Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Dari A sampai Z” – Subandyo Widyo Aprilianto (Lilik)
poster
Start: Saturday, May 31, 2008 at 19:00 WIB
End: Saturday, June 14, 2008 at 23:00 WIB
Location: Jogja Nasional Museum
Address: Jl. Amri Yahya no.1 Wirobrajan
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

Sebuah kepekaan jauh lebih berarti

dari setumpuk keberanian


Sebuah truk peti kemas melaju dengan kencang di jalan dan menyalip motor yang ditungganginya, angin yang ditimbulkan dari truk saat melaju tersebut telah membuat motornya sedikit oleng, dengan segera ia menyeimbangkan posisi agar kembali tenang, dengan perasaan yang masih kaget, ia pandangi truk besar tersebut sambil bertanya-tanya isi muatan di dalam peti kemas, apa yang diangkutnya, sepenting apakah benda di dalam peti kemas itu, apakah sopir truk itu tak tahan menahan rasa ingin buang air besar hingga memacu truknya dengan kecepatan yang membuat kaget bagi pengendara lainnya. Sepertinya apapun yang dimuat oleh truk itu mengandung pesan yang sangat berarti bagi seseorang, petikemas itu merupakan pembungkus dari sebuah pesan. Sebagaimana yang terjadi pada selembar kertas dalam botol yang terapung di lautan, bom malotof dari sebuah kejadian, ajaran atau pengetahuan yang terbungkus dalam sebuah buku, ruang dan waktu adalah pembungkus pesan.

Sebagaimana Sudandyo Widyo Aprilianto yang biasa disapa Lilik, melihat petikemas selayaknya botol yang di dalamnya terdapat sebuah pesan. Baginya media pembungkus pesan sangat menarik untuk di kemukakan melalui karya lukis. Pembungkus pesan merupakan bagian dari pesan yang sering terabaikan dari pada pesan itu sendiri, pembungkus pesan tidaklah berfungsi sebatas pelindung pesan sampai pesan itu ‘terbaca’ oleh seseorang. Lilik sangat tertarik dengan sebuah botol, yang menurutnya sebuah botol berfungsi lebih berarti saat didalam botol itu terdapat sebuah gulungan kertas yang mengandung sebuah pesan, dibandingkan hanya ketika botol itu menampung air selayaknya botol dengan fungsi standartnya.

Yang lebih menarik ketika pengembangan rasa dari Lilik, saat melihat sebuah pembungkus pesan itu beralih fungsi kesekian kali dari fungsi pertamanya, awalnya botol berfungsi sebagai penampung cairan, kemudian beralih menjadi penampung kertas surat, dan baralih lagi menjadi penampung cairan mudah terbakar atau bom Molotov. Disini Lilik merasakan beralihnya sebuah botol, beralih pula asumsinya terhadap botol itu.

Kepekaan lilik terhadap sesuatu yang ingin diangkat dalam karya lukis melebihi keberaniannya dalam menampilkan obyek pada lukisannya. Dengan sederhana, lilik menampilkan obyek botol pada lukisan yang berjudul; Holly Spirit, Awal dari Perlawanan, No Message Today. Visual dari karya tersebut sederhana, namun terasa kuat dengan muatan tema dari karya tersebut. Pada karya tersebut terdapat kepekaan yang lebih dari sekedar keberanian menampilkan karya seni lukisnya. Kepekaan dalam mengusung tema pada proses berkarya sangatlah dibutuhkan oleh seniman, mampu menerjemahkan apa yang dirasakan dan mevisualkan ke dalam karya seni dibutuhkan kemauan yang besar dalam berkesenian.

Kebulatan tekad yang mampu melewati hari-hari, yang mana keseharian seorang seniman ( yang masih sedikit jam terbang ) sangat terasa berat jika di benturkan pada masalah perekonomian. Melihat beberapa rekan seprofesinya melaju dengan cepat perekonomiannya yang didapat dari berkarya, sangat mengganggu pikiran, dan memicu cara berpikir dengan mempelajari manajemen rekannya yang sukses terlebih dahulu, tiada yang salah dalam hal ini!!!… namun konsentrasi kreativitas dalam berkarya bisa berkurang tanpa terasa, bahkan dengan serta merta meniru gaya dari seniman yang karyanya mulai diminati oleh pasar seni.

Booming lukisan yang terjadi saat ini merubah perekonomian yang lebih baik pada seorang seniman yang karyanya diterima oleh pasar seni. Beberapa seniman yang sebelum booming sudah meleburkan dirinya secara total dalam berkesenian, saat ini menerima imbas perekonomian dari booming, adalah sebuah perjuangan hidup yang telah terbayarkan, ketenangan dalam perekonomian ternikmatkan dengan seksama, kepedihan hidup masa lalu terbayarkan saat ini. Keadaan menyenangkan itu membuat seniman berkarya secara membabi buta, dengan memproduksi karya seni secara berlebihan, dengan level kecepatan berkarya yang meningkat drastis, akankah kepekaan dalam membuat karya terpelihara???

Banyak orang memiliki karya seni dan beramai-ramai menjualnya karena nilai jual meningkat, membanjirlah karya seni di pasar seni hingga terjadi keaneka ragaman harga karya seni yang di buat oleh satu seniman, seorang kolektor mengatakan beberapa lukisan dari seorang seniman tidak laku terjual di balai lelang karena karya tersebut banyak didapatkan diluar balai lelang, dan jika mau lebih telaten maka akan mendapatkan harga yang lebih rendah di luar balai lelang. Benarkah, hampir semua pembeli karya seni adalah seorang penjual karya?, yang mana nilai jual lebih penting dibandingkan muatan artistiknya dari sebuah karya seni. Jika begitu adanya, maka pemilik karya seni akan merugi, karena banyak karya seni yang dimilikinya, namun tidak memiliki nilai jual. Dengan menurunnya harga ( dari sebagian seniman) karya seni ini, apakah menandai booming yang mulai meninggalkan dunia kesenian kita? Ataukah bobot nilai dari sebuah karya seni yang tersentuh booming sudah mulai menurun? Apakah seorang seniman seharusnya memerlukan kepekaan dalam memilih pembeli karya? Mungkinkah seniman turut berperan aktif dalam mengendalikan sirkulasi penjualan karya?

Booming yang terasa indah ini telah menggairahkan semua elemen kesenian dalam menjalankan kreativitasnya masing-masing, seniman yang tersuport secara meteri dan spirit, kantong-kantong seni yang semakin percaya diri, gallery-gallery seni yang terus menerus menggelar pemeran seni, munculnya kurator ataupun penulis dengan kemampuan yang pas-pasan namun bertindak seakan telah mengupas luar dalam tentang kesenian, menulis tentang seni dengan sebanyak-banyaknya mengutip referensi hanya untuk menunjukkan sering membaca dan mengenal banyak tokoh – tokoh seni di dunia. Bahkan bermunculan wajah-wajah baru dalam mengoleksi ( Baca: membeli ) karya seni. Dan yang lebih menakjubkan keadaan ini mampu menarik orang dari luar kalangan seni untuk membuat karya seni, dengan semangat tinggi bermaksud untuk mempelajari lebih jauh dunia seni, membuat karya seni dengan tanpa ragu mencantumkan harga yang fantastik pada karyanya, yang lebih lucu, berani membuat dan menjual karya seni tanpa memiliki latar belakang berkesenian.

Mudahnya karya seni terjual dengan harga tinggi pada kondisi booming ini, sangat menggoda seseorang untuk turut membuat karya seni. Jika di hitung secara dagang, modal yang dikeluarkan kurang lebih hanya 10 % dari hasil penjualan karya. Disaat yang sama bisa dilihat proses pembuatan karya seni terlihat sangat mudah untuk dilakukan,  hal ini semakin menggoda untuk menggeluti dunia seni. Sepertinya dunia seni tidak menciptakan seorang seniman tanpa latar belakang berkesenian, sebagaimana dalam membeli karya seni dengan harga tinggi, akan lebih nyaman jika tahu latar belakang berkesenian dari si pencipta karya seni tersebut, hal ini bukan berarti latar belakang seorang seniman yang diwakili oleh institusi seni yang pernah di masukinya, namun proses sehari-hari dalam menggeluti dunia seni dalam waktu yang tidak sedikit dan dengan resiko social yang tinggi. Jika dilihat dari keberanian untuk menciptakan sebuah karya seni, sangatlah menyenangkan untuk dijadikan inspirasi dalam menjalankan kehidupan, namun keberanian  saja tidaklah cukup tanpa diimbangi oleh kepekaan.

Kepekaan yang membuat seseorang sadar akan eksistensinya. Mencoba hal baru bukanlah sebuah dosa bagi seseorang. Eksplorasi kreativitas merupakan salah satu bentuk untuk bisa diakuinya eksistensi seseorang, tidak akan terlihat sia-sia eksplorasinya jika kepekaan dalam memahami sesutu sering diasa. Sebagaima proses berkarya dari Lilik, ada yang mengatakan beberapa karya Lilik mirip dengan karya S.Teddy.D, begitupun karyanya terasa seperti karya dari komunitas seni Taring Padi yang diikutinya, namun banyak pula karyanya yang terlihat dari diri sendiri. Dengan kepekaan yang dimilikinya, Lilik, dalam menyikapi pengaruh seseorang maupun lingkungannya, ia tetap bisa memberi ‘warna’ sendiri dalam karya seni yang di buatnya. Lilik seakan seperti orang yang setia pada pesan yang didapatnya, namun dengan kepekaanya ia mampu menciptakan karya seni yang ter-influence dari eksternal dirinya di olah menjadi sebuah karya seni yang mewakili dirinya.

Kepekaan Lilik terhadap sesuatu hal, diangkat menjadi tema dalam berkarya, membuatnya lebih tenang dalam bersikap di bandingkan menyikapi ‘kaum oportunis’ yang mencari celah  untuk keuntungan semata dalam kondisi booming. Pengumpulan reverensi  untuk memperkaya ide dan ketekunan yang di pelihara dalam menambah tekhnik berkeseniannya membuatnya tidak ada waktu untuk menyikapi hal-hal miring tentang dunia seni saat ini, “aku lebih cenderung untuk berkarya daripada menyikapi Booming atau tidak Booming pada dunia seni rupa” ujarnya.

“Adherence of the message”

Yoyok MDTL


SEKAPUR SIRIH

SEBUTIR KAMLET

SERATUS KATA

salam,

MDTL bekerja sama dengan JNM untuk menggelar pameran tunggal Lilik. Kami tertarik untuk menampilkan karya Lilik karena proses berkeseniannya sesuai dengan harapan kami dalam berkesenian, MDTL selalu mencari pelukis muda yang selalu bereksplorasi sesuai dengan kehendak hatinya tanpa terpusingkan oleh tekanan dari luar dirinya.

Lilik sebagai anggota kelompok seni Taring Padi sedikit banyak telah memberi dan ter-influence karya lukis yang di tampilkan pada teman-teman taring padi, sebagaimana sering saya jumpai karya lukis teman-teman taring padi lebih banyak bercerita tentang kehidupan social budaya masarakat, dalam tampilan visual dari karya tersebut, terlihat menangkap obyek social di luar diri yang di pindahkan kedalam kanvas dalam suasana yang ramai atau banyak figure yang mengisi kanvas tersebut. Banyak cerita dari sebuah karya lukis di simbolkan dengan banyak bahasa.

Saat ini beberapa seniman di Taring Padi mulai bereksplorasi terhadap bentuk visual lukisannya. Seperti halnya Toni Volunteero, Bayu widodo, Ucup, Setu Legi dll. Lilik telah mengangkat tema yang lebih bersifat individu atau lebih bersifat personal. Cerita diri sendiri lebih banyak mendapatkan porsi dalam lukisannya. Tampilan karya yang minimalis, dan lebih terlihat mengalir, apa adanya ,dan terasa have fun, tanpa kehilangan jejak dan pengamatan atas sisi-sisi orang kalah.

Menarik saat melihat karya Lilik yang merespon tentang sebuah botol yang bisa berfungsi sebagai penyampai pesan, botol yang melambangkan persahabatan saat ngumpul bersama sambil menenggak minuman, botol terlihat sebagai lambang dari diplomasi ketika sebuah perjanjian tercipta saat minuman dari satu botol dibagi dan diminum bersama-sama, begitupun botol sebagai lambang dari perlawanan ketika di jadikan Molotov.

Tema dari botol yang di sampaikan Lilik melahirkan wacana baru dalam sebuah penyampaian pesan. Dahulu botol di pakai oleh pelaut sebagai pembungkus pesan, dimasukannya surat kedalam botol dan dihanyutka ke lautan, isi pesan dalam botol itu bersifat harapan yang pupus, dihanyutkan kelaut tanpa tahu pasti kapan, siapa dan dimana pesan itu terbaca. Namun sekarang botol bisa dilambangkan sebagai penyampai pesan secara singkat dan tepat saat botol di jadikan sebagai lambang persahabatan, perjanjian, maupun perlawanan.

Dalam pameran ini MDTL menyambut gembira atas dibukanya tiga kantor baru dari tiga kantong seni ( MDTL, Katalis dan Toni featuring Taring Padi ) serta dibukanya Galerry Rakyat. MDTL mengucapkan terimakasih kepada JNM atas kerjasamanya dalam pameran ini dan menfasilitasi tiga kantor/ secretariat baru serta Galerry Rakyat.

Ugo Untoro

Museum Dan Tanah Liat


Riak dan Mutiara

Renungan yang Hampir Dianggap Klasik dan Klise

Ketika Lilik memintaku menulis untuk pameran tunggal pertamanya, hal pertama yang kulakukan adalah mengajaknya berbincang. Aku ingin tahu, perihal hambatan-hambatan atau belenggu-belenggu apa saja yang mengganggu pikirannya di dalam menghadapi proses menggelar pameran tunggalnya itu.

Dari perbincangan itu, aku tahu, setidaknya ada dua hal pokok yang mengganggu pikiran Lilik. Pertama, Lilik khawatir, apakah lukisan-lukisannya akan gampang dipahami oleh para penikmat lukisan? Kedua, mental Lilik sempat ngedrop karena ada beberapa orang yang bertanya kepadanya, apakah ia melakukan ini semua karena sedang terjadi booming lukisan?

Di saat aku mendengar keluhan itu, tiba-tiba aku merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk mencoba merenungkan kembali beberapa hal yang sudah berbulan-bulan mengggelayut di pikiranku. Aku mencoba menjadikan kekhawatiran-kekhawatiran Lilik itu semacam batu asah atas renungan-renunganku.

Ketika booming lukisan terjadi lagi, salah satu hal yang menggangguku justru rentetan pertanyaan yang terdengar klasik: Kenapa seseorang melukis? Kenapa seseorang terus melukis? Kenapa pula, setiap saat ada banyak pelukis yang lahir, dan ada begitu banyak berbondong-bondong orang memasuki jagat seni lukis? Benarkah semua itu hanya melulu hanya soal ekonomi? Hanya sebatas soal uang?

Aku teringat, dulu saat aku masih kecil, di rumah kakekku terdapat sebuah lukisan yang dibuat oleh seorang tahanan politik. Lukisan itu didapat oleh salah satu pamanku yang kebetulan berprofesi sebagai sipir penjara. Setelah lama berlalu, aku teringat hal itu lagi, dan membuatku bertanya-tanya, kenapa orang itu di saat yang sulit malah melukis? Satu hal yang jelas, ia melukis bukan untuk mendapatkan uang.

Ingatanku kemudian diperkaya lagi oleh sebuah cerita dari seorang teman, tentang bagaimana seorang dalang yang dibuang di Pulau Buru. Si dalang itu, di dalam kondisi yang serba kekurangan, meluangkan diri untuk membuat wayang dari rumput, atau bahkan mendalang dengan alat-alat sederhana, seperti alat-alat dapur. Pertanyaannya adalah, kenapa ia melakukan semua itu? Satu hal yang jelas, ia melakukan itu bukan untuk mendapatkan uang.

Atau, aku kemudian teringat bagaimana kisah seorang Pramoedya Ananta Toer, saat ia juga dibuang di Pulau Buru, ia melisankan sebuah maha karya roman-nya yang kemudian dikenal dengan nama Kuartet Buru. Karena keterbatasan bahan dan alat tulis, Pram mendongeng! Sekali lagi, kenapa Pram melakukan hal itu? Apakah ia berpikir saat itu bahwa ia sedang memproses sebuah orok kreativitas yang kelak akan membuatnya mendapatkan uang atau ketenaran nama? Aku berani menjamin, jawabannya adalah tidak.

Kreativitas adalah salah satu urusan manusia yang paling penting. Kreativitas terbit jauh hari, sebelum soal ekonomi berkembang begitu kompleks seperti saat ini. Proses meniru dan merekayasa, kreasi dan rekreasi, telah lama hadir jauh hari sebelum manusia menemukan alat tukar yang berupa uang, dan tentu telah lama ada jauh abad sebelum manusia menemukan alat tukar digital.

Laku berkreativitas, sama tuanya dengan laku menyelesaikan urusan perut. Di saat peradaban manusia masih dalam tahap berburu dan meramu, kita tahu, bahwa di saat itu pula, sudah ada lukisan-lukisan di dinding batu, sudah ada mantra-mantra, dan sudah ada tarian-tarian purba. Proses kreativitas adalah masalah perluasan eksistensi manusia untuk menjawab dan merespons kehidupannya. Itulah yang kemudian kusepakati dengan sebutan ‘laku spiritual’. Berkreasi, berkesenian, berpijak pada sikap mental manusia. Manusia bergembira, manusia bersedih, manusia bersyukur, manusia mengerang, manusia terangsang, manusia berpikir, dan kemudian manusia berkarya untuk mengeluarkan lapis-lapis problema kediriannya.

Lalu, apakah hal-hal seperti itu sudah klasik dan klise dalam proses kreatif seorang seniman di abad modern ini? Apakah ekonomi uang dan bujuk rayu kemewahan dengan serta merta dapat menggantikan landasan ini? Terlalu berlebihan kalau kemudian kita mengatakan ya. Paling tidak, tidak semua seniman tertelikung dan terjerembab dalam jurang problema ekonomi.

Ketika beberapa tahun yang lalu ada seorang kritikus senirupa yang mengeluarkan pernyataan bahwa seniman Yogya hanya melulu berpijak pada soal uang, banyak seniman Yogya yang marah. Siapa bilang? Apa buktinya? Apakah hanya karena bukti-bukti serupa nila setitik maka rusaklah susu sebelanga? Pernahkah ia, yang mengeluarkan pernyataan itu, tahu betul soal laku kesenimanan di Yogya? Tahukan ia soal Pak X yang terus melukis sekalipun lukisannya tidak laku. Tahukan ia soal Mas Y yang terus membuat karya sekalipun karyanya tidak pernah memberi imbal hasil berupa uang?

Dunia ini, sering dirusak oleh konklusi-konklusi yang serampangan, diganggu oleh rumusan-rumusan yang dangkal, dan dikebiri oleh pernyataan-pernyataan yang ‘gebyah uyah padha asine’, disamakan alias diseragamkan.

Memang benar, kesenian di zaman seperti ini, tidak bisa dilepaskan dari kutukan ekonomi. Tetapi hal seperti itu bukanlah monopoli dunia seni, di dunia yang lain, politik misalnya atau bahkan agama, ekonomi uang juga menggejala. Tetapi bisakah kita mengatakan bahwa semua hal harus dikembalikan dan dilabur dengan uang? Seorang seniman memang harus bersiasat dan punya strategi. Tetapi terlalu berlebihan bahkan bila kita berani mengatakan bahwa seorang seniman yang karyanya laku, maka ia menghamba kepada uang. Jika kita berani menyimpulkan hal seperti itu, maka kita telah berani mencederai kehidupan.

Setiap lini kehidupan dan juga seseorang, pastilah punya resistensi untuk menghadapi kehidupan ini. Bahkan jika ia kemudian memutuskan untuk melacurkan diri. Dunia ini tidak hitam putih, tapi penuh nuansa, ada gradasi.

Dengan pemahaman seperti itu, aku bisa mengatakan bahwa kekhawatiran Lilik soal apakah pameran tunggalnya kali ini karena ia menggunakan momentum booming lukisan, haruslah dikembalikan pada soal motivasi dan spirit berkaryanya. Booming lukisan tidak bisa kita hindari. Booming lukisan pada beberapa sisi memang membahayakan, tapi di sisi yang lain juga menguntungkan. Justru di saat seperti inilah, seorang perupa diuji kiat dan siasatnya. Dan di saat seperti inilah justru seorang perupa bisa mengisi celah, berpartisipasi, mendinamiskan sisi-sisi yang kurang dengan sisi-sisi yang berlebihan.

Soal motivasi dan spirit berkarya juga bisa menjawab masalah soal apakah lukisan Lilik bisa diterima dengan baik oleh para penikmat seni lukis. Kembalikan persoalan kepada pondasinya, misalnya dengan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana: Kenapa ia melukis? Untuk apa ia melukis?

Kejujuran. Itu kata kuncinya. Memang, kata ‘jujur’ sering dipakai sebagai apologi, tetapi bukan berarti dunia tidak membutuhkan lagi kejujuran. Kalau soal grogi dan gugup, apalagi menghadapi momentum pameran tunggal pertama, aku pikir banyak pelukis berhadapan dengan masalah seperti itu. Jangankan Lilik, aku yang sudah berkali-kali pameran pun selalu grogi. Hal yang sama juga kudapati pada beberapa perupa yang kukenal. Gugup adalah soal lain, pranata dan sikap batin juga soal yang lain. Yang pertama, lebih bersifat ‘teknis’, sedang hal yang kedua lebih bersifat ‘paradigmatik’.

Namun, pengalamanku sendiri mengajarkan bahwa yang bersifat ‘paradigmatik’ itu tidak serta merta ditemukan. Selalu saja ada proses mengalami, belajar, merenung, dan berani memikirkan terutama dengan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental secara jujur.

Aku berpendapat bahwa wajar jika seorang pelukis melakukan pameran, baik tunggal maupun bersama. Hal seperti itu sama wajarnya dengan seorang musisi yang melakukan konser atau seorang sastrawan menerbitkan buku. Apa yang aneh dari itu? Soal kemudian apakah seorang pelukis menjadi grogi atau tidak saat akan berpameran, bisa dipengaruhi dari proses mengalami dan jam terbang. Tetapi paling tidak, ketika ia sudah semakin menemukan paradigma berkaryanya, sudah ‘jejeg’ tiang-tiang yang menopang kreativitasnya, rasa grogi adalah riak-riak yang justru membuat asyik perjalanan sebuah biduk. Riak-riak itu tidak akan mendamparkan biduk itu ke sebuah pulau yang tidak dikenalnya, dan tidak akan menenggelamkannya.

Dalam perbincanganku dengan Lilik, sesungguhnya aku mulai meraba bahwa tiang-tiang kreativitasnya sudah ‘jejeg’ dan bahkan kokoh. Ia banyak melukis di media kertas, media yang dianggap ‘tidak laku’ secara ekonomi. Ia juga tetap melukis saat ia berpergian jauh. Apakah ia melakukan hal itu karena soal ekonomi semata? Kalau soal ekonomi semata, mengapa ia melukis di atas kertas dan mengapa ia masih tetap melukis saat ia ‘terasing’ dari dunia ekonomi lukisan saat ia berada di tempat-tempat yang jauh?

Paradigma berkreasi menurutku, serupa dengan para pemeluk agama di dalam menemukan landasan imannya. Ia terus mencari dan melakukan. Terus merenung dan berani bertanya. Ada sekian banyak cara untuk menambah kadar keimanan seseorang, termasuk mengaji dan mendengarkan lagu-lagu suci. Menghadiri ceramah-ceramah dan melakukan pantangan-pantangan. Iman, tidak pernah hadir dari ‘sana’, tiba-tiba ada. Dan iman, juga terus bergerak, bisa melemah, bisa menguat. Bahkan kalau iman menguat, godaan-godaannya pun semakin menghebat.

Seorang seniman juga seperti itu. Ada saatnya ia ‘up’ ada pula saatnya ia ‘down’. Maka kemudian dibutuhkan manajemen batin yang baik. Kalau pengalamanku sendiri, di saat aku merasa ‘down’, aku akan banyak membaca kisah para pekerja kreatif di dalam menjalani proses kehidupannya. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan suntikan semangat. Atau aku akan banyak diskusi dengan teman-teman pekerja seni yang lain. Dengan saling berbagi rasa, maka akan memberi kelegaan dan sekaligus bisa mendatangkan inspirasi. Tidak ada sesuatu yang statis, semua serba bergerak, dinamis.

Hal seperti di atas, masih baru satu dari sekian banyak hal yang penting dilakukan oleh seorang seniman. Masih ada soal lain seperti misalnya memperkaya metode, melatih ketrampilan, dan lain-lain. Tetapi tanpa sikap batin yang jelas, hal-hal yang lain tidak akan begitu berguna. Tanpa tiang yang kokoh, atap bangunan sebagus apapun akan percuma.

Aku sangat percaya dengan pepatah ‘siapa yang mencari akan menemukan’, dan aku sangat percaya pada pepatah yang lain, ‘hanya mereka yang berani menyelam di kedalaman yang akan mendapatkan mutiara’. Seorang seniman harus berani terus mencari, dan ia akan menemukan sesuatu. Kalau sudah menemukan ‘sesuatu’ itu, maka ia akan enak di dalam berkarya. Kadar temuan itu seiring dengan apa yang berani ia bayar. Yang hanya berani di pinggir laut, cuma mendapat ikan kecil dan kerang. Sedangkan yang berani menyelam di kedalaman akan mendapatkan ikan besar atau mutiara. ‘No pain, no gain’. Umpan kecil dan kail kecil hanya bisa mengundang ikan kecil, juga sebaliknya. Tetapi ingat, bahwa temuan itu tidak melulu berhubungan dengan uang. Atau, jangan-jangan uang hanyalah ‘ikan-ikan kecil’ atau juga ‘kerang’.

Ayo Lilik, berlayarlah ke laut yang jauh dan menyelamlah di kedalamannya. Temukan dan persembahkanlah mutiara untuk dirimu dan untuk dunia!

S Teddy D

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • Anonymous, acrylic on canvas, 78x40cm, 2008
    Anonymous, acrylic on canvas, 78x40cm, 2008
  • awal dari perlawanan, acrylic on canvas, 110x145 cm, 2008
    awal dari perlawanan, acrylic on canvas, 110x145 cm, 2008
  • Balance of Choice, acrylic on canvas,  A4, 2006
    Balance of Choice, acrylic on canvas, A4, 2006
  • Berdoalah, acrylic on canvas,  A4, 2006
    Berdoalah, acrylic on canvas, A4, 2006
  • bottle head, acrylic on canvas, 70x60cm, 2008
    bottle head, acrylic on canvas, 70x60cm, 2008
  • Di Balik Botol, acrylic on canvas, 70x60cm, 2008
    Di Balik Botol, acrylic on canvas, 70x60cm, 2008
  • Empty, acrylic on canvas, 75x70cm, 2008
    Empty, acrylic on canvas, 75x70cm, 2008
  • Enough is Enough #1, acrylic on canvas, 100x70cm, 2008
    Enough is Enough #1, acrylic on canvas, 100x70cm, 2008
  • Enough is Enough #2, acrylic on canvas, 100x70cm, 2008
    Enough is Enough #2, acrylic on canvas, 100x70cm, 2008
  • fat molotov, 140 x 120cm, acrylic on canvas, 2008
    fat molotov, 140 x 120cm, acrylic on canvas, 2008
  • Hadir di Tengah Perbincangan, acrylic on canvas, 120x140cm, 2008
    Hadir di Tengah Perbincangan, acrylic on canvas, 120x140cm, 2008
  • hisap sampai puas, acrylic on canvas, 140x110 cm, 2008
    hisap sampai puas, acrylic on canvas, 140x110 cm, 2008
  • holly spirit, 100x80 cm, acrylic on canvas, 2008
    holly spirit, 100x80 cm, acrylic on canvas, 2008
  • jauh dari rumah, acrylic on canvas, 75x65 cm, 2008
    jauh dari rumah, acrylic on canvas, 75x65 cm, 2008
  • kawan lama, acrylic on canvas, 100x80 cm, 2008
    kawan lama, acrylic on canvas, 100x80 cm, 2008
  • Kawan Lama, acrylic on paper, A4, 2006
    Kawan Lama, acrylic on paper, A4, 2006
  • kepalaku dimana, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
    kepalaku dimana, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
  • Kong x Kong, pencil color on paper 2007, A4
    Kong x Kong, pencil color on paper 2007, A4
  • magic ,80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
    magic ,80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
  • my heart, 75x75 cm,acrylic on canvas, 2004
    my heart, 75x75 cm,acrylic on canvas, 2004
  • No Message Today, acrylic on canvas, 2008, 100x70cm
    No Message Today, acrylic on canvas, 2008, 100x70cm
  • pertentangan, 80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
    pertentangan, 80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
  • pilihan ganda, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
    pilihan ganda, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
  • Satu Tubuh Dua Kepala, acrylic on canvas, 2008, 75x45cm
    Satu Tubuh Dua Kepala, acrylic on canvas, 2008, 75x45cm
  • sedia perahu sebelum banjir, 80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
    sedia perahu sebelum banjir, 80x90 cm, acrylic on canvas, 2008
  • Skinny Molotov, acrylic on canvas, 2008, 140x70cm
    Skinny Molotov, acrylic on canvas, 2008, 140x70cm
  • Sound of Party, acrylic on canvas, 2008, 70x60 cm
    Sound of Party, acrylic on canvas, 2008, 70x60 cm
  • super shopper, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
    super shopper, 90x80 cm, acrylic on canvas, 2008
  • Superhero Nothing, pencil color on paper 2007, A4 Rp 500rb
    Superhero Nothing, pencil color on paper 2007, A4 Rp 500rb
  • Susah, acrylic on paper, A4, 2007
    Susah, acrylic on paper, A4, 2007
  • Tragedi, acrylic on canvas, 2008, 80x100cm
    Tragedi, acrylic on canvas, 2008, 80x100cm
  • Tuan Tanah, pencil color on paper, A4, 2007
    Tuan Tanah, pencil color on paper, A4, 2007
  • Utusan Dari Langit, acrylic on paper, 2006, A4
    Utusan Dari Langit, acrylic on paper, 2006, A4
  • one night stand, 90x70 cm, mix media, 2004
    one night stand, 90x70 cm, mix media, 2004

Leave a Reply