Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Black Hole Sun” – Herman ‘Beng’ Handoko
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:

This 58 years old artists which entered the ASRI (Art Academy) Yogyakarta at 1973 makes the work of painting with Chinese ink on paper media of newspaper in paste covered the walls and roof showrooms Museum Dan Tanah Liat.

Paper that he use as missing in the swallow by power of lines that are taped shut around the showrooms until like entering a cave, the lines are displayed in the form of zigzag and boxes to create a strong interaction of the exhibition visitors.

Benk paintings in this exhibition is only one piece, but on display throughout the showroom close to such an installation.


Seniman berusia 58 tahun dan masuk ASRI yogyakarta tahun 1973 ini membuat karya lukis dengan media tinta cina diatas kertas koran yang di tempelkan menutupi seluruh dinding dan atap ruang pamer Museum Dan Tanah Liat.

Kertas koran yang di pakai seperti hilang di telan oleh kekuatan garis-garis yang ditempel menutup seluruh ruang pamer hingga seperti memasuki gua, garis-garis yang ditampilkan dalam bentuk zigzag dan kotak-kotak mampu menciptakan interaksi yang kuat terhadap pengunjung pameran.

Karya lukis pak Benk pada pameran ini adalah satu karya, namun di display menutup seluruh ruang pamer hingga seperti karya instalasi.


BLACK HOLE SUN

ketika pak Beng mengatakan saya melukis, maka beberapa orang mengatakan bukan, ini drawing, bukan ini instalasi, ini wall paper, ini bukan membungkus tapi menutup, ini monoton, ini tentang garis, ini terapi, ini harus di tampilkan ke publik, ini seperti lukisan cina yang memberi perhatian penting untuk ruang kosong, ini adalah masa tua. Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa di lemparkan untuk pak Beng.

Apapun yang dikatakan orang tentang karya pak Beng dapat mengarah pada subyektivitas karya, dimana karya bisa berdiri sendiri lepas dari senimannya sebagai pencipta karya tersebut. Ketika karya pak Beng menutup seluruh dinding, atap dan sebagian lantai ruang pamer maka karya tersebut begitu kuat berinteraksi terhadap setiap orang yang memasuki ruang pamer tersebut, seakan saya merasakan sensasi yang tidak biasa sebagaimana menikmati karya instalasi maupun lukisan, dimana kekuatan ruang semakin kuat dengan instalasi dan imajinasi terpancing deras oleh kekuatan lukisan.

Mungkinkah orang pra sejarah dulu begitu menikmati tinggal di dalam gua     -yang memang saat itu gua adalah tempat yang paling ideal untuk ditempati selayak rumah pada saat ini- yang dindingnya di lukis, hingga menusia bisa berdialog dan mengembangkan pemikirannya. begitupun karya pak Beng, ketika berada di ruang pamer maka karya tersebut mampu mengusik diri saya dan tanpa sadar meningkatkan volume untuk berbicara dan konsentrasi terhadap karya seni.

Awalnya saya merasa masuk ke sebuah wahana rekreasi tentang instalasi sebuah gua, beberapa saat saya merasakan ada banyak garis yang menempel di seluruh bagian dalam gua tersebut secara kuat mempengarui hati saya untuk selalu mencari kekuatan seni yang saya yakini mampu secara estetik  membangkitkan kekuatan diri sebagai manusia. Dan torehan garis pak Beng dapat membuang keberadaan dinding bangunan sebagai pembatas ruang menjadi hilang digantikan oleh garis-garis yang memisahkan diri saya dengan waktu hampa dan gelap terbentang luas berada di balik garis-garis tersebut.

Begitu banyak reaksi yang ditimbulkan dari karya pak Beng seakan wujud dari gairah explorasi seni, dan mampu memberi tanda untuk keluar dari kesenyapan, keseragaman dan kebosanan pada karya seni, tidak mustahil di Jogja kita dapat setiap hari menemukan karya seni baru tercipta dan wacana seni yang terucap dari khalayak seni, namun semua terasa sebagai pengulangan yang di pakai secara paksa atas nama identitas yang berbeda dan spesial secara individu, sebagaimana yang saya rasakan. Apapun wujud karya seni lebih berorientasi terhadap selera pasar. Eksperimen karya pak Beng yang jika dibandingkan dengan karya lukis on canvas sepertinya mustahil di temui karena memang terasa mustahil untuk dikosumsi secara finansial pasar. Menyenangkan untuk menikmati karya pak Beng, namun mencari karya pak Beng di wacana seni yang terhipnotis oleh keseragaman bagaikan mencari lubang hitam matahari.

Jogja 20 September 2010

Yoyok MDTL


BENG !

Beng mengingatkan saya pada seni rupa surabaya tahun–tahun menjelang 90an. Seni Rupa Surabaya bagi saya punya spirit tersendiri, warna–warnanya yang tidak memperdulikan harmonisasi, teknis yang terabaikan, media yang ditemukan. Namun terasa kuat sekali nafas dalam karya–karya itu.

Sayang, nafas itu terputus, saya melihat Seni Rupa Surabaya sekarang sama dengan yogyakarta, jakarta, bandung dan kota–kota lainnya. Mungkin karena imbas issue Seni Rupa kontemporer dan globalisasi.

Beng,,mungkin generasi akhir dari Seni Rupa Surabaya yang khas itu. Masih ada Nurzulis Koto, Rudi Isbandi yang masih bertahan “ kesurabayaannya ” dalam pameran ini, media koran yang menutupi dinding, pintu, jendela, langit-langit dan tiang. Pasti akan menohok mata dulu, namun setelah mendekat, melihat, garis-garis kaku dan tegas. Kita baru menyadari bahwa Beng menampilkan garisnya. Garis yang tidak bisa berbohong, walaupun monoton, sebenarnya garis-garis itu sudah melewati jalan panjang sebelum lahir, ada irama dan emosi disana.

Koran, kuas dan tinta cina beng, media yang terabaikan, menjadi karya yang banyak cerita sekaligus sunyi. Bilang Beng terus menggaris dimanapun ia akan mampu menggaris dengan apapun. Mungkin ditanah dengan sepotong ranting, dengan benang layang-layang di langit, dengan mata di mata orang lain. Sebab garis tidak mesti nyata dan teraba.

Ugo Untoro

September 2010


PSICO DISTANC

PSYCHOLOGICALLY

DISTANCE

Bonyong Munny Ardhie

Sudah sejak lama saya mengenal “BENG”

Sejak masa-masa SMAnya dia di Surabaya.

Berawal dari biasa-biasa saja dia dalam menggauli kesenian, Dari awal mula mata pelajaran menggambar sampai pada istilah “melukis” yang cenderung pengertiannya memasalahkan relung-relung yang paling dasar penciptaanya dilaluinya dalam kampus seni rupa. Periode SSRI sampai ASRI, Beng penunjukkan sikap biasa-biasa saja pada kesenian. Tapi waktu dia menanagani kerja sebagai Bos gambar Bioskop (poster film) mulai ada keanehan. Sentuhan kesenian memang ada sedikit-sedikit misi gambar fotografis / komposisi-komposisi serta nilai-niai komersial/ pasar banyak menyentuhnya.

Dari situ dia merubah postur tubuh / artibut /variasi wajah menjadi gondrong alam / kumis: jenggot (brewok) sampai pada botak/ putih (uban) dari carut matur wajah yang kata teman-teman Surabaya: “LARAAHAN YANG MUMPLEK NOK RAINE” (sampah yang tumpah di mukanya).

Menurut saya, ini gesekan spontan dengan alam nuaraninya. Gejala awal dari PSYCHOLOGICALLY secara umum sebuah kecenderuangan extrenitas. Gejala ini diperkuat dengan ia tidak keluar rumah (studionya) kurang lebih 3 tahun (1980an) walau ia menjalankan bisnis poster bioskop.

Setelah gulung tikar bisnis ini (perubahan dari film besar ke twinity one; poster yang memakai print digitala yang lebih murah, lebih komunikatif), disinilah ia mulai coret-coret berkarya pada media kertas.

Pelan-pelan ia tumpuk karyanya. Tanpa intervensi orang lain / kritik-kritik bahkan tepuk tangan, geleng kepala dari teman-temannya. Ia bekerja sendiri, hanya dengan teman-teman dekatnya yang ia percaya, ia mau memperlihatkannya. Endapan-endapan akademis  yang menyelimuti dasar estetiknya ia bekerja sendiri dalam kesunyian, mandiri.

Inilah yang saya tangkap dari istilah psycologiclly estetik pada jiwa keinginan berontak; bicara ego individual serta extrimitas pribadi, yang tak terkontrol oleh alam ke”umum”an menjadi murni. Psicologi ayang sangat individualis terlahir begitu saja. Ini yang sebetulnya menarik dalam dunia kesenian.

Beng seakan-akan sudah lengket dengan goresan-gorean naïf. Karya-karyanya ini berawal dari tak terpisahannya rasa aestetik dab gemuruh nuraninya. Menjadikan mengental dalam tumpukan kertas apa saja yang ada padanya.

Periode ini memang sangat menarik untuk nebenwirkungen der pille – welche gibt es? | ohnerezeptfreikauf disimak. Bila ia bicara selalu diukur oleh dirinya sendiri. Walau ia melahap buku-buku apa saja dari pengetahuan aetetik; filsafat; bahkan agama atau alam pun alam-alam mistik; ia selalu tokohkan dirinya.

P.D (Percaya Diri)nya meledak-ledak melebihi takaran-takaran umum. Kegilaan pandangan yang selalu mewarnai tingkah laku dan sepak terjangnya.

Tapi begitu tiba-tiba ia ingin pameran tunggal, ingin memperlihatkan pada orang lain, ingin diukur individualnya. Maka ia sudah berpikiran lain. Seakan-akan ia ingin mengetahui “kontempoter”  orang lain, ingin tepuk tangan, gelengan kepala , decak keheranan orang lain diluar dirinya. Dari yang memuji sampai memaki ia ingin dengarkan komentarnya. Ia mulai membuka diri, mulai berdiskusi tentang karya-karyanya dan dirinya.

Tidak seperti dulu, sejak awal karyanya yang naïf sangat individual sampai saya katakan “PURBA” ini sangat menarik untuk diteliti. Melekatnya kegelisahan psycis yang tak ada jarak. Jarak antara konsep artistik dan ekspresi, menyatu menjadikan karya-karya Beng menarik (tahun2000). Beng lahir dengan keutuhan karyanya.

Setelah itu terjadi perubahan-perubahan yang agak signifikan, yaitu sejak berfikirnya bagaimana penyajiannya, bagaimana supaya karya-karyanya tersebut menarik, terbaca oleh orang lain, dimengerti, bahkan ditepuktangani, dipuji, menjadikan strategi baru yang mulai mewarnai karya-karya Beng.

Karya-karyanya tertata rapi di ruang pameran dari lantai sampai ke langit-langit ruang. Walau tak ekstrim sesuai dengan pribadinya. Ditumpuk diletakkan pada fustek walaupun karyanya bukan patung, ditaruh berserakan laksana sampah. Inilah pikiran yang contemporer, yang kekinian, yang berhubungan dengan masyarakat yang dipertimbangkan dengan pasar, bahkan yang diraup sampai mendunia.

Karya-karya Beng pelan-pelan sudah mulai berjarak dengan konsep-konsep awalnya. Konsep-konsep individualnya (psycodistanc) yang mewarnai karya Beng ini saya anggap karya “kontemporer”, sudah bukan lagi “individualist”, bahkan sudah bukan Purba lagi.’

Tapi bagaimanapun karya-karya Beng selalu menarik bagi saya.

Ketelanjangan itu sekarang sudah berstrategi.

Selamat Menikmati,

Studio Joso, 2010

Bonyong Munny Ardhie


Sekapur Sirih Untuk Saudara Benk

(cara ungkap tanpa kanvas)

Gambaran-gambaran visual mendahului bahasa tulis sebagai media komunikasi walaupun bahasa-bahasa lain juga efektif. Kita tidak semata-mata tertarik bahwa seni sebagai bahasa pengantar penyampai informasi saja, tetapi pada seni juga sebagai media pengekspresian dimensi psikologis dari hidup.

Mengapa corat-coret seperti itu dikatakan karya seni? Kita tahu bahwa cara ungkap seni tidak berfungsi sebagai suatu bahasa untuk menerjemahkan pikiran dan perasaan saja tetapi lebih jauh ialah menyusun unsur garis, bentuk, warna dan aspek-aspek visual lainnya dengan media khusus yang ditangani secara spesifik. Bagaimanapun juga subjektivitas pelaku seni adalah tidak semata-mata berhubungan dengan emosi-emosi pribadinya saja. Sebuah karya seni juga mengandung pandangan-pandangan pribadi tentang peristiwa-peristiwa dan objek-objek umum yang akrab dengan kita semua. Disinilah perupa berkomentar tentang keunikan pribadinya atas pengalaman hidup yang dilewati.

Dia Herman Handoko, surabaya 6 maret 1952 (Benk: begitulah orang memanggil) selalu saja mengulang objek-objeknya sedemikian rupa hingga tak tampak lagi makna kata, angka, gambar-gambar itu sebagai motif/pecahan yang bisa berdiri sendiri yang bersifat repetitif akan meniadakan suatu eye-catching, sehingga sensasi yang dihasilkan tidak mengarahkan mata ke suatu point pada sudut tertentu, kita akan bisa “menerobos” melewati bingkai atas sugesti pada repetitif yang dihasilkan. Pengertian picture-frame dengan isinya yang tertentu seperti lukisan konvensional tidak berlaku lagi, karena isi tersebut diperluas secara infinit, seakan memasuki ruang tanpa dimensi waktu dan struktur-struktur pengganggu.

Bagi seorang perupa seperti Benk yang telah mengenyam walau sebentar di STSRI “ASRI” Yogyakarta (alumni 1973) media adalah salah satu terpenting dalam proses penciptaan disamping teknik penyampaian, karena baik bahan landasan/paparan atau bahan dari objeknya sendiri mulai awal sudah memiliki makna untuk membantu terciptanya karya seni serta memberikan wujud yang objektif.

Di zaman ini definisi seni yang berlaku masih hanya mengacu pada satu tataran yaitu high-art yang mana keabsahan seni masih terbatas pada seni lukis, patung, dan grafis. Pada perkembangan akhir-akhir ini seni rupa mulai menampakkan pertumbuhan yang cenderung menggunakan media yang mudah didapat di sekeliling. Perupa sekarang sperti pak Benk mulai berpetualang dengan elemen-elemen yang dulu begitu tabu untuk dipergunakan seperti kertas koran, spidol, ballpoint, dan lain-lain untuk mewujudkan ide-idenya. Citra yang tersimbol pada kanvas masih kurang mampu mengekspresikan suara hati lagi, karya seni mulai memasuki dunia nonfiksi, dia menelusup lewat objek konkrit yang bisa disentuh, dibau, atau bahkan diraba secara fisik.

Begitulah cara kerjanya yang murah dengan hanya menggunakan alat-alat sederhana laiknya kesederhanaan motor trailnya yang butut cukup mampu mengantar Benk kemanapun, kesederhanaan tanpa harus membingkai. Karyanya lebih dekat pada wujud seni sebagai bentuk cara ungkap yang wajar, tidaklah seni selalu dikembalikan pada intinya yaitu sebagai bahasa ekspresi pribadi manusia menanggapi kehidupannya.

Dia tetap mengerjakan dengan kesungguhan untuk menampilkan kepribadian, dikatakan kesungguhan bukan berarti selalu mencipta dengan ketelatenan dan kerumpilan detail-detailnya tetapi lebih mengarah pada sifat pengungkapan keunikan yang dimiliki oleh pengalaman-pengalaman personal yang lepas dari dominasi wacana-wacana yang lebih universal dan intensitas penggarapannya.

Begitulah Benk telah di”terima” untuk berpameran di MDTL karena memiliki keunikan tersendiri, silakan menikmati bagaiman seluruh dinding pajang akan terbungkus oleh karyanya. Sekali lagi selamat bagi Benk dan keluarga besar MDTL yang telah berani menampilkan karya-karya segar yang pantas untuk diapresiasi.

Hari Prajitno, perupa-staf pengajar SR-STKW Surabaya


SI TUA BERSAYAP LEBAR……

”Sayap saya masih lebar, saya masih ingin terbang yang lebih tinggi, menggapai segala yang diatas sana,” Suatu hari Pak Benk bercerita dengan mata berbinar, menceritakan konsep pameran yang akan dilaksanakannya bulan September di Jogja. “Saya akan penuhi ruangan dengan gambar saya, bukan hanya di dinding, bahkan juga dilangit – langit. Saya ingin penuhi ruangan dengan diri saya.”

Totalitas yang luar biasa!! Kalimat itu yang selalu terdecak dari dalam hati saya  dalam menilai Pak Benk. Saya selalu terkesan dengan bagaimana Pak Benk bercerita tentang diri dan dunianya, ada antusiasme, optimisme, cinta yang mendalam pada seni dan dirinya sendiri, ada semangat, ada api dimatanya, yang jarang saya temui bahkan pada teman – teman seusia saya, yang jauh lebih muda dibanding Pak Benk.

Pak Benk, dia seperti teman kecil yang lama tak pernah bertemu, pertemuan yang baru beberapa kali tak membuat kami seperti orang asing. Pada saat tertentu Pak Benk rajin memberi wejangan dan semangat, seperti dia tak bisa menerima ada orang yang pesimis, kadang dia menjadi seorang ayah yang penuh kasih.

Saat bercerita, saya tak pernah melihat ada perbedaan usia antara saya dan Pak Benk, malah sering kali terhanyut pada bagaimana dia menarik saya dalam dunianya, saya merasa seperti Alice in wonder land yang bermain dalam dunia ajaib yang mampu merubah diri saya ketika memasuki ruang – ruang ketakjubannya. Saya memasuki ketakjubannya pada isi kepala orang – orang yang dikenalnya, ketakjubannya pada wilayah yang baru dijamahnya, ketakjubannya pada tempat – tempat yang menurutnya asyik, ketakjubannya pada karya – karya inspiratif disekitarnya, sambil memandang mata kelincinya yang tanpa dosa saat bercerita.

Dalam dunia graphology, dikenal teraphy psikis dengan menggunakan garis. Sampai sekarang, saya masih takjub melihat garis repetitif yang dibuat oleh Pak Benk, yang jumlahnya ribuan baris. Secara teory, garis pada gambar Pak Benk yang kami sebut garis Angular, dalam teraphy graphology hanya boleh dilakukan secara terus menerus tanpa putus tidak lebih dari dua menit. Jika dilakukan lebih dari dua menit, dan ini sudah kami buktikan dalam praktek teraphy, akan menyebabkan kelemahan fisik dan kelelahan otak, diatas lima menit, peserta teraphy bisa mengalami perut mual sampai muntah – muntah. Jika dilakukan tiap hari selama 28 hari, maka biasanya pasien akan mengalami efek perubahan karakter.

Ajaibnya, apa yang telah dilakukan oleh Pak Benk tak menimbulkan efek apapun dalam dirinya! Dia tetap jadi Pak Benk yang lucu, matanya tetap berbinar seperti kelinci saat bercerita, suaranya masih tetap bersemangat seperti remaja muda, dandannya masih rock n roll, Pak Benk masih mampu tampil keren tanpa kejanggalan psikologis….

Saya merasa, Pak Benk mempunyai kontrol diri yang cukup kuat. Dia mampu mempermainkan pengaruh dari luar dengan irama yang dia ciptakan sendiri yang justru mempengaruhi sesuatu dari luar dirinya untuk masuk dalam pusaran yang dia buat. Itulah alasan mengapa garis Angular yang dibuatnya tak merubah fisik, psikis dan karakter Pak Benk. Teraphy garis Angular itu tak mempan buat seorang Herman Benk, para grapholog akan tercengang mengetahui hal ini, seperti halnya saya.

Apa yang saya lihat dalam karya Pak Benk dan sosok Pak Benk sendiri secara keseluruhan adalah sebuah keajaiban, sebuah bentuk totalitas yang seringkali muncul dalam imajinasi saya seperti melihat seseorang yang tak henti memeras darah dari lubang pori – porinya. Dia tidak sedang menggambar atau melukis, dia sedang berdoa, doa yang sangat panjang dan tiada henti, dia temukan kesunyatan dalam prosesnya, kesunyatan yang berirama.

Hanya Herman Benk si Tua Bersayap Lebar.

Rella Mart


Realitas Imaji dari Gagasan yang Tak Sederhana

Oleh : Riadi Ngasiran

Seseorang dengan karakter yang khas: bicara terbuka, tanpa basa-basi, tapi penuh pengertian terhadap orang lain. Sebuah penghargaan yang saya rasakan, setiap kali bertemu C. Beng — demikian nama yang pertama kali saya dengar pada 2000. Ketika itu, kami sedang sama-sama memberikan apresiasi terhadap karya seni rupa Saiful Hadjar, ketika melakukan suatu aktivitas di Balai Pemuda. Beberapa kali, setiap kali ketika kami mencoba untuk membicarakan sebuah gagasan di antara teman-teman di lingkungan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) di Surabaya, kehadiran C. Beng — kemudian dikenal juga sebagai Herman ‘Beng” Handoko atawa Herman Beng — selalu menambah keyakinan kami akan pentingnya mengasah kepekaan terhadap persoalan hidup dan menyemaikan makna bagi diri sendiri meskipun tak terpahami orang lain.

Melatih kepekaan itulah sesungguhnya menjadi bagian dari kerja kreativitas: diawali dengan pengenalan akan persoalan diri sendiri, lingkungan sekitar dan kemaslahatan kehidupan yang lebih luas. Tentu, Herman Beng mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi hidupnya, tanpa harus memaksakan sikapnya itu untuk dipahami orang lain. Tapi, keriangannya untuk menyampaikan kritik terhadap seseorang yang dianggap telah dikenalnya, merupakan penghargaan yang saya rasanya dengan penuh keintiman. Sebuah kematangan bersikap yang sungguh mengesankan.

Dalam pertemuan-pertemuan yang kerap terjadi, dalam pelbagai forum kesenian, baik di Surabaya, Pandaan, Malang, misalnya, membuat saya semakin penasaran dengan sosok berambut panjang yang kian memutih itu. Saya pun tak tahan membiarkan rasa penasaran saya terhadap orang ini. Suatu hari, saya minta diantar Saiful Hadjar untuk bertandang ke rumahnya di sebuah kawasan di Waru, Sidoarjo. Syukurlah, ketika itu perasaan kurang tepat seolah membisikkan dengan kencang di telinga saya. Dan, kenyataannya, kami pun tak berkesempatan menjumpai Herman Beng untuk bicara lebih intens atau mengenal lebih dekat akan karya-karya keseharian yang dilakukan di rumahnya itu.

Waktu pun berlalu. Tapi, seiring berlalunya waktu, saya sempat tergagap hingga tak mampu memberikan komentar yang layak, ketika menyaksikan Herman Beng sedang berpameran di Sawunggaling Hall, Taman Budaya Jawa Timur, dalam sebuah pameran tunggalnya. Dengan tajuk yang cukup memukau “Post[re]alitas”, sekitar bulan Mei 2006. Terdapat di antara karyanya itu memungut simbol semut — sejumlah semut yang sedang menuju suatu tempat yang memberikan rangsangan rasa manis, barangkali. Tapi, Herman Beng bagi saya memberikan kesadaran untuk memungut spirit dari kesederhanaan guna meraih sesuatu yang lebih besar bila digerakkan dengan kesungguhan.

Terkesan akan sudut pandang yang berbeda, mengingatkan saya akan cara pandang anak-anak kecil terhadap hamparan semesta ketika dengan seenaknya menjadikan selangkangan kedua kakinya untuk melongokkan kepalanya guna menyaksikan dunia. Ya, dunia yang bisa ditilik dari sudut terbalik tapi toh tak membikin bingung kepala. Sudut pandang yang tak merepotkan tapi dilakukan dengan riang itulah, yang saya saksikan setiap menyimak tawaran penyampaian gagasan berkesenian Herman Beng. Maka ketika menorehkan judul pada kumparan-kumparan kawat berduri yang melingkar di pagar besi (Another side of city, 3,2 x 1,9 m), merupakan imaji yang dibangun Herman Beng dari gagasan-gagasannya yang awalnya mungkin sederhana, tapi telah menyadarkan kita akan sesuatu yang lain tapi sesungguhnya ada. Sesuatu yang sebelumnya tak bermakna menjadi daya kejut yang segera mengingatkan kita akan adanya sesuatu, menjadi tak sederhana.

Gagasan-gagasan Herman Beng berlanjut seolah sebagai buku harian yang ditorehkan di atas kertas dengan bahasa visual: forgotten road, Stone hange, Move, Angle, Rainny days, Dream time, Simbiosis mutualism, sign, dan sebagainya, dan seterusnya… Semua itu menunjukkan sikap Herman Beng yang tak mudah ditaklukkan oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun, seseorang harus senantiasa bisa memberikan makna, meskipun sekadar kontemplasi kecil yang bagi orang lain tak bermakna.

***

Mengingat Jogja dan Herman Beng, mengingat masa-masa yang membangkitkan kreativitasnya. Pada kesempatan ini, saya mengingat kembali pengalaman pembacaan saya terhadap seniman berkarakter yang senantiasa tampil sederhana ini. Sesederhana sikap-tindakannya dalam berkesenian.

”Saat ini, di sini, adalah rupa… Karya seniku sebuah cerminan dari pengetahuan intelektual dan pengetauan empiris yang sangat intuitif dan selalu mengalir”. Demikianlah kredo seni rupa Herman ’Beng’ Handoko atawa Herman Beng, mengantarkan pameran tunggalnya bertajuk To be Myself, berlangsung sejak 6 Mei 2010 di Museum of Mind (MoM) — sebuah ruangan di bekas gedung Museum Empu Tantular, Surabaya.

Ia mengungkapkan ekspresinya dengan langkah paling elementer: garis. Dengan tinta china, tinta ballpoint, dan zat pewarna herbal, ia menggerakkan emosinya menyusuri deret waktu kegelisahan. Kesendirian, kejengkelan, dan luapan emosi yang mengalir dalam dirinya, ia torehkan di atas kertas koran bekas, sebagai mediumnya. Dan ia pun merangkai lembar-demi-lembar kertas buram yang memuat bejibun informasi — sederetan informasi yang menyesakkan yang, ternyata, selalu ditunggu kehadirannya saban hari itu.

Tanpa bermaksud menyindir adanya realita psikologis masyarakat yang tertera dari lembr-lembar koran, Herman Beng berikhtiar mencampakkan keamburadulan sudut-sudut informasi yang dijejali masalah korupsi, pengadilan yang menyesatkan, pesta-pesta kelabu wajah demokrasi, dan jagat penuh kekalutan disebabkan lingkungan hidup. Laju kepunahan untuk beberapa spesies hewan atau tumbuhan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, hingga 1.000 kali lipat daripada yang pernah terjadi, bahkan mempengaruhi hasil panen dan ternak.

Kita pun tergagap menyaksikan kenyataan bahwa, sebagai akibat dari kemerosotan lingkungan, dunia sekarang bergerak mendekati beberapa “tipping points” dimana beberapa ekosistem yang memainkan peranan penting dalam proses alami seperti iklim atau rantai makanan kemungkinan hancur selamanya. Sebuah ”Tinjauan Biodiversitas Global” menemukan bahwa pembabatan hutan, polusi, atau eksploitasi berlebihan merusak kemampuan produktif lingkungan yang paling rentan, seperti hutan hujan Amazon, danau, dan terumbu karang.

Tapi, tak peduli dengan itu, Herman Beng akan tetap menggoreskan lembar demi lembar informasi berharga itu dengan garis, menggoreskan tinta chinanya atau zat pewarna dari tumbuh-tumbuhan, baik vertikal maupun horisontal, sebagai bagian dari wujud kerja berkeseniannya.

Tak cukup mengikuti dinding ruang pameran, Beng pun menorehkan karyanya dan membentangkannya di lantai… Sebuah etos kreatif yang terus ia ledakkan. Memang, awalnya ia menggoreskan kegelisahan permenungannya dari lembar-lembar koran secara sederhana. Tapi, kemudian dirangkaikan secara massif, hingga membangun suasana ruang yang menggelora, sekaligus menyesakkan — khususnya bagi seseorang yang terbiasa memahami ekspresi secara wajar dan sewajarnya.

Tapi, bukankah seorang seniman sejati adalah persona yang menjadi perintis jalan. Sebagaimana Chairil Anwar pernah berpidato (1943), “harus berani berterang-terang dalam hidup bebas yang bukan berarti menceraikan diri dari pergaulan yang berkobar-kobar (vitaliteit)”, Herman Beng telah pula menunjukkan kegairahannya itu.

Seseorang yang mula menyaksikan karya Herman Beng sangat mungkin bergumam: anak-anak pun melakukan semacam ini. Usia kanak sudah dilampau setengah abad lalu, tapi toh ia melakukannya juga. Begitulah, Herman Beng hanya ingin menziarahi dirinya sendiri –tak peduli orang lain mengerti atau pun menghargai. Ekspresi pada akhirnya perwujudan dari luapan emosi yang terdokumentasikan lewat medium yang telah dipilihnya itu.

Herman Beng bukanlah orang awam seni. Ia cukup akrab dengan Bonyong Munnie Ardhie. Secara formal, ia pun pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Republik Indonesia (STSRI) ASRI Jogja, lulus 1973.  Secara pribadi, Herman Beng telah menyita perhatian saya. Juga ketika ia mencoba berunjuk-rasa dalam sebuah pameran bertajuk Post (re)alitas — sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Sebagai seniman, Herman Beng berusaha memberdayakan etos kreatifnya, untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Sebuah langkah yang, oleh Abraham Maslow disebut ”pemenuhan diri” (self-fulfillment), menjadi realisasi seluruh potensi, dan kebutuhan untuk menjadi insan kreatif (kreator).

Seseorang yang telah mencapai level aktualisasi diri menjadi lebih manusiawi, lebih asli dalam mengekspresikan diri, tak terpengaruh oleh persona lainnya, meskipun berada pada suatu budaya tertentu dalam sebuah komunitas masyarakat. Herman Beng berusaha menemukan dirinya, lepas dari kebutuhan penghargaan dan mencapai kebutuhan aktualisasi diri, sehingga memungkinkan dirinya akan memberikan penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan, dan nilai-nilai sejenis, dalam memosisikan dirinya sebagai seniman.

Pada proses berkesenian yang dilakoni Herman Beng, proses menjadi diri sendiri itu, didorong etos kreatif untuk mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Ia akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis. Pada ke-diri-an Herman Beng,  telah melalui proses panjang berkesenian: setelah menjadi juru poster.

Ketika itu, film-film Indonesia mencapai puncak kejayaannya di masa lalu dan membutuhkan jasa-jasa juru poster, 1970-1980-an. Waktu pun bergeser, seiring dengan jalan lain yang harus ditempuhnya, perkembangan mesin cetak digital foto semakin canggih, maka Herman Beng menemui kesepian. Dan dia akhirnya harus memilih untuk mempergulatkan kegelisahannya dalam berkesenian.

Kegelisahan kreatif telah mendorong kesadaran batin Herman Beng, yang telah menelan pil pahit pelbagai pengalaman, berusaha untuk menemukan ke-Aku-an dan coba menunjukkan persona dirinya, membedakan “Aku” dari yang “bukan aku”.  Itulah sebuah konsep diri real dan konsep diri ideal.

Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Carl Rogers mengenalkan 2 konsep : Incongruence dan Congruence. Bila kita mencermati karya-karya kreatifnya,  Herman Beng berada pada konsep congruence, di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati. Jauh dari konsep incongruence, ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.

Herman Beng menegaskan dalam pameran tunggalnya, To be Myself, masih proses. Proses itulah yang menjadi bagian eksistensinya. Di usianya ke-58, Herman Beng ternyata belum berhenti. Bila anugerah kesempatan masih ada, Beng akan tetap melakukan aktivitas demi aktualisasi diri. Beng menyatakan punya banyak alasan mengapa dirinya menggunakan kertas koran. Bagi Beng, berkarya bisa di mana saja. Tak harus di kanvas putih. Tak ada batasan bagi siapa saja untuk mengungkapkan ekspresinya.

Herman Beng adalah representasi persona yang kalut, kesepian, gelisah, tapi coba menarik mata publik untuk memperhatikan betapa pada dirinya dipenuhi stamina yang kuat, sekaligus keinginan menggelorakan hidup agar lebih bermakna.

Dengan karya-karyanya, Herman Beng telah menziarahi dirinya, menemukan dirinya. Lalu, adakah ia telah menemukan sepenggal kesadaran transcendental: siapakah sesungguhnya aku? Benarkah ia menyadari diri sebagai seorang kreatif, manifestasi Sang Kreator Agung?

Hanya Herman Beng yang bisa menjawabnya dengan karya-karya yang akan terus digelutinya. Tentu, sekali lagi, bila anugerah kegairahan hidup masih menyertai dirinya. Pun bila ia intens menziarahi dirinya.

Demikianlah, sebuah perjalanan seorang manusia yang ingin mencapai pemaknaan dirinya dan kehadirannya sebagai manusia: bergerak. Bergerak untuk selalu mencari makna diri di setiap langkah dan perenungannya. Ketika Herman Beng memberikan kabar sebelum Lebaran 2010 untuk mempersiapkan pameran seni rupa karya-karyanya di Jogjakarta, saya teringat dengan semangat. Semangat untuk menaklukkan sesuatu yang sempit hingga meluas dalam cakrawala yang tak terbayangkan sebelumnya dalam ranah kreativitas. Itulah daya kejut yang selalu saya nikmati, ketika Herman Beng mampu menaklukkan ruangan, juga medium penyampaian gagasan seni rupanya, dengan stamina yang selalu terjaga.

Surabaya, 23 September 2010.

Riadi Ngasiran

Esais dan penulis buku, di antaranya berjudul “Iki Lho: Memaknai Seni Rupa Alternatif Indonesia”.


Ritual Beng

Tidak banyak seniman yang senekat Beng. Saya katakan demikian, karena Beng selalu hadir dengan basis karya “apa adanya”. Pengertian “apa adanya” ini bukan sekadar ada atau mengada-ada, tetapi dia berkarya berangkat dari material “apa saja” yang dianggap representatif bagi keliaran kreatifnya. Artinya, Beng tidak mengultuskan cat minyak atau akrelik bersama kanvas, yang selama ini cenderung dianggap medium “ksatria”, sementara yang lain dianggap medium “sudra”. Akibat pengultusan terhadap material tersebut, lantas muncul anggapan, hanya seni yang bermedium “ksatria”-lah yang bisa dikoleksi atau diperdagangkan melalui berbagai pameran yang penuh gebyar dan tepuk tangan para kolektor.

Beng tidak perduli itu. Yang penting bagi dia, berkesenian itu suatu proses yang jujur dan total antara gejolak gagasan, emosi, dan pilihan medium yang tepat dan bermakna. Beng tampak meyakini pilihan medium yang terkesan “apa adanya” itu, sebenarnya bertolak dari sikap pemberontakannya terhadap berbagai mitos soal medium dan berbagai mitos pasar yang secara hegemonistik memarjinalkan sejumlah medium dengan berbagai alasan. Dari sinilah, Beng lantas dengan penuh intens mengeksplorasi medium alternatif dengan gagasan visual yang sering mengejutkan.

Saya katakan mengejutkan, karena dia berani keluar dari keumuman. Dia berani melawan tren. Dia berani bersikap terhadap proses kesenian yang hanya sekadar artikulatif, instan, dan tanpa memiliki basis ideologis. Baginya, berkesenian itu adalah semacam ruang ritual, yang berdimensi ruhaniah. Karena itu, dia melakukannya dengan penuh percaya diri, dan penuh kejujuran.

Sejumlah pameran Beng yang sempat saya lihat, selalu menerbitkan tanda tanya, betapa Beng selalu tampak lepas emosinya ketika dia mengeksplorasi garis-gemaris. Garis-garis, titik-titik, atau guratan-guratan warna tampak datang silih berganti dalam sebuah bidang dengan ukuran tertentu, dan bidang itu diulang-ulang dalam jumlah tertentu. Hasilnya, berupa ritme yang kaya, dinamika yang mengalir deras, nada emosi yang terjaga, dan terkadang mencuat intuisinya yang liar.

Dalam pameran kali ini, saya kira Beng masih berada dalam ruang jelajah kreatif yang semacam itu. Eksplorasi garis tetap menjadi pilihan utama. Tampaknya dia amat menikmati tiap tarikan garis yang diulang-ulang sebagai bahasa visual yang menyembunyikan energi biomorfik. Energi ini memang sejenis energi yang memiliki daya hidup, karena dia mengalir terus, meruang dalam ruang yang tanpa batas, dan membentuk dalam konfigurasi bentuk yang kaya dan tak terduga.

Dengan energi biomorfik, Beng berhasil melepaskan diri dari berbagai bayang-bayang budaya visual yang terus-menerus menggempur persepsi kita hari ini. Budaya visual yang terus-menerus diproduksi via berbagai media cetak dan elektronik, acap kali melenakan ketajaman persepsi, karena budaya visual itu sering tampil dengan sejumlah ideologi penaklukan. Ketika seni rupa kontemporer digempur oleh berbagai ikon visual ala China, misalnya, sebagian besar perupa Indonesia tampak merayakannya dengan segala praktik seni rupa yang bernada kurang-lebih sama. Lihatlah, misalnya, tiba-tiba seni rupa Indonesia diwarnai oleh strategi visual yang minimalis, latar belakang datar, emosi diredam, dan aspek desain visual yang ditonjolkan.

Beng ternyata tidak mudah ditaklukan. Dia tetap saja percaya dengan bahasa batinnya. Dia tetap saja percaya pada garis-garis intuitifnya. Dengan bersikap seperti itu, Beng lantas memiliki wilayah otonom keseniannya yang berbeda. Di sini Beng berkuasa penuh atas eksistensinya. Dia tak berada dalam hiruk-pikuk pasar, kerena dia pada dasarnya tidak memiliki daya tarik untuk terlalu larut dalam gelimang pasar. Dia menurut hemat saya, dalam posisi ini berhasil mencitrakan dirinya sebagai seniman yang berjuang dalam proses yang natural−tidak terdistorsi oleh tren pasar, tidak terjebak dalam monotonalitas visual, dan tidak ikut merayakan sesuatu yang instan.

Karya Beng kali ini, dari segi pilihan medium saja tampak jelas ada semacam jejak pemberontakannya. Dia memilih kertas koran tentu dengan pertimbangan tertentu. Kertas koran memiliki jejak tipografis yang kaya. Kertas koran juga memiliki dimensi histori yang tersembunyi, karena dia menyimpan jejak informasi individu maupun sosial.

Artinya, kertas ini bukan hadir dalam keadaan telanjang atau bersih, tetapi dia telah menyodorkan persoalan. Dari sinilah Beng kemudian memasuki ruang jelajah kreatif dengan berselancar di antara ratusan jejak historis dengan garis-gemaris sebagai semacam indeks yang menjelaskan bahwa dia pernah hadir di situ. Kehadirannya, boleh jadi ikut mewarnai atau sekadar menyela di dalam dinamika historis itu. Apapun makna kehadirannya, tampaknya Beng tak mempedulikannnya. Dia tampak melakoninya dengan penuh keyakinan, karena itu Beng patut dicatat sebagai entitas yang bermakna.

Dengan demikian, garis-garis itu menurut interpretasi saya sesungguhnya mencitrakan perjalanan eksistensial Beng di antara gerak sejarah. Garis-garis itu hadir secara spontan, yang kemudian membentuk berbagai citraan yang kaya, dan imajinatif. Dengan garis-garis itu, Beng seperti ingin dicatat bahwa dia hadir dengan segenap konsistensi dan kejujuran. Garis-garis itu tidak lain dan tidak bukan adalah jejak-jejak ritualnya.

Djuli Djatiprambudi – Peneliti seni rupa


Dzikir Pak Beng di ruang Blank

Bulan mei lalu Pak beng ikut program pameran tunggal giliran / berkala di Museum of Mind [MoM]; ruang seni yang kami kelola bersama arek(s)museum yang berada di komplek ex-musium mpu tantular surabaya. Pak Beng yang nota bene ‘kawantua’ sewaktu-waktu datang ngajak sharing menawarkan gagasan akhirnya ber-pameran ‘To be Myself’. Di dalam katalog pamerannya. saya gambarkan karyanya melalui prosa, kurang lebih kutipannya begini:

..Disini ruang-ruang luas tanpa perabot yang menutupi. Cahayanya dari penat keseharian dan kemalaman. Semua telah ‘jlentreh’ dibeberkan jadi jalan tempat bertarung lebih internasional maka datanglah kerelaan dan sikap kreatif, diujung perubahan tak ada yang terluka menjadi diri sendiri. Ada seni dipamerkan pak beng, ada keasyikan musik visual, ada sajian yang diolah tak sekedar pajangan manis, asin atau pahitnya cinta mentah, namun jelas kertas-kertas tertempel di dinding. gerak dan irama, membius tanpa memperdaya, membunuh tanpa menjatuhkan semangat. Inilah susunan Koran-geometris sederhana berjajar dengan sifat-sifat organis, serta ketidakaturannya menjadi variasi dasar dan posisi, melayani naluri manusia akan kesadaran imajinasi dan keyakinan kerja. Ketekunan yang menyimpan kadar-kadar perasaan liris akan alam bahkan alam hayati. Tak akan ada yang tertipu, nikmatilah pembunuhan akan mistis yang tak mendasar, nikmatilah ketekunan nyata dan hidup ini. Nikmatilah To be Myself.. ( MoM artspace, Mei, 2010 ).

Dalam hal ini, saya teringat kerja seorang komposer yang penuh gairah. Ia dapat  merasakan jika nilai-nilai orkestra pernah runtuh kesakitan oleh not-not tak berguna. Kita tahu, banyak komposisi musik memasukan hal-hal bagus dari aktivitas yang murni teknis; gagasan/tema, penciptaan, variasi, tegangan, transisi, dan sebagainya. Akhirnya musik tak ubahnya seni grafis yang biasa disusun dengan komputer, meski saya percaya selalu ada komputer dalam kepala-kepala komposer maupun seniman grafis. Pada tarikan mouse dan petikan keyboard, mereka dapat menulis music tanpa ide tunggal yang orisinal, hanya mengikuti hukum-hukum cybernetik dalam sebuah komposisi. Sebuah penjajaran meskipun bertransisi, mengulang-ulang, bervariasi dan selalu langsung menuju jantung kebendaan; namun hanya not yang menyatakan sesuatu yang esensial  yang memiliki hak hidup. Kasarnya, ide yang sama berlaku terhadap visual; karya visual juga dibelenggu oleh hal-hal teknis, oleh konvensi-konvensi yang menjalankan karya sang kreator untuknya: menyajikan sebuah citra, menggambarkan lingkungan pergaulan yang menyakitkan, menaruh aksi-aksi dalam sejarah penciptaan, mengisikan waktu dalam kehidupan lambang-lambang tak berguna.

Maka setiap impian yang terlintas mau gak mau membutuhkan gagasan baru, gambaran situasi, plus statement terbuka. Antara kerja manual dan bahan cetak mesin bersaing bahkan mampu bersanding untuk membangun dinding dari harapan yang sempat dibuang, membuat jalan dari kepungan batasan-batasan trend. Dari sinilah saya melihat adanya usulan Pak Beng yang lebih otentik, yaitu keinginan untuk membersihkan otomatisme karya-karya teknis sekaligus memadatkan ide-ide verbal. Layaknya bertemu ‘peternak’ kita bisa menikmati dan melihat langsung ketekunan, energy, harapan, variasinya termasuk penderitaannya…Dengan kata lain, Pak Beng nampak berupaya juga berjuang mempersiapkan kepantasan-kepantasan untuk semua yang dicapai, diharapkan, dapat dimiliki, atau pikiran yang hendak dibagikan, gambaran yang dibunyikan berulang-ulang… seolah dzikir alias pengosongan hasrat-hasrat bendawi tapi familiar?

Akhirnya saya ucapkan buat smuanya saja selamat menyelami pembunuhan dan pembiusan ini.

@ Chyalabi Achya, Musium mpu tantular, 2010,September

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


Leave a Reply