Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Aku = Subjek!” – Joko Toying
poster
Start: Saturday, January 24, 2009 at 19:00 WIB
End: Saturday, January 31, 2009 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Dusun Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55b Tirtonirmolo, 0274 - 7448911
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

Eksplorasi gaya dalam melukis bisa terjadi ketika muncul kejenuhan dalam berkarya atau bisa sebagai pengembangan diri untuk penambahan wacana, atau bahkan karena konsekwensi terhadap pasar. Berbagai latarbelakang tentang kehidupan bisa mempengaruhi saat berkarya.

Di studio Joko Toying terdapat beberapa karya patung realis, lukisan abstrak, dan karya lukis terbaru dalam bentuk figure. Yang akan dipamerkan adalah karya lukis figure yang terbaru.

Ketika membuat patung, Joko Toying terasa sangat detail dan realis sekali, patung dalam bentuk tubuh wanita diciptakannya dalam ukuran 1 meter, sangat sempurna bentuk dari lekuk tubuh patung tersebut. Saat melihat lukisan abstrak yang biasa di buatnya terasa sangat jauh sekali dengan patung realisnya, dan ketika melihat beberapa lukisan figure yang terbaru, karya lukis figure Joko Toying kuat, sehingga kita bisa merasakan tentang banyaknya tehnik dalam berkarya yang di miliki oleh Joko Toying.

Dalam pameran tunggal saya =subjek di MDTL ini adalah semangat baru dari Joko Toying tentang eksplorasi gaya dalam melukis, nilai-nilai filsafat sering disertakan dalam bentuk tulisan di lukisannya, nilai-nilai itulah yang sering di bicarakannya sehari-hari.

Perjalanan berkarya Joko Toying menunjukan banyak menguasai kemampuan beragam  dalam berkesenian, perbedaan gaya ketika berkarya tidak hanya terlihat sebagai pencarian bentuk semata, nilai-nilai filsafat yang sering di bicarakan itu yang menyatukan dari karya-karya yang dibuatnya dan membuat karya tersebut mempunyai kekuatan sebagai karya Joko Toying, dan yang terpenting keberanian bereksplorasi adalah berdasarkan pada pendalaman gagasan, bukan karena kebutuhan pasar semata.

Selamat berpameran.

Yoyok MDTL


Melukis, Merepresentasi Hidup: Joko Widodo

Tahun lalu ketika melayat almarhum Sri Sumarsih – seorang pelukis – di Surakarta saya bertemu dengan Joko Widodo seniman yang oleh beberapa temannya di Yogyakarta akrab dipanggil Joko Toying. Ia datang melayat, duduk bersebelahan dengan Narsen Afatara dan Ari Sugiarto. Sudah bertahun-tahun tidak bersua dengannya sejak ia kembali tinggal di Surakarta, kota kelahirannya, menunggui ibunya yang menderita stroke sampai sekarang. Joko Toying dikenal trampil, order-order yang diserahkan kepadanya dikerjakan secara baik dan serius. Ia pernah membantu beberapa seniman terkenal dan kelompok usaha utuk membuat karya fine art atau pun projek komisi, diantaranya: Heri Dono, Ivan Sagito, Samsoel, Gunawan Galeri Gajah, Samsoel Grup, dan Gatot Seniman Merdeka. Joko Toying telah mengeksekusi beberapa konsep untuk dijadikan karya jadi, dari yang naturalis, instalasi, patung surrealis; juga meng-copy lukisan dari beberapa perupa kondang macam Vincent van Gogh, Gauguin, Manet. Bahkan terkadang order yang diberikan kepadanya hanya sebuah ide dengan satu konsep tertentu, dan ia mampu mengerjakannya sampai jadi. Ia mengerjakan sendiri visualisasinya, sketsa, pembentukannya, sampai finishing. Bukan main trampilnya.

Saat bertemu dia saya langsung teringat dengan sebuah ide untuk membuat sebuah salib besar yang ekspresif dari kayu jati untuk disumbangkan ke Gereja Maria Asumpta, Gamping, lantaran dua jari tangan patung tubuh Yesus yang tergantung pada salib hilang dua. Dapat diduga diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 yang memang membuat kerusakan yang cukup parah terhadap bangunan gereja. Rencana itu saya paparkan pada Joko Toying, tidak terlalu serius, bahkan saya katakan secara sambil lalu. Tidak terlalu lama setelah itu Joko meng-sms saya, menanyakan apakah jadi merealisasi rencana itu. Tidak cuma itu, ternyata ia sudah membuat sketsa dari lempung dan sudah survey kayu jati tua yang bisa didapatkan di penjual kayu glondongan di Solo. Dengan persiapan yang sudah matang itu saya tidak bisa mengelak. Langsung saja saya iyakan, dengan catatan dananya ‘pelan-pelan’, dicicil, karena saya belum pernah rembugan sama sekali dengan orang-orang yang bisa saya mintai bantuan.

Hanya beberapa hari dalam hitungan jari Joko Toying sudah berada di Yogyakarta, numpang tinggal dan kerja di studio Pahlevi – pelukis dan rekannya ketika dulu masih membantu pak Gunawan mengcopy karya-karya maestro – di dekat Ring Road barat Yogya, lalu pindah ke studioTeguh di daerah Gancahan. Joko Toying tidak cuma mempersiapkan tenaga fisik dan mengerahkan kemampuan artistry-nya bekerja, namun ia pun mengondisikan mentalnya, menyesuaikan dengan projek yang dikerjakannya. Ia sesekali menjalani puasa, tidak makan dan tidak minum dari jam 6 petang sampai jam enam petang esok harinya. Ia ingin merasakan subjek yang direpresentasinya dalam bentuk patung. Pada waktu itu saya tidak terlalu memikirkan perihal puasa dan tentang siapa dia sebenarnya. Dalam suatu kesempatan bincang-bincang dengan dia, dituturkan bahwa menurut ingatan tradisional keluarganya, salah satu leluhur Joko Toying adalah empu Supo – pembuat keris terkenal di Surakarta, yang salah satu karyanya menjadi pusaka Kraton Kasunanan Surakarta. Secara intuitif Joko Toying mengatakan bahwa patung yang dikerjakan akan memakan waktu 3 bulan, dan memang benar ia dapat merampungkan garapannya kira-kira 3 bulan. Patung itu masih saya simpan sebab saya masih menunggu kesempatan, ijin, dan pendanaan operasionalnya.

Ketrampilan teknis membentuk Joko Toying sudah teruji dalam berbagai pekerjaan dari sejumlah seniman. Ia dapat membentuk secara naturalistik. Namun kalau ia bekerja untuk diri sendiri – melukis atau drawing – ia cenderung membuat tampilan-tampilan visual abstrak. Terkadang abstrak sama sekali. Tak berbentuk dan tak ada materi subjek yang langsung dapat dikenali. Padahal sketsa dan kemampuan membentuk secara visual kuat sekali. Beberapa orang yang saya tanya tentang karya Joko nan sangat abstrak menjawab dengan nada sedikit gregetan, atau ‘kesal’, seakan mengatakan ‘Gak tahu kenapa ia tidak mengemukakan kemampuannya mensketsa dan skill drawingnya yang kuat. Bahkan seorang rekannya, Budi Suwung, yang suka membuat span lukisan, mengatakan bahwa Joko Toying sering kalau ‘kejeron’ / terlalu dalam manakala mengonsep dan membayangkan ide-ide seni karyanya. Maka sebelum masuk ke karya dia ada bagusnya kita tengok biografi dan perjalanan seni Joko Toying.

Joko Widodo dilahirkan pada 29 April 1962, di Surakarta, di Rumah Sakit yang sekarang bernama RS PKU Muhammadyah Surakarta. Dibesarkan di daerah Timuran, 500 meter di sebelah barat Keraton Mangkunegaran. Belajar di SD Kanisius Srengan, Solo. Lalu melanjutkan ke SMP 11 Solo, kemudian belajar seni di SMSR Yogyakarta mulai 1979 sampai 1983. Lebih dalam lagi tentang kesenirupaan ia belajar di ISI Yogyakarta pada 1983 dan baru lulus 13 tahun kemudian, yakni 1995. Sebelum selesai dari ISI Yogyakarta ia pernah bekerja dengan Samsoel Hadi dalam SAMOEL GRUP dari 1983 sampai 1985. Lepas dari itu ia langsung berkarya dalam kelompok SENIMAN MERDEKA yang dipimpin oleh Gatot Drajat, membuat baliho yang pada era itu mewarnai landscape Yogyakarta.

Kemampuan melukisnya diperdalam ketika (1991 – 93) ia bekerja membantu pak Gunawan dari Gajah Galeri di Kranggan Yogyakarta, meng-copy karya-karya sejumlah tokoh Seni Modern, diantaranya: Vincent van Gogh, Paul Gauguin, Paul Cezanne, Degas, Pissarro, Matisse, dan maestro-maestro Impresionisme lainnya. Dari pengalaman inilah ia belajar tentang kedalaman, mengenai pencahayaan dalam melukis. Ia sangat terkesan dan terinspirasi oleh kekuatan garis Vincent van Gogh, yang menurutnya berirama, punya taksu, dan hidup. Yang menarik, kerja meng-copy ini dikerjakan secara cepat, setiap karya berukuran berkisar 60 x 50 cm2 harus harus selesai satu hari, dan dieksport sebagai souvenir di sebuah galeri atau art shop di Eropa. Waktu itu honor meng-copy karya adalah Rp 15.000,00, dan masih cukup untuk beaya studi dan hidup. Sebagai perbandingan dulu kalau makan siang berlauk mewah yang mengenyangkan dengan hanya membayar Rp 2000,00. Yang lebih penting dari itu, adalah kesempatan bertemu dan berbincang-bincang mengenai seni dengan pelukis Rusli yang kebetulan sahabat pak Gunawan dan pelukis Kun Hartadi.

Ada beberapa ucapan Rusli yang tetap bergaung dalam ruang kratif berkesenian Joko Toying, diantaranya:

“Seniman harus masuk ke dalam subjek yang mau dilukis, misalnya ketika melukis hujan ia harus merasakan hujan itu sendiri, atau benar-benar mengalami hujan-hujanan langsung, sehingga punya penghayatan yang nyata.”

Dalam kesempatan lain ia mendengar Rusli berkata: “Kalau kamu mau jadi

pelukis, jangan jadi kata siapa-siapa, tetapi jadilah menurut katamu sendiri.” Ia masih mengingat segar kupasan Rusli mengenai pembuatan gong dari seorang pembuat gamelan yang menurut Rusli setaraf maestro, karena ia bisa membuat gong sampai mencapai tahap seninya, bisa menyetel akurat dan menirukan suara gong dengan baik sekali. Ia tahu kurang dan pas-nya. Ucapan Rusli yang mengatakan bahwa ia tidak punya konsep apa-apa, sebab konsep hanya membuat orang jadi tukang sangat membekas dalam pikiran Joko Toying. Teknis yang penting dalam melukis menurut Rusli sebagaimana yang ditangkap Toying adalah: perkara teknis memegang kuas, mengolah warna, dan aksi menggoreskannya. Secara garis besar yang ditangkapnya dari Rusli adalah prinsip bahwa orang harus kembali pada keyakinan diri sendiri. Orang harus mempercayai dan mau mendengarkan suara bathinnya, dan berani mencari sampai inti seninya.

Semasih studi di ISI Yogyakarta ada keharusan bagi mahasiswa Seni Lukis untuk mencari identitas dan merumuskan pra-konsep. Tugas ini gampang-gampang sukar. Ada orang yang mudah menemukan, ada yang memerlukan waktu yang panjang menemukannya, dan ada yang tidak menemukan sama sekali sampai ia keluar dari bangku studi. Menurut paparannya, pernah suatu kali ia berjalan-jalan santai, dan ia memandangi bayangannya sendiri yang juga bergerak sesuai dengan jalannya. Bayangan itu sangat tajam, jelas garisnya, bisa dilihat kontrasnya antara bayangan dan latarnya. Namun subjek yang membentuk bayangan itu tidak pernah jelas. Subjek itu, apapun selalu bergerak dan berubah, secara eksternal dan internal tidak pernah sama, mengalir realitanya. Bayangan dan benda yang membentuk bayangan itu tak pernah tidak menyatu. Semua adalah elemen apakah ia nyata atau maya. Bayang-bayang, garis, manusia, pohon, binatang, tulisan, benda apa saja adalah elemen. Elemen-elemen ini bisa disusun, dirangkai, atau dianyam, dijadikan apa-apa. Salah satu karyanya yang sangat baik mengilustrasikan konsep itu adalah lukisannya yang berjudul Ukuran, kira-kira 190 x 120 cm2, secara keseluruhan materi subjeknya adalah sesosok figur terbentuk dari elemen-elemen garis yang dibentuk dinamis dari garis-garis yang bebas, ekspresif tak terhalang, mengalir begitu saja. Ia tak mau terikat dengan keharusan membuat ini atau itu, tak peduli apakah itu abstrak, simbolis atau realis. Tak pula ia hiraukan apakah estetikanya itu modern, kontemporer atau kuno, yang ia pikir dan tuangkan adalah rasa dan penglihatannya atas pikiran dan feelingnya yang terus bergetar dan bergerak ke mana-mana itu.

Dalam berkarya seni orang boleh memilih apa saja untuk dinyatakan lewat materi subjek karyanya. Joko cenderung menyoroti dan memilih ruang-ruang gelap kehidupan, merenuni mimpi-mimpi buruk, dongeng-dongeng yang tidak masuk akal, suasana-suasana yang nglangut nun jauh disana, sering kali ia berfikir dan membayangkan berada dalam suatu labirin yang membingungkan karena terlalu banyak jalan pintu yang sama, namun menyesatkan. Ketika melukis bagi diri sendiri ia justru bertanya hal-hal yang kompleks yang sukar dijawab, ini sangat berbeda dari manakala ia mengerjakan projek untuk orang lain – bisa praktis dan operasional langsung ke sasaran. Benar juga pendapat Budi Suwunk yang mengatakan bahwa Joko sering telalu dalam mikirnya. Memang demikian lah halnya. Namun sekarang nampaknya ia lebih agak realistik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ketika ia masih terlalu asyik mereka-reka dengan dunia mistik yang bukan melulu immaterial, namun aneh-aneh. Dapat dimaklumi, ia dulu gemar membaca buku-buku spiritualisme dari berbagai budaya dan mazhab.

Lepas dari kecendurungan-kecenderungan subjektif itu, Joko punya banyak stok ide dan konsep yang kalau dipaparkan mengejutkan. Pernah ia membuat lukisan yang idenya berasal dari insight (penglihatan bathin) dia, yaitu tentang pintu. Dalam imaginasinya di balik pintu masih ada pintu, dan masih ada pintu lain dibaliknya lagi, dan dibalik berbagai lapisan pintu itu ada Aku – Guru Sejati. Ide-ide dan konsep-konsep seninya yang kompleks membuat karyanya hanya dipahami oleh segelintir orang. Walau menyadari konsekuensi yang terjadi Joko tidak kompromi dan bersiteguh dengan estetikanya yang khas. Sehingga, sampai salah seorang sahabatnya – Syamsudin – berkata terus-terang: “Jok, di tengah panen raya, kamu sendiri lah yang tak pernah panen.” Saking ‘kesalnya’ tentang keabstrakan dan ketidakkompromian Joko sahabat itu menyarankan kepadanya: “Jadilah Koran Kompas Jok, artikelnya berat, tetapi tetap bisa dibahasakan dengan bahasa popular dan baik.” “Kamu gak ada bedanya dari lukisanmu”, tambah sahabat yang kebetulan seorang jurnalis.

Mengenai pendapat Syamsudin itu saya bertanya kepadanya: “Kamu setuju gak Jok dengan pendapatnya itu?” “Saya tidak setuju sama sekali”, jawabnya. “Saya masih melihat ada celah lain, dan percaya ada jalan keluar melalui celah itu”, tambahnya.

Kini pola warna lukisan Joko agak sedikit berbeda, lebih terang, ia memilih ide-ide yang membuatnya bisa agak konstruktif, misalnya lukisannya yang diilhami oleh satu bacaan yang pernah diakrabinya, yaitu yang dipetik dari Yohanes 13: 4-14, yang menuliskan peristiwa ketika Yesus hendak membasuh kaki kedua belas muridnya, dan waktu itu Petrus menolaknya sebab ia merasa tidak pantas kalau kakinya dibasuh oleh Yesus sendiri.

Karyanya yang berjudul Meditasi Batu, melukiskan sejumlah batu yang disusun secara vertikal. Batu-batu itu adalah metaphor dari buku-buku yang pernah dibacanya, dan yang telah mewarnai buku-buku hariannya yang sudah mencapai 47 buah berisi berbagai suka-duka dan refleksinya atas kehidupan nyata yang dialaminya sampai sekarang, baik yang menyangkut dirinya maupun orang lain, seperti: kemelut minyak tanah dan gas yang semakin hari semakin tidak jelas; perkara kesenian, dinamika dunia seni lukis yang ternyata berjalan begitu kompleks, tidak linier.

Lepas dari berbagai permasalahan yang tidak linier itu, gairah berkesenian Joko tak pernah surut. Ia bahkan berkeyakinan bahwa kesenian itu adalah kehidupan. Ia nyata dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan kongkrit keseharian. Melukis adalah upayanya menerjemahkan pemikiran dan cita-citanya secara visual, atau laku spiritualitasnya yang divisualkan. Kemana orientasi dan kejelasannya ia tidak tahu pasti. Tugasnya adalah mengikuti rasa dan pikirannya yang terus bergerak kesana-kemari, dan menghadirkannya secara baru dari waktu ke waktu mengikuti intuisinya yang juga terus mengalir dan diasah oleh situasi sehari-hari.

Yogyakarta, 17 Januari 2009

M. Dwi Marianto


A K U    S U B J E  K !

K A B A R    B U R U N G    D A R I    N E G E R I      K O N T E M P O R E R

TRILOGY TERAKHIR

Kalau kita mengikuti pameran tunggal Joko ‘Toying’ Widodo (barangkali satu-satunya pelukis yang tak pernah pameran bersama),sejak ‘Sapujagad’ di teras space Timbul Raharjo,Kasongan;lalu ‘Talijiwa’ di Lembaga Indonesia Perancis,Jogjakarta;dan karya-karya pameran tunggalnya kali ini,menjadi fenomenal karena adanya benang merah dari ketiganya meskipun masing-masing bisa lepas dinikmati sendiri-sendiri.Pada Sapujagad menjadi gambaran bagaimana seorang pendekar turun gunung melihat huru-hara,kegaduhan dan kekerasan dan sanggup menyelesaikan semuanya karena ajian pamungkasnya Sapujagad.Seperti Musashi menebas musuh dengan pedang tajamnya,sang musuh kelihatan tak ada luka sedikitpun,tak ada tetes darah;tapi ketika musuh roboh ke tanah baru ketahuan bahwa tubuhnya terbelah dua.Talijiwa merupakan periode pencerahan meditatif sang jagoan di goa gemblengan dan menimbulkan energi dahsyat dari dalam jiwanya, sehingga musuh yang dihadapi dengan pedang kayu belum diserang sudah lari terbirit-birit.Sedang pada ‘Aku Subjek!’ kali ini tak lagi menjadi masalah apakah musuh akan terbelah oleh pedang tajam atau terbirit hanya karena pedang kayu,tak lagi menjadi masalah menang atau kalah.Dalam konteks tasawuf, Sapujagad adalah syariat, Talijiwa adalah hakekat sedang Aku Subjek! adalah ma’rifat.Jadi Aku Subjek! adalah kesadaran ketiga dimana manusia kembali sebagai manusia, dimana pakaian-pakaian kesenimanan,jabatan,derajat tak ada artinya.Manusia kembali berhadapan dengan manusia yang lain sebagaimana manusia diciptakan Tuhan, sebagaimana di kehendaki Tuhan.Kesadaran ini dalam pewayangan hanya dimiliki oleh Werkodara,coba kita lihat bahwa wayang sekothak, hanya Werkodara yang mampu menemukan jati dirinya,mampu menemukan Tirta Panguripan (air kehidupan).

Penjelajahan Joko Widodo melukis sebagai proses bukan sebagai hasil akhir, bukan masalah bagi Joko Widodo lukisannya dikatakan modern,postmo,atau kontemporer. Apa yang ditempuh Joko,dengan kesadaran ketiga,pada akhirnya bisa  membuka jalan bagi kemungkinan kreatif yang bisa dijelajahi seni rupa Joko.Bagaimana Joko memperlakukan yang real dan non real menjadi ringan bukan menjadi beban. Boleh jadi satu kanvas adalah lukisan real,di kanvas lain non real,bisa jadi pula dalam satu kanvas yang real dan non real jadi satu tidak bertentangan.Tapi Joko cukup mampu menjadikannya sesuatu yang wajar,saling berdialog,tidak saling mengalahkan. Joko Widodo meletakkan yang visual dalam kanvas tidak semata-mata sebagai sebuah cara untuk menggambarkan kenyataan, tetapi menciptakan kenyataan. Ini jelas berbeda dengan kecenderungan trend kontemporer yang berpretensi ingin dipahami bahwa yang visual sebagai kenyataan itu sendiri.Inilah yang sering disebut Joko dalam dialog-dialognya dengan penulis sebagai kenyataan mutlak.

Disinilah bertemuanya muara sikap avantgardisme dalam seni rupa Joko Widodo serta insight merupakan bagian intergral kebangkitan kontemporer yang menunjukkan kepercayaan individu dan jiwanya sebagai pusat kehidupan yang membangun sikap kritis pada stagnasi kondisi seni rupa,menciptakan progres dan membuat penemuan genius.Kepercayaan yang dibangun dari sikap avantgardisme dilandasi kesadaran ketiga sebagai kenyataan mutlak mencerminkan sikap kecurigaan pada (kebodohan, dominasi) trend kapital kontemporer.

Dalam bekerja (berkarya rupa) Joko Widodo berkecenderungan ekspresif,dan tak pernah berhenti pada style atau sekedar gaya.Kecenderungan Joko Widodo menjadikannya realitas yang lebih luas, tidak hitam putih,tidak memihak,tidak mempertentang kan.Teks rupa Joko Widodo dalam karya-karyanya sebagai cerminan gejolak emosi yang bertenaga sebagai representasi ketegangan individu dan trend visual yang berlangsung.Interaksi antara ketegangan  teks rupa Joko Widodo dan trend visual (kolektif) kontemporer yang berlangsung menjadikan transmutasi energi emosi yang mendesak dari alam bawah sadar menjadi simbol-simbol pribadi Joko Widodo. Energi alam bawah sadar ini memiliki potensi kreatif dan juga destruktif (mirip sikap avantgardisme). Teori seni rupa tak bisa menjelaskan gejala ini (ketegangan individual dan kolektif),barangkali kita bisa memakai pemikiran Carl Gustav Jung.Alam bawah sadar kolektif merupakan tumpukan pengalaman manusia secara kolektif dalam lingkup budaya tertentu tentang hal-hal mendasar (kelahiran, kematian, takdir, ancaman, etika kebersamaan, survival, ketakutan, kecemasan dan sebagainya) yang mengalami represi (ditenggelamkan ke alam bawah sadar) atau mengalami supresi (hanya tersembunyi di alam bawah sadar dan bisa diaktualkan ke alam bawah sadar). Alam bawah sadar kolektif merupakan sumber utama kesadaran manusia dan mempengaruhi ego yang merupakan pusat kesadaran individualitas sebagai totalitas perilaku manusia (kebaikan, kejahatan, daya pikir, sensasi, intuisi, insting, kesadaran, ketidaksadaran dan sebagainya).

Coba kita lihat karya Joko Widodo (semuanya dibuat tahun 2008) Ukuran,dengan latar belakang biru langit yang manis, sosok manusia (JW?) dengan goresan-goresan vertikal putih dan tangan kiri muncul bentuk real serta meteran kain (biasa dipakai penjahit). Barangkali ini gambaran bahwa Joko Widodo mulai berani memakai ukuran – ukuran real dalam menyikapi dirinya sebagai manusia sekaligus sebagai seniman.

Sebagaimana pernah dikatakannya bahwa dirinya pengin membuat painting (dengan tata nilai akademis jadinya),tapi painting yang mencipta kenyataan bukan untuk diakui sebagai kenyataan.Pada karyanya Meditasi Buku,dengan warna monokrom setumpukan buku ditata tak teratur (mungkinkah?) sampai puncak muncul satu wajah (JW?).Inilah sosok Joko Widodo sebagai intelektualitas yang mempunyai daya kritis terhadap lingkungan (seni rupa) yang mengalami stagnasi pada kapital kontemporer. Hal ini perlu dikritisi dengan karya-karya Joko Widodo (sebagai perupa) yang begerak dengan naluri dan daya pikir.

Kepedulian Joko Widodo terhadap lingkungan kolektif tak hanya terhadap kesenian (seni rupa), tapi juga pada lingkungan alam global.Karyanya Padi Hitam melukiskan visual goresan-goresan warna hitam vertikal dengan kwas dengan brushstroke kuat. Isyu global warming nampaknya juga sangat mempengaruhi Joko Widodo. Bahwa kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2),metana (CH4),Nitrogen Oksida (NO),gas pendingin (CFC) serta rusaknya hutan dan hilangnya fungsi hutanlah alasan Joko Widodo melukiskannya (kerinduan padi kuning nantinya, katanya). Bahkan sepuluh tahun lagi Jogjakarta akan terjadi hujan asam karena padatnya kendaraan bermotor membuatnya prihatin.Tanda-tanda rusaknya alam oleh tingkah manusia semakin jelas,mencairnya es di kutub utara dan selatan,meningkatnya level permukaan laut,perubahan iklim (anomali) yang semakin ekstrim, gelombang panas semakin ganas dan habisnya gletser sebagai sumber air bersih dunia. Gambaran itu semua cukup kuat digambarkan Joko Widodo lewat karyanya Padi Hitam, efek akhir dari anomali alam adalah kelamnya kehidupan manusia dan alam nantinya.

Untitled merupakan karya yang kuat dan penuh energi religiusitas, sesosok manusia laki-laki (lagi-lagi JW memakai dirinya sebagai model) menunduk, dengan pasu (baskom) pembasuh kaki, ada teks :…sampun naming kaki paduka ingkang pun basuh Gusti! nanging sekujur badan paduka…(jangan hanya kaki paduka yang dicuci Gusti ! Tapi basuhlah seluruh tubuh paduka), Yoh :13:4-11.Dalam falsafah Jawa inilah manunggaling manungsa lan Gusti dimana dialog Joko Widodo sampai pada ma’rifat,hilangnya paradigma Tuhan dan manusia. Ronggowarsito menerangkan ini sebagai filsafat Widyatama dalam kitab Pustaka Purwa Raja yang terdiri dua bagian.Bagian pertama mempersoalkan kawicaksanaan (kebijaksanaan,kearifan) dan bagian kedua mempersoalkan widyantara (pengetahuan tentang kehidupan sebagai dasar pendidikan dan ilmu pengetahuan). Pada bagian pertama widyatama Ronggowarsito menguraikan equilibirium dalam kehidupan yang  berpusat pada Tuhan.Berkaitan dengan equilibirium Ronggowarsito menerangkan seluk beluk ibadah yang melibatkan aspek fisik dalam kehidupan (aspek lahir), aspek kejiwaan dan spiritual (aspek batin). Diuraikan tentang kecenderungan manusia mengejar kesempurnaan melalui renungan trasendental. Kesempurnaan ini disebutnya ‘rasa sejati ‘ yang menyatu dengan Tuhan.Kesadaran akan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan ini menerangkan akan kenyataan mutlak, antara teks rupa dan teks religiusitas saling menerangkan.

Aku Subjek! barangkali bisa menjelaskan posisi Joko Widodo ditengah posisi sebagai individu dan kolektifitas serta individidu religiusitas dengan Tuhan.Aku Subjek! menggambarkan sosok manusia (Jelas Joko Widodo) yang menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.Joko Widodo telah banyak melihat dunia,Big Booming 2007 yang mencari pelukis-pelukis muda didengarnya, teman-temannya menjelajah dunia (terutama Singapore-Beijing) Joko Widodo tahu,adik-adiknya harga lukisannya melambung menembus angka milyaran mengikuti trend Beijing pun dia mahfum.Ukuran untuk disebut sebagai karya kontemporer menjadi sempit dan picik menjadikannya penuh duka.Semua yang didengarnya dari negeri kontemporer,semua yang dilihatnya dari dunia global baginya adalah Kabar Angin yang didengar tapi tak perlu disikapi serius. Karena baginya persoalaan seni rupa adalah persoalan penciptaan,persoalan daya kreasi, persoalan kesadaran dan memahami kenyataan mutlak.Pada Aku Subjek! inilah muara karya-karya Joko Widodo,ia memahami dunia luarnya tapi tak terlibat. Ia memahami dunia dalam tapi tak memaksakan untuk difahami,ia bersahaja saja. Mampu menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya (kawicaksanan) dan memahami sesuatu sesuai kenyataan sesuatu sebagai ilmu (widyantara).

Pameran tunggal Joko Widodo yang terakhir ini AKU SUBJEK! barangkali akan menjawab persoalan-persoalan yang kita rasakan bersama selama ini.

Bahwa :

1. Langkanya kesadaran terhadap penghayatan akan ruang jiwa dan semakin derasnya intuisi kreatif disadari sebagai arus besar karena serbuan tanda-tanda visual lewat aktualisasi ruang teknologi informasi,media massa,menjadi komoditas karya seni. Maka karya seni butuh diperjuangkan sungguh-sungguh untuk menjadi miliknya sendiri.

2. Konspirasi antara para pemegang hegemony kebudayaan dengan politik kapitalis untuk memanipulasi citra-citra visual yang telah selesai di Eropa dan Amerika dan berusaha mempercepat lahirnya Eksotika Baru dengan menjadikan Asia sebagai ruang kerja manipulatif.Maka lahirnya percepatan industri seni rupa Asia (Beijing-Jogja) harus disadari dan tidak menjadikan kita lupa diri.

3. Kenyataan mutlak yang merupakan harmony dari kesadaran arif dan kesadaran akan ilmu pengetahuan didasari religiusitas penting untuk memahami lingkungan kolektif dan keluar dari persoalan dengan ide dan kerja genius.

Diantara karya AKU SUBJEK! terselip empat karya drawing dengan karya berjudul IBU yang cukup kuat.Karya ini dikerjakan di atas kanvas dengan di blok warna hitam kemudian dengan alat tajam dan runcing Joko membuat goresan-goresan drawing di atasnya.Lahirlah drawing yang unik dengan obyek ibu yang sangat kuat goresan dan arsirannya.Karya ini bak film negatif hitam putih di era photografi pra digital. Inipun kembali menguatkan prediksi bahwa Joko Widodo tak pernah bermain-main dalam karya-karyanya.

Pada akhirnya yang patut dicatat dari Joko ‘Toying’ Widodo adalah karyanya bukan sekedar aesthetica yang cuma menunjuk kwalitas rupa (visual appearance) tapi merupakan sikap memahami kenyataan dan menciptakan kesadaran baru, bukan untuk difahami sebagai kenyataan itu sendiri. Selamat kepada Joko ‘Toying’ Widodo, berkarya dan berkarya !

Catatan Pustaka

______________

1. Jung’s Psychology. Frieda Fordham.Penguin.Middlesex. 1970.

2. Pustaka Purwa Raja. Ranggawarsito.

3. Global Warming. http://news.nationalgeographic.com/news/2007
http://en.wikipedia.org/wiki/2003

R i f z i k k a    T r i p u t r a

Madukismo   Januari   2009

Jogja Visual Art Communitytatic

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • Ibu, 60x79 cm, oil & charcoal on canvas, 2008
    Ibu, 60x79 cm, oil & charcoal on canvas, 2008
  • ''....'', 140.5x190 cm, ooc, 2008
    ''....'', 140.5x190 cm, ooc, 2008
  • Akar Tua, 70 x360 cm (2 panel), ooc, 2009
    Akar Tua, 70 x360 cm (2 panel), ooc, 2009
  • Aku = Subjek!, 120x170 cm, ooc, 2008
    Aku = Subjek!, 120x170 cm, ooc, 2008
  • Berdiri!, 140.5x190 cm, ooc, 2008
    Berdiri!, 140.5x190 cm, ooc, 2008
  • Cermin.aku=aku, 50x120 cm, (2 panel), ooc, 2008
    Cermin.aku=aku, 50x120 cm, (2 panel), ooc, 2008
  • Meditasi Buku, 57x190 cm, ooc, 2008
    Meditasi Buku, 57x190 cm, ooc, 2008
  • Meditasi Batu, 57x190 cm, ooc, 2008
    Meditasi Batu, 57x190 cm, ooc, 2008
  • Padi, 120x170 cm, ooc, 2008
    Padi, 120x170 cm, ooc, 2008
  • Ukuran, 120x190 cm, mix media, 2008
    Ukuran, 120x190 cm, mix media, 2008

Leave a Reply