DePe”

  1. agus says:

    sukses ars…

Leave a Reply