Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“FINE WINE at 9″ – Bob “Sick” Yudhita – Cahyo Basuki “Yopi” – S. Teddy D. – Tohjaya Tono – Ugo Untoro – Yustony Volunteero
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:

Foreword from MDTL


Siapa bisa melewatkan ini??

Bob “sick” Yudhita, CahyoBasuki “yopi”, S. Teddy .D, TohjayaTono, UgoUntoro, dan Yustony Volunteero berkumpul dan berkarya bersama selama satu minggu di satu ruang yang bukan merupakan  studio salah satu dari mereka….dan kemudian berpameran di ruang yang sama.. FINE WINE at 9…

Berkarya dan berpameran secara natural,  liar dan tanpa tendensi apa-apa…pasti akan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari pameran-pameran  “mapan”  yang sudah biasa mereka ikuti. Tentu tidak mudah, mencapai waktu dan kesempatan ini. Di sela-sela kesibukan masing-masing dengan aktivitas kesenimanan-nya..mudah-mudahan selalu ada kerinduan untuk berkarya dan berbagi seperti ini…

Seni sangatlah personal, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya. Mudah-mudahan dengan adanya pameran ini.. akan memberi banyak masukan positif untuk teman-teman semua.

Selamat buat seniman-seniman hebat ini yang akhirnya bisa berpameran bersama.

Selamat Menikmati… it will be great exhibition!!

Love,

AditaAyu


Sekapursirih

Seni bukanlah sekadar keindahan yang secara umum banyak disenangi,  mudah dipahami dan menyenangkan; dia mencakup cantik, agung, indah, seimbang, menyegarkan, diperhatikan/diindahkan, berguna, kontras, bahkan membuat shock.

Seni muncul bukan dalam pengertian ìartî modern saja, dia telah ada sejak keberadaan manusia yang kala itu bersifat transenden yang mana antara kegiatan seni dan non seni tidak bisa terpisah. Segala gerak kegiatan adalah ucapan rasa takut sekaligus rasa syukur terhadap Sang Pencipta.

Tetapi sekarang yang kita pahami adalah seni modern yang terlepas dari kebutuhan praktis dan seni terlepas dari bahasa ibu, karena memang harus dipahami sebagai bahasa ekspresi individu yang lain atas kebiasaan, kecenderungan, dan atau konsep yang ditawarkan.

Kami Jurusan Seni Rupa terbangun dari pribadi-pribadi (mahasiswa) dari lingkungan yang ìmemberontakî, mereka dibentuk dengan sistem kekeluargaan, wajib diberi contoh nyata; artinya kami para pengajar adalah juga praktisi, perupa, dan sekaligus orang tua asuh dalam hal menyemangati hingga menunjukkan keberadaan wujud dari semangat/ eksistensi semangat atas dasar penerapan ekspresi dan cara hidup, penerapan tradisi bersaing kritik demi kritik.

Begitulah kami membentuk tidak hanya berkutat teori, pengajaran text book, dan dibalik layar belaka karena bagaimanapun kami (pengajar dan mahasiswa) berkutat pada disiplin kekreativitasan yang sama, bekerja/ berkarya terus menerus, semua ditopang oleh akar pondasi kejujuran, kelugasan, dan kerelaan.

Dasar akar di atas yang membentuk termasuk memperkenalkan perupa-perupa berlatar belakang spirit yang tidak jauh berbeda dengan kami, mereka telah mampu ìhidupî dengan profesi kesenimanannya, yaitu : Bob ìsickî Yudhita, Cahyo Basuki ìyopiî, S. Teddy D, Tohjaya Tono, Ugo Untoro, dan Yustony Volunteero. Baik mengenalkan akan kekaryaan; seni sketsa, gambar, mainan, objek, poor art, instalasi, patung dan lukisan. Diperkenalkan juga latar belakang kehidupan, gaya dan strategi survivalnya yang kesemua itu dipertemukan di Galeri Rakuti di kampus SekolahTinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Mereka juga berproses seminggu sebelum hari ìHî, artist talk, dan face to face.

Tidak berlebih kiranya akar pondasi pengajaran yang nyata, dimana sang pengajar adalah juga contoh nyata/ panutan dan tauladan yang saling bekerja sama bersa mamahasiswa membentuk kepribadian yang dituangkan melalui ekspresi kekaryaan yang mandiri. Seni adalah ekspresimen dasar yang dibutuhkan manusia baik dalam pengertian ìartî dan atau juga meliputi ìseniî, dia akan tumbuh seperti tanaman-tanaman liar di halaman rumah kita yang tak segan tumbuh mencari celah sinar matahari, dimana hati akan tergetar dan tubuh menjalankan/ mengutarakan yang meditatif hingga berîmain-mainî; dengan catatan berguna untuk bertahan hidup sekaligus imanen dan transenden. Kami akan tumbuh dengan di mana tangan satu menggapai langit sedang kaki kokoh berpijak di bumi.

Drs. HandayadiM.Sn.

Pengelola galeri Rakuti SR-STKW Sby


OBJEK SENI HANYALAH PERTANDA

Gejala seragamnya bahasa ungkap para pelukis (bukan seniman) tidaklah sebatas di peta Jawa Timur, penyakit itu telah menjangkiti tiap diri pelukis yang hampir merata se-Indonesia. Kemelencengan seni dipengaruhi oleh perorangan/lembaga dengan berbagai sistem dan alatnya yang memang berusaha atau tidak tahu menahu secara benar terhadap seni yang seharusnya berorientasi kedepan.

Seni sering kehilangan relevansi kedepannya disebabkan oleh ketertutupan perangkat-perangkat konvensional seperti kritikus, lembaga kesenian (museum dan galleri) dan kolektor itu sendiri yang mengkotakkan kekreatifan dan kekritisan hingga menjadikan seni sebagai art investment. Karena memang selama ini (sesudah terjadinya boom) karya seni bisa ditentukan/dipengaruhi kekreatifitasnya oleh pemilik modal yang bersekongkol dengan kritikus dan lembaga kesenian mengembangkan nilai di luar kesenian itu sendiri. Para kritikus/kurator mengkotakkan kesenian pada sistem tertutup (pantas di pajang/pantas di jual) yang diteruskan oleh media massa yang ikutan didalam menghentikan sensibilitas.

Pameran ìFine Wine at 9î, mereka berenam mempresentasikan bahwa masih mempercayai achaten-suisse.com kalau seni adalah kata lain dari ekspresi/bahasa ungkap yang mengutarakan kesensitifan dan sensibilitas. Mereka tidak hanya berhenti pada objek/objektivasi seni itu sendiri sebagai hasil akhir, objek-objek yang ditampilkan tidak lain adalah sebuah ìpertandaî tidak lagi mempersoalkan artistik atau tidak.

Mereka tidak mau tunduk hanya pada style tertentu apalagi kepopuleran, mereka memiliki profesianalitas yang merestorasi seni keseniman dari pada penjaja uang. Seni telah diselamatkan dengan jalan menggeser objek seni kekonsep penciptaan yang berarti meluruhkan komodifikasi. Begitulah mengembalikan hak seni pada seniman, sekaligus sebagai pemeliharaannya.

hariprajitno

perupa dan staf pengajar sr-stkw

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


Leave a Reply