Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
Black and Blue Mood “Banny Jayanata”
poster
Start: Saturday, July 14, 2018 at 09:00 WIB
End: Tuesday, July 31, 2018 at 21:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: JL. Menayu Lor, Menayu Kulon RT. 07 RW. 07 No. 55 B, Tirtonirmolo, Jeblog, Tirtonirmolo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184
City/Town: Yogyakarta

ALEGORI KETIDAK SEMPURNAAN

Alegori, adalah sebentuk kata yang bisa berarti majas atau sihir dalam perpuisian, semacam gaya bahasa yang membalik keadaan yang semustinya tidak begitu, tetapi mengisyaratkan ke hal lain, hal dari kutub yang berseberangan dengan apa yang dituju oleh maksud kekaryaan (sesuatu) itu. Alegori adalah model berpikir, bersifat menyamarkan dan distorsi, menenun mutasi ke dalam pengetahuan pramodern masa lalu yang terkait dengan masa kini yang cenderung menawarkan kejutan-kejutan yang mengganggu dan membelokkan makna keseluruhan. Mengganggu kecenderungan totalisasi karena memungkinkan struktur terbuka dan bersifat bermain-main, peka terhadap beberapa interpretasi yang memungkinkan. Mentransformasikan makna yang tak terbatas melalui materi dan visual. Selanjutnya estetika-alegori berkaitan dengan karya seni hanya bisa dicapai dengan menjaga ruang terbuka untuk suatu keberbedaan, sehingga memungkinkan yang sakral menjadi profan, yang sama pentingnya dengan tindakan dari yang profan menjadi sakral.

Ketidaksempurnaan, “Ada”, berada di dunia bukanlah yang diinginkan semua manusia, tidak terkecuali dilekati keterbatasan yang berbentuk tubuh. Tubuh di sini pengertiannya adalah raga (anggota badan) dan psikis, termasuk cita-cita, keinginan, kecenderungan, serta tendensi pribadi. Di dalam tubuh ini ternyata sudah tertanam pengetahuan dasariah bahwa keterberian adalah lengkap dengan daya yang spesifik untuk bisa membebaskan, setidaknya menjalani kehidupan ini dengan keterpaksaan dan sekaligus suka cita, bagaimana tidak harus “dipaksa” bersuka cita, sementara hidup masih berlanjut entah sampai umur berapa walau kematian adalah kepastian.

Pembebasan berkaitan dengan keterbatasan tubuh yang berhadapan, berhubungan dengan hal di luar tubuhku yaitu dengan liyan; dengan raga, psikologis, termasuk cita-cita, keinginan, kecenderungan, serta tendensi orang lain, lingkungan, dengan alam di dalam keilahian. Bagaimana keterbatasan itu begitu mengepung di setiap langkah pembebasan. Pembebasan adalah kesadaran atau memahami faktisitas sebagai fakta yang tidak bisa dipilih, ditolak, dibatalkan, atau disegerakan agar secara emosional mengalami kehidupan ini secara otentik.

Hitam (Black) Putih (Blue) Mood Sebagai Pembebasan

Ternyata dengan adanya batas/ situasi batas, maka justru dia lebih sepenuhnya mampu bereksistensi. Situasi batas seperti: kematian, kesengsaraan, ketergantungan pada nasib. Khususnya pada situasi batas yaitu kematian yang mendesak kita untuk hidup lebih hakiki demi eksistensi. Sementara kebebasan menjadikan kita mampu memilih, menyadari, mengidentifikasi diri di dalam dirinya sendiri. Begitulah keraguan akan keakandatangan dan kecemasan terhadap keberadaan yang akan menyingkap tabir, bahwa tiada satupun yang benar-benar mutlak untuk bisa dipastikan.

Di sinilah seorang Banny mempersoalkan kadar hitam putih sebagai titik pijak, saya kira dia sudah melampaui tidak memilih hanya putih/ blue menolak hitam/ black atau sebaliknya, dia sudah melampaui atau tidak mempersoalkan lagi apa itu hitam sebagai kekurangan dan putih sebagai kelebihan. Baginya hitam putih adalah nyata di dalam pengalaman hidupnya walau itu di ranah yang di dalam, di area psikisnya; karena di ranah fisik dia tidak lagi berkekurangan. Justru dengan hitam putih itu dia selalu terobsesi sehingga baginya justru di batas-batas atau keterbatasan jangkauan itulah mampu membebaskan dirinya.

Pembebasan, diri ini (manusia=Banny) rapuh, penuh kecemasan, sehingga memandang atau meniti kehidupan sebagai kondisi ironis, betapa tidak ironis bahwa ternyata kehidupan yang dialami begitu rapuh, mencemaskan sekaligus di dalam kesinisan, walau justru di dalam situasi batas (ironis-sinis) mendapatkan kesadaran-kesadaran yang mencerahkan, yaitu:

a) “Takut Kematian” sekaligus menyadari bahwa “kematian sebagai yang tertuju”

b) dualitas apik/ putih/ blue lan ala/ hitam/ black adalah “Nya” tanpa kecuali

c) berkehidupan adalah bergerak menurut kodrat dan aslinya, bagaimanapun juga diterima dengan lapang dada walau bagaimanapun

d) semua ini adalah pemberian (terberi) walau terasa sinis

e) ternyata bahwa dualitas adalah ada-nya yang terpisah sekaligus integral.

Kalau keterbatasan/ situasi batas sebagai yang sudah dialami bisa dikatan bahwa realitas kecemasan yang menjadikan sinis, ironis, justru disitulah letak bagaimana dia harus menggunakan keterbatasan itu sebagai pembebasannya.

Menurut pengalamannya tidak ada keadaan yang “pasti”, sebab pengalamannya sedang berproses menuju menjadi menerima apa adanya baik yang menyenangkan ataupun meneyedihkan, kabeh kersane pengeran yang merujuk pada ”proses dinamis”, bukan suatu produk akhir. Pengalaman sebagai faktisitas yang berarti susunan tak tetap, ambigu, tak ada pemutlakan, akan tetapi sebuah proses membentuk diri terus-menerus. Keterlemparan sebagai pembentangan struktur ruang kemungkinan, mereintepretasi, meredefinisi dan mereposisi diri berdasarkan konstelasi pengalaman kemarin, kini, hingga terarah menuju keakandatangan.

Ironis Sinis

Begitulah saya memandang apa yang diutarakan oleh Banny, figur-figurnya adalah distorsi, suatu penyangatan pada keadaan rapuh, mudah rusak, kekurangan/ cacat, ambigu, terpinggirkan, alienasi yang itu semua mengisyaratkan kejujuran ketidaksempurnaannya. Dia terserak-serak, walau di dalamnya terbersit semangat untuk bisa mengutarakan alegori di atas, bahwa apa yang ditampilkan adalah sebentuk kritik terhadap diri sendiri sekaligus untuk kehidupan manusia pada umumnya.

Sementara kritik yang saya lontarkan bahwa blok-blok warna (lukisannya yang terdapat blok-blok warna polosnya) yang dia terapkan kurang mendukung suasana ketertekanannya, rapuh dan ketidaksempurnaan. Blok-blok warna hanya sekadar memoleskan kuas dengan warna itu seperti sekadar mengisi kekosongan ruang-ruang yang tidak terisi oleh figur atau benda-benda lainnya. Tetapi secara umum apa yang telah diwujudkan adalah menarik dan istimewa yang pantas dipamerkan di MDTL Yogyakarta. Mengapa saya katakan istimewa, karena memang di Jogja sendiri sudah langka bagaimana mewujudkan otentisitas itu, bagaimana “ngugemi” dirinya sendiri sebagai manusia dengan kerapuhan dan ketidaksempurnaannya adalah langka. Selamat bagi Banny yang masih setia memilah diri di jalan yang sunyi walau tempaan dari luar dirimu, dari apa yang kau rasakan sebagai pengalaman adalah nyata.

Hari Prajitno

PAMERAN “BLACK AND BLUE MOOD

TUBUH MANUSIA DALAM KARYA BANNY JAYANATA

Tubuh manusia adalah tema yang tak pernah usai digarap perupa. Penggambaran tubuh manusia mengalami perubahan sejalan dengan cara mereka memandang dunianya. Saat manusia bertakzim pada para dewa-dewi, seniman menubuhkan hal yang mereka puja itu dalam bentuk sosok-sosok beraga manusia. Dalam lingkungan seni yang mengabdi agama dan gereja, seniman berjasa untuk menciptakan dan mengabadikan gambaran tokoh-tokoh agama, seperti Tuhan, nabi, orang-orang suci, dan pemuka agama. Para raja-raja dan bangsawan juga menggunakan seniman untuk mengabadikan gambaran dirinya dalam lukisan atau patung. Di Indonesia terjadi pula pembuatan patung-patung dan relief yang dibuat untuk menubuhkan dewa-dewa dan mengagungkan para raja.

Ketika seni modern menawarkan kebebasan seniman dari pengabdian pada gereja dan kerajaan, para seniman menggunakan gambaran tubuh manusia dalam keseharian. Mereka melukis orang-orang dalam aktivitas sesuai dengan jamannya. Gambaran soal tubuh manusia itu dalam sejarah seni modern mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan cara pandang manusia terhadap diri dan kenyataannya .

Banny Jayanata (Banny)  adalah seorang pelukis kelahiran Surabaya pada tahun 1983. Pelukis ini mengenyam pendidikan seni di Jurusan Disain Komunikasi Visual Universitas Petra Surabaya dan melanjutkannya di Pasca Sarjana Instititut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini Banny tinggal dan berkarya di Denpasar Bali. Sejak kecil Banny tertarik untuk menggambar (drawing). Kegiatan melukis pernah pula dipelajarinya di masa Sekolah Menengah Pertama. Namun aktivitas melukis yang benar-benar serius mulai ditekuninya sejak mengambil gelar master seni rupa di ISI Yogyakarta. Walaupun pada tingkat master ini teknik melukis tidak diajarkan secara khusus, namun Banny mengasah ketrampilan melukis di lingkungan seni Yogyakarta bersama kawan-kawannya di kampus. Itulah yang kemudian disebutnya sebagai ‘belajar teknik melukis secara otodidak’.

Setidaknya ada dua pameran tunggal yang hingga tahun ini disajikan Banny, yang pertama adalah “Luka” (2014), dan yang kedua adalah pameran yang hendak dibicarakan dalam tulisan ini, yaitu “Black and Blue Mood” (2018). Kedua pameran itu dilangsungkan di Yogyakarta. Dari keduanya, dapat dicermati bagaimana perkembangan karya Banny Jayanata baik dari teknik maupun gagasan-gagasannya.

Secara teknik dan penerapan bentuk, karya Banny dapat digolongkan pada pelukis bergaya ekspresionisme. Banny mengakui bahwa dia mengidolakan pelukis Affandi dan Georg Baselitz, yang keduanya dikenal sebagai pelukis ekspresionis  dan neo ekspresionis. Mengenai ketertarikan itu, Banny menyatakan bahwa: “Pada dasarnya saya suka kebebasan dalam berkarya dan lukisan pelukis-pelukis ekspresionis paling cepat mengena pada saya..” Banny juga menyukai gaya melukis cepat. Hampir semua lukisannya dikerjakan sehari jadi. Dia menyebut apa yang dilakukannya adalah “mengandalkan intuisi berkarya dan kebebasan dalam berkarya”.

Pameran “Luka” adalah sebuah percobaan berkarya yang dilakukan Banny untuk ‘menaklukan’ gagasan-gagasan yang diambil dari luar dirinya. Pameran ini mengangkat isu mengenai kejahatan secara umum yang dialami oleh manusia. Dalam pameran “Luka” Banny memamerkan lukisan dengan tema mengenai banalitas kejahatan. Kejahatan selalu menghadirkan kekerasan, baik fisik, psikologis, maupun simbolis. Dalam pameran itu Banny mengungkapkan bahwa kejahatan akan tetap ada dan tidak semua bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Banny sendiri mengakui bahwa dirinya belum pernah merasakan kejahatan secara langsung. Kejahatan hanya dicermatinya melalui media, tetapi pengalaman melalui media itu pun adalah bagian dari dampak kejahatan, yang selalu melibatkan unsur kekerasan baik fisik, psikologis, maupun simbolik tersebut. Kekerasan psikologis dan simbolik itulah yang kemudian menjadi dasar dari pameran “Luka”. Lukisan Banny berusaha merangkum tema kejahatan itu melalui gambaran-gambaran yang mendekati metode membuat ilustrasi. Pada pameran tunggalnya yang kedua kali ini, Banny menemukan metode berbeda dengan cara yang lebih spontan dan ekspresif.

Secara umum, lukisan Banny pada pamerannya ini dibuat dengan menimpakan cat minyak ke atas kanvas dengan menggunakan kuas secara spontan ekspresif. Timpaan-timpaan kuas itu terasa spontan dan kasar. Namun Banny dengan takzim tetap menyusun bentuk yang ditampilkannya dengan menggunakan warna gelap di bagian luar bentuk dan menimpanya dengan warna lebih terang di bagian tenganya. Pewarnaan itu walaupun ekspresif namun menggunakan nalar pencahayaan yang lazim digunakan dalam lukisan bergaya realis.

Sebagian besar lukisan Banny langsung mengingatkan pada warna kulit manusia, terutama Asia. Warna kulit dengan cat minyak mendominasi hamparan kanvas Banny. Semua lukisan mengandung warna kulit ini, baik yang gelap kecoklatan, maupun jingga, dan kuning kemerahan. Tubuh-tubuh yang tak lengkap, tak jernih, tak detail, pada kanvas Banny tetap tertangkap menyiratkan tubuh-tubuh manusia. Jejak manusia paling nampak adalah warna kulit kuning kemerahan yang nampak terang, kadang terbias kebiruan, kadang hadir terjalin tanpa batas dengan latar belakang dan benda lain dalam lukisan.

Pameran “Black And Blue Mood” adalah gambaran perkembangan pemikiran Banny terhadap kenyataan sekitarnya. Kalau pada pameran “Luka”, Banny mengibaratkan terjadinya tindak kekerasan dan ketidakberdayaan manusia untuk menanggulanginya, maka dalam “Black And Blue Mood” Banny menyelusuri perenungan-perenungan para filosof dan seniman terhadap kenyataan yang kontradiktif itu. Kekerasan tetap akan terjadi, dan setiap manusia pun mengalami kontradiksi dalam dirinya. Pameran ini juga menunjukkan keberanian Banny untuk lebih menyelusuri pengalaman mental dirinya sendiri melalui berbagai pengalaman fisik dan pengetahuan yang dibacanya. Dalam lukisan “Amor Fati” (2017) terlihat tiga sosok manusia yang sedang berdiri dan melangkah. Dilihat dari proporsinya ketiga sosok itu seperti anak kecil yang sedang belajar melangkah. Ketiganya dalam kondisi telanjang. Lukisan berukuran besar itu didominasi warna kulit manusia, yaitu kuning, jingga, dan coklat kemerahan. Amor Fati diambil dari bahasa Latin yang bermakna kurang lebih “Cintailah Takdir”. Konsep klasik ini dielaborasi oleh Frederich Nietsche untuk memandang “Kebenaran” atau lebih dikenal dengan istilah filsafat “Perspektivisme”. Bagi Nietzhe manusia tidak harus menanggung apa yang tidak dapat dirubah, tetapi justru harus mencintainya. Lukisan ini menggambarkan pergeseran cara melihat kenyataan pelukis Banny dari pameran sebelumnya. Kekerasan demi kekerasan yang dialami secara psikologis dan simbolis digambarkan dalam wujud tiga ‘anak-anak’ yang melangkah bersama dengan kondisi telanjang. Ketelanjangan merupakan penerimaan atas kondisi dan situasi diri sebagaimana judul yang diterakan untuk karya ini.

Lukisan lain adalah “The Face is Red” (2017). Penampakan lukisan ini secara sekilas mirip dengan lukisan potret pada umumnya. Hanya saja wajah yang ditampilkan bukan wajah yang jelas dan detail. Lukisan ini disajikan secara berdiri (potrait) dengan raut muka besar di sisi tengah agak samping kanan. Yang disebut muka oleh lukisan itu adalah seraut kasar ‘wajah’ yang lebih mirip dengan patung-patung kuno dengan guratan-guratan pada bagian tertentu seperti mata dan hidung namun dibuat dengan tidak detail. Sama dengan lukisan lainnya dari pameran ini, lukisan “The Face is Red” juga didominasi warna kulit manusia Asia. Warna jingga kemerahan menjadi gambaran kulit wajah itu, dan di bagian latar belakang, warna merah datar diterakan di atas kanvas. Wajah adalah bagian penting dari manusia dalam menampilkan identitasnya. Dalam lukisan ini, wajah juga dibangun melalui struktur warna yang saling bertumpuk, gelap ke terang, dengan beberapa garis pembatas. Mengingatkan pada konsep Foucault mengenai “same” dan “other”. Foucault menawarkan gagasan mengenai transgresi, yaitu penerobosan terhadap garis demarkasi yang terbentuk dalam struktur sosial masyarakat. “Same” memapankan pengetahuan tertentu sebagai kebenaran tunggal dan menciptakan “other” di luar kebenaran. Wajah merah dengan latar belakang merah ini serupa dengan dialektika antara “limit” dan “transgresi”. Menjadi diri yang berbeda bisa menjadi tindakan menerobos tabu atas rezim kebenaran tunggal yang digdaya di masyarakat. Lukisan ini menjadi monumen untuk para liyan yang berada dalam situasi yang diliyankan oleh lingkungannya.

Tubuh pula yang digambarkan sebagai gambaran rasa seperti dalam lukisan “Black and Blue Mood(2017). Proporsi tubuh dibentuk melalui perasaan sesaat, dengan perubahan bentuk yang semena-mena berdasar perasaan dan sapuan kuas. Banny memang tertarik dengan metode melukis cepat. Selesai tuntas sesaat sebagaimana pelukis Affandi menggarap lukisan. Pelukis yang pernah didokumentasikan dalam sebuah judul yang sangat tepat untuk melukiskan metodenya “Hungry to Paint”. Melukis adalah menunaikan rasa lapar. Selaras dengan metabolisme tubuh, yang membutuhkan rilis dengan cara melahap kanvas.

Pameran tunggal kedua Banny Jayanata ini menawarkan sajian segar lukisan berbahan cat minyak di atas kanvas. Cat minyak adalah bahan melukis utama dalam seni modern selain aktilik dan cat lainnya. Bahan ini dapat memberikan pengalaman inderawi bagi penikmat seni, bukan hanya melalui gambaran dan warna yang dicerap mata, tetapi juga sensasi fisiknya dengan pigmen warna yang bertekstur. Jejak sapuan kuas dan ragam ketebalan cat yang menempel di kanvas adalah bagian penting dalam teknik melukis cat minyak. Menarik untuk mencermati penggunaan warna dominan kulit manusia dalam lukisan Banny. Walaupun gagasan mengenai tubuh dalam lukisan Banny bukanlah tubuh fisik ragawi, tetapi munculnya nuansa kulit manusia jingga kekuningan mengisyaratkan sesuatu yang bermakna penting bagi seniman. Dalam pandangan Nietzhe tubuh tidak dapat mengelak untuk menyediakan dirinya dibentuk oleh persilangan dan persimpangan kekerasan berbagai rezim yang ada. Tubuh dicetak, dikonstruksikan, dan dibentuk oleh rezim rezim itu. Pameran tunggal kedua Banny mengisyaratkan tataran lebih lanjut dari sang pelukis dalam mencermati persoalan tubuh dan kejahatan (kekerasan). Banny tidak legi menjelajahi dan menginvestigasi kejahatan lewat prilaku masyarakat, tetapi menelisiknya lewat tubuh (terutama warna kulit). Menurut Nietzhe tubuh merupakan bagian paling menggambarkan penanaman kekerasan itu, walaupun tubuh itu sendiri adalah hal yang relatif di mana identitas tidak bisa dikokohkan dan disolidkan.

Rain Rosidi



  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • Untitled, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas 2017
    Untitled, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas 2017
  • Black Heart, 170 cm x 200 cm, Oil on Canvas 2018
    Black Heart, 170 cm x 200 cm, Oil on Canvas 2018
  • Amor Fati, 200 cm x 300 cm, Oil on Canvas, 2017
    Amor Fati, 200 cm x 300 cm, Oil on Canvas, 2017
  • You'll be dying alone anyway, 200 cm x 300 cm, 2018
    You'll be dying alone anyway, 200 cm x 300 cm, 2018
  • Dog days are over baby, 150 cm x 200 cm, 2017
    Dog days are over baby, 150 cm x 200 cm, 2017
  • The face is Red, 200 cm x 250 cm, Oil on Canvas, 2017
    The face is Red, 200 cm x 250 cm, Oil on Canvas, 2017
  • 3 a.m, 170 cm x 220 cm, Oil on Canvas, 2017
    3 a.m, 170 cm x 220 cm, Oil on Canvas, 2017
  • Walk unafraid, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas, 2017
    Walk unafraid, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas, 2017
  • Broken Vows, 150 cm x 150 cm, Oil on Canvas, 2018
    Broken Vows, 150 cm x 150 cm, Oil on Canvas, 2018
  • Figure no. 8, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas, 2017
    Figure no. 8, 150 cm x 200 cm, Oil on Canvas, 2017
  • Black and Blue Mood, 200 cm x 250 cm, Oil on Canvas, 2017
    Black and Blue Mood, 200 cm x 250 cm, Oil on Canvas, 2017

Leave a Reply