Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Hi June” – Bob ‘Sick’ Yudhita & S.Teddy D
poster
Start: Wednesday, June 24, 2009 at 19:00 WIB
End: Saturday, July 04, 2009 at 23:00 WIB
Location: Komplek Taman Budaya Yogyakarta
Address: Jl Sriwedari no 1
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

Salam,

Sudah sekian kali Museum Dan Tanah Liat menampilkan karya Bob Yudhita secara tunggal, dan pada pameran ini Bob Yudhita bersama S.Teddy D. Berdua mereka memamerkan karyanya dengan judul “hi Jun”.

Dalam pameran ini eksplorasi kedua seniman itu berbeda, Bob Yudhita menampilkan karya dua dimensi dengan tarikan garis yang sederhana dan mengalir begitu saja sebagai ciri khasnya dalam melukis. Beragam tema yang diangkat pada karyanya, beberapa menceritakan tentang material yang dapat menunjang kehidupan secara duniawi dan harapan dari kehidupannya di masa lalu.

S. teddy D. Menampilkan karya tiga dimensi yang pernah dikerjakan sekitar tahun 1999 hingga 2009, pada pameran ini, dengan karya lama yang direspon ulang serta karya baru yang ditampilkan pada pameran ini, S. Teddy D. Berusaha menunjukan perjalanan karya tiga dimensinya untuk dapat melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap perkembangannya dalam berkesenian di waktu yang akan datang.

Pameran ini sangat menarik, selain bisa dirasakan persahabatan mereka dalam berkesenian maupun kehidupan sehari-hari. Interaksi berkesenian dengan nuansa yang pure dari keduanya pada satu pameran ini akan terasa ruhnya, semangat mereka, dan wacana mereka dalam mendialogkan sesuatu yang dirasakan untuk disampaikan ke publik melalui media yang berbeda dalam berkesenian.

Disisi lain kita bisa merasakan kembali kenikmatan sebuah karya seni yang dahulu pernah ditemui, bahkan telah direspon ulang. Kenangan terhadap karya seni yang diciptakan sebelum si senimannya dikenal luas pada publik seni, sebuah kenangan yang menimbulkan pertanyaan (naif), bagaimana karya yang di ciptakan beberapa tahun yang lalu akan menjadi lebih menarik jika ditampilkan sekarang dalam keadaan nama senimannya sudah dikenal publik? Seberapa kuat nama senimannya mempengaruhi karyanya? Atau sejauh mana karya seni mampu mengangkat penciptanya menjadi besar?

Kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Dyan Angraeni yang berkenan menyediakan tempat untuk pameran ini, Bapak Dedy Irianto yang mensponsori dan beberapa teman yang telah membantu terlaksananya pameran ini.

Akhirnya, selamat menikmati pameran….

Museum Dan Tanah Liat


Abnormally Normal/Normally Abnormal

Farah Wardani

Bob Sick Yuditha has gone through changes.

Bob looked fresh when meeting me in Bandung, last month, merry like the Month of May itself. He was looking forward to June, where he will exhibit around 30 of his latest works that have been progressing since November 2008. It’s a duo show with his long-time best friend, S. Teddy D. And they initiated the show on their own, as usual with help from their  old friends of the artists communities living around Kersan, Taring Padi and Museum dan Tanah Liat, Nitiprayan, Yogyakarta.

As usual too, Bob does not work on a particular theme on his works for this one. It’s about life in general, fragments of things, events, and visions that he sees, hears and experiences in his everyday routines. Now, Bob’s everyday routines are not similar to laymen, it involves a series of cat-and-mouse chasing game with the local authority (for some reasons not to be mentioned here, and also why he ‘exiled’ himself to Bandung), and balancing between making works, communal lives, being a tattoo icon, and the latest development of his phase of life currently: being a father of a newborn baby girl, and raising a family.

Sprinkles of those parts are being shown scattered here and there in his series of works for this exhibitions. From images of a baby with ‘Baby Oil’ scribbles, remarks on the sudden raise of market attention to artists like himself, to bits of social commentaries. His trademark style, a mix of street drunkard scribbles and kampong graffiti with appropriations of Cobra and Basquiat, are still there. They are all quintessential Bob. Or ‘Bob Banget’, as Indonesians particularly the ones who have been following his journey closely, would say.

As Bob described, his creative process so far has been divided into three stages. The first is the stage of his times at the Gampingan campus, which were overlapped with life on the street and communities. It is what has shaped his choices and also his style greatly, and seemed to never let go for a huge part of his life. It took him a while to accept when finally there was an acknowledgement of his works from commercial and mainstream galleries when the year 2000s came, and that built the second stage – which were full of tensions.

For Bob, art making is like a pathological psychotherapy, a release ritual and habit that he has found himself addicted to it, just like his addictions to some other things, like anti-depressant pills. His fondness of art and pills have come beyond rebellious anxieties or self-centered desire to push every boundaries, but it has become a part of him, a routine. A way to process things within and then let it out, like to digest and to excrete. For Bob, art making and pills are bare necessities, like eating. Or, in other words, communicating.

Bob said that if the desire comes up, he feels like he wants to explode and cannot stop. He experiences different kinds of stumulations when making art works. Everything can be an inspiration, and he never wants to lose a moment.

Bob narrated how the process can come to edges of suffering as he has to deal with the after-effects after he finishes one painting. It is like schizophrenia, paranoia and delusions that stay within in long sleepless nights afterwards. It’s a torture.

But he loves the torture. He needs it. It is a tool for balance for him. I suspect that during the second stage of his life as an artist, he has immersed himself to the methods that he formulated on his own and through a natural process. It is also one of the tensions of growing up – or growing older to be precise, as the change within also went along with the changes outside. The social facades and structures have changed within the art scene, where communal lives slowly transforms to individualities or more close-knitted domesticities. In other words, the choice of going completely on make your own family.  To lead that ‘normal’ life. To reach that horrid state: Establishment.

Through the years, that’s what Bob’s works all about, his addiction to abnormalities. His need to at least manifest those parts in him, while along the way life gives him both, the normal and the abnormal. As Bob told me how he loves his state of life right now, which he defines as his third stage: that he wants to live a healthier life, raise his family and child, and share it with his loved ones. Yet, on the other hand, he still needs the ‘other side’ to continue doing things that have been his life and livelihood as well, making art works. He needs it to continue existing. The tension has transformed into finding balances, the equations of all that and they are all manifested in this latest series.

In the end, above all things, I guess each one of us want that ‘normal’ life, or at least to reach that stage, and make up our own versions of it. Can Bob do it? Old habits die hard. Or should it die, since it has become a part of him that leads him here where he’s still standing proudly now? We can ask the same question to ourselves. Meanwhile, for this time being, we can shout together with him, “Hey June! Life is Great, isn’t it?”


Pameran Patung S. Teddy D: “Hi June”

“…, we must continue to fearlessly confront challenging art and cultural  condition head-on[i]

Lisa Phillips

Mengenai S Teddy D

Pada saat membaca tulisan Lisa Phillips di atas, saya langsung teringat pada S. Teddy D. Ya, untuk saya Teddy adalah seniman yang tak pernah takut mengambil resiko berkarya dengan berbagai kemungkinan. Tak perlu diragukan passion Teddy terhadap dunia seni.  Memang tampilan dan pembawaan Teddy barangkali sedikit berandalan, namun di baliknya Teddy adalah seniman yang sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam  berkarya.  Hal itu ditunjukkan melalui keragaman karya-karyanya, baik dari segi tema, medium, material dan teknik pengerjaan. Keragaman tersebut merupakan buah dari intensitas berkaryanya yang tinggi. Teddy pernah berujar bahwa dia merasa beruntung tak memiliki style. Barangkali demikian, namun menurut saya tentu saja Teddy memiliki style, atau tepatnya dia memiliki beberapa style sekaligus. Bagi yang cukup akrab dengan karya-karyanya tentu tak terlalu sulit untuk mengenali karya Teddy ketika melihatnya.

Karya-karya Teddy beragam karena dia memang memiliki banyak ketertarikan. Dia juga kerap mengamati dan merenungi  hal-hal yang barangkali tak diperhatikan perupa lain.  Selain itu Teddy  memiliki berbagai pendekatan berkarya yang kadang saling berlawanan. Pada dirinya seperti berkumpul beberapa kerakter seniman sekaligus. Kadang Teddy seperti seniman modernis, yang analitis dan peka pada pertimbangan bentuk.  Hal itu ditunjukkan ketika dia menyusun dan mempersiapkan karya-karyanya dengan terencana dan seksama. Namun di lain kesempatan Teddy juga berkarya secara otomatis, bahkan intuitif.  Teddy, seperti kebanyakan seniman kontemporer tentu juga  mementingkan konten dan representasi. Teddy pun sangat memperhatikan perihal teknik dan ketukangan. Pendeknya Teddy ingin mencoba dan merasakan segala kemungkinan. Hal ini tampaknya menjadi kesadaran yang mendasari gagasan dan karya-karya Teddy. Situasi tersebut umumnya hanya muncul dari seniman yang cerdas dan pengetahuannya cukup luas.  Memang Teddy memiliki wawasan yang luas, tak hanya pada wilayah seni, namun juga pada beragam lingkup dan isu.

Teddy tahu bahwa seni rupa kontemporer mewadahi berbagai kemungkinan, tujuan dan attitude seniman. Karena itu dia tak pernah membatasi kemungkinan seni yang dipraktekkannya. Dia seperti ingin merasakan segala kemungkinan berkarya, mulai dari kondisi blank (=fly?), sampai pada perencanaan yang sangat matang. Menurut Teddy, bagian yang paling penting dan paling dinikmatinya adalah proses berkarya. Dia juga menjelaskan banwa banyak gagasan karya-karyanya muncul dari proses berkarya. Hal tersebut tak mengherankan, sebagai seniman yang selalu gatal berkarya—meski  tak selalu harus mulai dengan gagasan yang sudah jelas—maka  seringkali Teddy hanya bermain-main atau kutak-katik saja. Namun , justru situasi tersebut yang kerap memberikan jalan bagi mengalirnya gagasan-gagasan baru, yang pada saatnya akan dieksekusi menjadi karya oleh Teddy.

Dengan banyak ketertarikan, tak takut salah,  dan kebutuhan untuk terus berproses  maka mengalir banyak karya dari tangan Teddy. Dan tak mengherankan jika beberapa karya selesai dengan sangat cepat, namun ada pula karya-karya yang kelar cukup lama. Tak mengherankan pula jika Teddy kerap mengolah kembali, atau bahkan mendaur ulang karya-karya lamanya menjadi karya baru.  Kepercayaan Teddy pada pentingnya proses juga didasari keyakinan bahwa pada proses sang seniman mendapatkan “kesenangan”, namun juga sebagai kesempatan untuk merasakan, berpikir,  mengevaluasi, dan melakukan perubahan. Proses, bagi Teddy adalah kesempatan untuk membuat keputusan-keputusan estetik sekaligus keputusan teknik.

Keistimewaan lain yang ada pada Teddy adalah kecenderungannya—atau tepatnya cita rasanya—yang   nyeleneh atau “wagu” menuruti istilah Yogya. Ya, Teddy memang kadang  memiliki cara berpikir yang  tidak biasa, tentunya juga gagasan dan proses yang juga tidak biasa. Tetapi, bukankah demikian seharusnya seorang seniman? Karya-karya Teddy menonjol karena berbeda dengan kebanyakan karya yang tampil pada wilayah arus utama.  Teddy memiliki arusnya sendiri, yang terdiri dari arus-arus kecil. Karena itu, jika saat ini Teddy dianggap sebagai salah satu seniman penting dalam medan seni rupa Indonesia, hal itu membuktikan posisi Teddy yang khusus dan istimewa.  Kecenderungan nyeleneh tersebut juga bisa dilihat sebagai buah dari dorongan bermain-mainnya. Barbara Rose, sejarawan dan kritikus seni terkenal dari Amerika pernah berujar seniman tak ubahnya seperti anak-anak. Tentu saja apa yang diutarakan Barbara Rose tersebut bisa dianggap sebagai ejekan, namun juga sebuah pujian. Sering dikatakan pula anak-anak jauh lebih kreatif, karena tidak dibebani sikap pretensius. Anak-anak bisa sangat asik dengan hal remeh temeh. Namun Teddy tak sekadar seperti anak kecil yang suka bermain-main, Teddy juga adalah seorang seniman yang menunjukkan kapasitas wawasan dan pemikiran yang mature.

Karena berkarya juga ‘bermain” dengan tangan,  maka karya-karya Teddy selalu berada dalam dimensi atau karakter pengerjaan tangan. Tidak monumental, dan perfect. Bahkan karya “monumentalnya,” Love Tank (the Temple), yang dipesan khusus oleh National Museum of Singapore untuk dipamerkan di sana dibuat dari bahan plywood yang dicat. Tentu saja plywood bukan bahan yang “terhormat” dalam dunia seni rupa. Kendati berukuran cukup gigantik, tetapi karya tersebut tidak  terasa “berat” dan “serius”. Tentu saja tank bersalut warna pink dengan pola hati benar-benar tank yang wagu. Tumpukan tank tersebut lebih mengingatkan kita pada  tank untuk acara karnaval, dari pada tank sesungguhnya. Tumpukan tank tersebut juga bisa dilihat sebagai olok-olok  dan cara mensubversi keangkeran mesin-mesin perang. Karena itu monumen tersebut adalah semacam “monumen” anti monumen.

Kebanyakan karya-karya Teddy dapat dimasukkan dalam kecenderungan yang disebut unmonumental. Kecenderungan ini tampaknya sebangun dengan hilangnya keyakinan manusia mengenai dirinya sendiri. Manusia semakin terfragmentasi, terpecah belah. Dalam hal kecendrungan unmonumental tersebut, Lisa Phiilips, direktur New Museum of Contempratorary Art berujar,

Detecting a global trend towards the fragmentary and contingent in the  some of the strongest sculpture being made today, they presenting work that reflects the extreme delicacy and fragility of life in the twenty-first century. It is an uncertain time, at best, with threats ranging from religious wars and terrorism.”[ii]

Mengenai Pameran Ini: “Hi June

Hi June merupakan judul yang dipilih sendiri oleh Teddy, bersam Bob dalam pameran berdua ini. Tajuk Hi June barangkali bukan tajuk yang tegas dalam mengarahkan makna atau konteks karya-karya yang dipamerkan. Namun, justru karena itu, Hi June menunjukkan  salah satu karakter yang dimiliki Teddy, yaitu easy going dan suka-suka saja. Hi June terasa akrab, seperti sapaan terhadap seseorang, mengingatkan kita pada judul lagu the Beatles, Hi Jude.  Mungkin judul ini juga merupakan sapaan terhadap pemirsa pameran, Atau barangkali juga sapaan terhadap waktu: bulan Juni, bulan ini, bulan pamerannya. Yang juga agaknya penting Hi June sebagai judul pameran kedengaran cool. Namun judul ini juga bisa dibaca secara serius, katakanlah, sapaan terhadap waktu, yaitu bulan pameran, menunjukkan semacam kesadaran perjalanan kesenian Teddy. Kesadaran tentang apa yang telah dicapai pada titik waktu ini. Bukankah pameran merupakan presentasi tentang hasil perjalanan sang seniman? Dikaitkan dengan kesungguhan pameran ini,  maka judul tersebut seperti ingin bicara bahwa dalam bermain-main pun Teddy serius, atau dia sangat serius dalam bermain-main—maksudnya berkarya. Ya, judul ini menegaskan paradoks  pada diri Teddy, di satu sisi tampak sangat bermain-main, tapi di sisi lain dia sangat serius. Sering tampak seadanya dan sekenanya, namun kerap pula rumit dan canggih.

Pada pameran ini Teddy hanya menampilkan karya-karya patung, atau karya 3 dimensinya yang dibuatnya beberapa tahun ke belakang.  Namun karya-karya Teddy memang tidak tampak seperti layaknya karya seni patung konvensional.  Tampilan karya Teddy kadang agak mentah, seperti ditunjukkan oleh karya berjudul “Dibantu Alam” atau Bouquet. Pahatan pada kayu tampak kasar,seadanya dengan laburan cat (pada karya Bouquet) yang sekenanya. Namun kedua karya tersebut justru tampak  otentik dan kuat. Karya-karya tersebut tak seperti kebanyakan karya-karya patung kayu yang tampak canggih dan elaborate dalam tradisi seni patung modern Indonesia. Namun demikian kita bisa cukup yakin, bahwa karya-karya patung Teddy merupakan karya yang dikerjakan dengan pemikiran yang  matang. Kalaupun kadang bentuknya nyeleneh dan wagu, hal itu justru merupakan hal yang direncanakan dan disasar.  Kedua karya tersebut merupakan karya yang memiliki potensi matafor yang sangat kuat, kendati tetap terbuka pada kemungkinan multiinterpretasi.

Karya-karya patung Teddy, besar maupun kecil sulit dikelompokkan dalam kecenderungan gaya tertentu. Itu sebabnya menurut Suwarno Wisetrotomo, karya-karya Teddy sangat beragam, baik wujud, tema, bentuk, dan materialnya. Saya sependapat dengan Suwarno, Teddy adalah seniman yang impulse kreatifnya terus bergejolak.  Teddy, sejauh pengalaman saya mengenalinya, memang seniman yang tak terlalu peduli dengan style. Namun demikian, bukan berarti karya-karya Teddy tak berkarakter, sebaliknya karya-karyanya memiliki karakter sangat kuat. Bagaimanapun perjalanan yang sudah cukup panjang, menyebabkan karya-karya Teddy memiliki karakternya sendiri, kendati pun cukup beragam. Pada, akhirnya hal itu menyebabkan Teddy memiliki beberapa style yang menjadi kekhasannya Seperti telah dikatakan, tak sulit untuk dapat mengenali karya-karya Teddy pada saat kita melihatnya.

Tema  pada karya Teddy  bervariasi, dari ruang-ruang pribadinya sampai isu sosial-politik internasional. Dari narasi remeh temeh sampai narasi besar.  Teddy cukup melek terhadap khasanah seni rupa kontemporer internasional, baik seniman, karya maupun wacana. Dia faham saat ini tak ada dominasi gaya,  dan dia pun faham tak masalah mendapatkan pengaruh. Dan dia tahu bahwa karakter personal seorang seniman akan muncul dengan sendirinya seiring perjalanan waktu dan intensitas berkaryanya.

Karya-karya patung Teddy, seperti saya katakan bisa masuk dalam genre unmonumental.  Tentu dengan mudah kita bisa melihat bahwa karya-karya patung Teddy bukanlah karya modern formalis atau biomorfis. Karya-karya Teddy juga tidak serupa dengan karya-karya figuratif Realis. Kendati kadang-kadang bisa dimasukkan sebagai karya obyek, namun banyak pula karya-karya Teddy yang terlampau kuat, atau terlampau representasional untuk dimasukkan sebagai kategori obyek. Namun semua itu tak menjadi masalah, sebab bukan perkara ketepatan kategoris atau genre yang disasar oleh Teddy. Berkaitan dengan pengertian unmonumental, Missimiliano pernah menjelaskan, “Traditionally, sculpture has been territory where permanence is celebrated.[iii] Kendati karya-karya Teddy bukan karya yang ephemeral, namun karya Teddy tampak tak ingin tampil eternal, agung dan berjarak. Lihat saja karya berjudul  “Wang-Sinawang”, tampak seperti found object yang seadanya, kendati karya itu digarap tidak dari benda temuan, tapi dipahat dari sepotong kayu. Walau  sangat humble tampilannya, tapi karya ini memiliki konten  filosofis, yaitu sikap  saling “melihat” atau “mengamati”—apa  yang dimiliki pihak lain. Hal tersebut bisa menunjukkan prasangka atau tak rela dengan apa yang dimiliki pihak lain. Sementara itu karya paling “monumental” dalam pameran ini, Show Me the Way to the Next Bridge berupa rangka jembatan besi juga secara sengaja dikurangi kadar monumetalnya dan dibuat tampak ringan karena bisa bertengger di atas roda sepeda.  Karya ini menunjukkan kekaguman Teddy pada kemampuan manusia dalam “membangun”, namun tampaknya juga ada intensi kritik dalam karya tersebut.

Teddy cukup sering memanfaatkan obyek temuan. Kadang dia hanya melakukan sedikit modifikasi, sebagaimana ditunjukkan oleh karyanya Found Line yang disusun dari rongsokan besi beton. Karya Found Line tersebut juga mengingatkan kita pada  karakter karya-karya 2 dimensi Teddy, yang lebih kuat sebagai karya gambar dari pada lukisan. Bagi saya karya-karya lukis Teddy sejatinya adalah karya gambar. Dan jika diamati, karya-karya patung Teddy adalah semacam gambar 3 dimensi. Selain itu, tentu saja judul found line tersebut serta merta mengingatkan kita pada found object, kecenderungan penting dalam seni rupa sejak masa Marcel Duchamp sampai hari ini. Judul merupakan hal penting dalam seni rupa, sebab judul membantu pemirsa membangun konteks makna. Dalam hal memberikan  Judul Teddy cukup piawai. Hal ini menunjukkan bahwa Teddy memahami kekuatan karya-karyanya, dan tentu hal ini juga menunjukkan wawasan dan pengetahuannya yang luas. Don Thompson pernah mengingatkan pentingnya judul dalam seni rupa kontemporer pada saat dia membahas karya Damien Hirst paling terkenal,

Hirst’s titles are an integral part of marketing his work, and much of the meaning flows from the title. If the shark were just called Shark, the viewer might well say, “Yes, it certainly is a shark,” and move on. Calling  it The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living forces viewers to create a meaning. The title produced as much discussion as the work.[iv]

Memang karya Teddy tak sepanjang judul karya hiu Damien Hirst, namun tak kalah dalam kapasitasnya membangun konstruksi makna. Hal yang sama misalnya ditunjukkan oleh Teddy pada saat dia bercerita mengenai salah satu karyanya yang berjudul “Anti Remis”. Judul tersebut menurut saya adalah judul yang sangat to the point pada arti hidup, pada eksistensi seorang manusia. Judul tersebut menegaskan bahwa dalam kehidupan masa kini, tak ada pilihan lain kecuali menang. Jika pilihan untuk menang tak dapat dijangkau, maka yang didapat adalah kekalahan. Judul “Anti Remis” tersebut terasa filosofis sekaligus simbolis.

Berbeda dengan karya Found Line adalah karya berjudul Mutant Soldier Battalion yang tampak seperti found object atau ready-mades yang diolah kembali, namun sebetulnya merupakan bentuk yang digubah sendiri oleh Teddy. Apa yang dilakukan Teddy pada karya tersebut seperti apa yang diutarakan oleh Judith Collins, “…invent objects to look like mass-produced items.”[v] Karakter ready-mades pada karya Mutant Soldier Battalion muncul karena tampilan figurine tersebut tampak seperti mainan action-figure .  Selain itu kesan ready-mades dikuatkan dengan figurine yang hadir dalam jumlah banyak, kendati masing-masing digarap secara personal. Karya ini menunjukkan salah satu kekuatan Teddy dalam membangun simbol dan makna dalam karyanya.  Bagaimanapun serdadu yang berada di garis depan adalah korban.  Namun serdadu memang korban yang ingin mengorbankan dirinya. Karena itu bagi Teddy serdadu tak ubahnya seperti kumpulan alat atau benda yang dapat dikendalikan oleh “pemiliknya” atau penguasa. Karya Mutant Soldier Battalion merupakan karya yang paling kuat, tak hanya dari segi makna dan tampilan, tetapi juga merefleksikan sikap mendua Teddy pada keberadaan tentara. Sebagai anak tentara, Teddy berada dalam posisi antara memahami dan menghargai profesi tentara, tetapi sebagai seorang seniman yang banyak bergaul dengan kelompok-kelompok anti militerisme, Teddy juga kerap bersikap kritis terhadap militerisme. Seringkali terombang-ambing dalam posisi kontradiktif tersebut agaknya yang mendorong Teddy mengungkapkannya dalam karya-karya bertema tentara.  Hal itu misalnya juga terlihat pada karya berjudul “Gerakan Art-Merdeka” dan “Parody Circle of Life

Karya beujudul Seed of Violence jelas menunjukkan kepedulian Teddy pada maraknya budaya kekerasan. Kekerasan selalu menumbuhkan kekerasan baru. Kekerasan adalah benih kekerasan yang lebih ekstrim.  Karya berbentuk kacang raksasa dengan tanduk-tanduk tajam  di sekujur badannya tentu tampak mengancam dan ganas. Apalagi pada saat kacang bertanduk tersebut dirangkai bertumpuk tampak seperti sosok dinding yang siap menerkam.  Tentu saja kekerasan dan militerisme memiliki kedekatan. Di masa lalu bangsa  Indonesia kenyang dengan pengalaman tersebut. Itu sebabnya Teddy juga banyak menggarap karya kacang tanah raksasa yang permukaannya berlapis loreng. Tentara. Hal itu bisa saja menyimbolkan tentang profesi yang menurun dari orang tua pada anak, lalu pada cucu, dan seterusnya. Namun karya tersebut  juga bisa ditempatkan sebagai simbolisasi tentang genealogi kekerasan pada suatu masyarakat, yaitu kekerasan yang terus ditiru dan dicanggihkan pada generasi berikutnya. Menurut Teddy kekerasan tak hanya ditunjukkan oleh senjata, namun juga oleh kekuatan modal yang dapat mengubah dan meminggirkan budaya lokal. Hal itu secara telak ditunjukkan oleh Teddy melalui karyanya yang berjudul I Bill Your Food berupa patung ikon McDonald dalam seragam loreng tentara. Karya ini agaknya merupakan salah satu  karya  Teddy yang  cukup kental bersentuhan dengan kecenderungan arus utama—menentang neo-liberalisme dan kekuatan multinasional.

Dengan menyebut karya Teddy unmonumental, namun juga pada saat yang sama memuji dan menempatkannya sebagai hal penting, tentu saja bisa dilihat sebagai upaya untuk memonumentalkan Teddy, atau memonumentalkan kecenderungan yang unmonumental. Namun,  itulah seni rupa kontemporer, yang juga memiliki sisi-sisi paradoksnya sendiri.  Seni rupa kontemporer, adalah wilayah mengenai hal-hal yang sepele, sederhana, sehari-hari, sampai yang paling penting memiliki hak untuk dikontemplasi dan direnungi, dan jikapun perlu dicari esensinya. Berbeda dengan seni rupa modern yang diskriminatif dalam menetapkan wilayah yang berhak dicari  kedalaman dan esensinya (hanya pada seni lukis). Seni rupa kontemporer mempersilahkan setiap seniman mencari wilayah esensialnya  sendiri. Saya tetap percaya bahwa seni rupa kontemporer tetap butuh ruang-ruang sublim dan esensial. Karena tanpa itu apalah arti seni rupa—kecuali sekadar terperangkap dalam wilayah komiditas tingkat tinggi. Bagi saya kecenderungan Teddy berkarya sangat menarik, bukan karena perkara tema remeh temeh atapun sebaliknya, tetapi yang menarik adalah caranya menyusun bahasa estetik dan representasi , yang menurut saya dilakukan dengan cara sederhana, berkesan apa adanya, kadang wagu. Namun dapat menghasilkan karya-karya  yang jujur, kuat, dan memiliki karakter estetiknya sendiri dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia.  Ya, seperti saya katakan pada awal tulisan ini Teddy tak pernah takut mencoba, bahkan hal-hal yang tampak sederhana.  Karena itu saya ingin menutup tulisan ini dengan menunjukkan betapa keceriaan pun menjadi hal amat penting bagi Teddy. Lihat karyanya  Hiphip Hooray, betapa kita dapat merasakan keriangan dan kebahagian Teddy. Ya tak dapat dipungkiri Teddy hari-hari ini tampak bahagia, dan puas dengan dirinya. Ya memang sudah seharusnya dia bahagia, sebab di hatinya ada Blora dan Tere, dan di hatinya juga selalu ada gejolak berkarya. Dan saya tidak pernah kuatir dengan Teddy, sebab dia juga selalu peduli dan peka meilhat situasi di sekelilingnya.

Asmujo Jono Irianto (curator)


[i] Lisa Phillips, “Preface” dalam , Unmonumental, The Object in the 21st Century, New York: Phaidon Press Inc. 2007, hlm. 7.

[ii] Ibid.

[iii] Massimiliano, “Ask The Dust”, dalam ibid, hlm. 64.

[iv] Don Thompson, The $12 Million Stuffed Shark, The Curious Economics of Contemporary Art, New York: Palgrave Macmillan, 2008, hlm.63.

[v] Judith Collins, Sculpture Today, London: Phaidon Press Limited, 2007, hlm. 100.

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • 19712009-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    19712009-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Album Launcing-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Album Launcing-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Baby Oil-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Baby Oil-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • 1.Berkabut 90x90 cm ; 2.The Illusionist 120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    1.Berkabut 90x90 cm ; 2.The Illusionist 120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Black Budha-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Black Budha-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Black Gold-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Black Gold-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Carlos Maria Frida-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Carlos Maria Frida-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Devi Sri-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Devi Sri-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • 1.Dream,Dream,Dream ; 2.Pain Killer ; 3.Tamasya Kuda - 100x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    1.Dream,Dream,Dream ; 2.Pain Killer ; 3.Tamasya Kuda - 100x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Evolution Theory-150x200 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Evolution Theory-150x200 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Family-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Family-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Farmer Military-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Farmer Military-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Globa Cris-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Globa Cris-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Hand Toys - 120x100 cm - mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Hand Toys - 120x100 cm - mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • 1.Haru Biru 200x150 cm ; 2.Grand Papa Bloody Marry 150x200 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    1.Haru Biru 200x150 cm ; 2.Grand Papa Bloody Marry 150x200 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Harvard Intutute-200x180 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Harvard Intutute-200x180 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Holiday Koper-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Holiday Koper-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Kembang Jatuh-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Kembang Jatuh-200x150 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Lady Coffee-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Lady Coffee-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Long Life-150x250 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Long Life-150x250 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Meja Hijau-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Meja Hijau-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • 1.My Daughter ; 2.Miracle -120x100 cm - mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    1.My Daughter ; 2.Miracle -120x100 cm - mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • No Rain This Day-180x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    No Rain This Day-180x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Smile Papua-100x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Smile Papua-100x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Standing Model-150x120 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Standing Model-150x120 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Supergirlz-100x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Supergirlz-100x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • The Farmer Name Is Hulk-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    The Farmer Name Is Hulk-120x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • White Lotus-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    White Lotus-80x80 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Yeti-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
    Yeti-150x100 cm-mix media on canvas - 2009 - Bob 'Sick' Yudhita
  • Bouquet - 20x20x50 cm - wood,fiber - 2002 - S.Teddy D
    Bouquet - 20x20x50 cm - wood,fiber - 2002 - S.Teddy D
  • Dibantu Alam - 18x40x60 cm - wood - 2002 - S.Teddy D
    Dibantu Alam - 18x40x60 cm - wood - 2002 - S.Teddy D
  • Enak Nggak Jadi Kamu - 20x17x64 cm - 2pcs - wood - 2002 - S.Teddy D
    Enak Nggak Jadi Kamu - 20x17x64 cm - 2pcs - wood - 2002 - S.Teddy D
  • Enjoy Your Work - 188x75x107 cm - fiberglass,wood - 2009 - S.Teddy D
    Enjoy Your Work - 188x75x107 cm - fiberglass,wood - 2009 - S.Teddy D
  • Family - variabel dimension - fiberglass - 2008 - S.Teddy D
    Family - variabel dimension - fiberglass - 2008 - S.Teddy D
  • Funatic #2 - 40x40x80 cm - 20pcs - painted fiberglass - 2008 - S.Teddy D
    Funatic #2 - 40x40x80 cm - 20pcs - painted fiberglass - 2008 - S.Teddy D
  • GAM - 100x30x13 cm - wood,fabric,stone - 2007 - S.Teddy D
    GAM - 100x30x13 cm - wood,fabric,stone - 2007 - S.Teddy D
  • General, 'Platoon Better You Die?, OK!' - 15x15x40 cm (each part) - fiberglass - 2009 - S.Teddy D
    General, 'Platoon Better You Die?, OK!' - 15x15x40 cm (each part) - fiberglass - 2009 - S.Teddy D
  • Hip-hip Hooray - 180x250 cm - mix media on canvas - 2009 - S.Teddy D
    Hip-hip Hooray - 180x250 cm - mix media on canvas - 2009 - S.Teddy D
  • 1.I Bill Your Food - 70x60x190 cm - fiberglass - 2009 ; 2.Dilarang Menyentuh (Tak Terkecuali Seniman) - 20x10x20 cm - metal plate - 2003 - S.Teddy D
    1.I Bill Your Food - 70x60x190 cm - fiberglass - 2009 ; 2.Dilarang Menyentuh (Tak Terkecuali Seniman) - 20x10x20 cm - metal plate - 2003 - S.Teddy D
  • Kepala Tiga - 21x20x61 cm - aluminum - 2007 - S.Teddy D
    Kepala Tiga - 21x20x61 cm - aluminum - 2007 - S.Teddy D
  • Kultural Sadis - 170x130x180 cm - wood,steel - 2000 - S.Teddy D
    Kultural Sadis - 170x130x180 cm - wood,steel - 2000 - S.Teddy D
  • Memory - 500x50x89 cm - wood - 2002-2009 - S.Teddy D
    Memory - 500x50x89 cm - wood - 2002-2009 - S.Teddy D
  • Ndase Tentara - 27x19x22 cm - wood - 2002 - S.Teddy D
    Ndase Tentara - 27x19x22 cm - wood - 2002 - S.Teddy D
  • 1.Odd Direction - 40x15x190 cm - aluminum - 2003 ; 2.Spawn - 120x40x140 cm - vinyl - 2003 - S.Teddy D
    1.Odd Direction - 40x15x190 cm - aluminum - 2003 ; 2.Spawn - 120x40x140 cm - vinyl - 2003 - S.Teddy D
  • Oh Shit, We Run Out of Energy! - 240x80x160 cm - wood,metal - 2007 - S.Teddy D
    Oh Shit, We Run Out of Energy! - 240x80x160 cm - wood,metal - 2007 - S.Teddy D
  • Parody Of Circle Of Life - 50x15x60 cm - wood, aluminum, acrylic - 2008 - S.Teddy D
    Parody Of Circle Of Life - 50x15x60 cm - wood, aluminum, acrylic - 2008 - S.Teddy D
  • Portrait - 130x290x10 cm - Iron Bar - 2008 - S.Teddy D
    Portrait - 130x290x10 cm - Iron Bar - 2008 - S.Teddy D
  • Seeds Of Violence - 40x20x20 cm each -  aluminum - 2008 - S.Teddy D
    Seeds Of Violence - 40x20x20 cm each - aluminum - 2008 - S.Teddy D
  • Show Me The Way To The Next Brigde - 800x80x270 cm - steel - 2002 - S.Teddy D
    Show Me The Way To The Next Brigde - 800x80x270 cm - steel - 2002 - S.Teddy D
  • Tetap Kerja, Bung!!! - 90x83x77 cm - aluminium - 2008 - S.Teddy D
    Tetap Kerja, Bung!!! - 90x83x77 cm - aluminium - 2008 - S.Teddy D
  • Tetap Semangat, Bung!!! - 68x63x119 cm - aluminium - 2008 - S.Teddy D
    Tetap Semangat, Bung!!! - 68x63x119 cm - aluminium - 2008 - S.Teddy D
  • Yin Yang - 63x63x18 cm - aluminium - 2007 - S.Teddy D
    Yin Yang - 63x63x18 cm - aluminium - 2007 - S.Teddy D

Leave a Reply