Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“I’m Too Many People” – Doni Kabo & Yunis Kartika
poster
Start: Saturday, June 21, 2008 at 19:00 WIB
End: Thursday, July 10, 2008 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Desa Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55 Tirtonirmolo - Kasihan - bantul
City/Town: Yogyakarta

Good Looking

Kenikmatan dalam melihat sebuah karya seni dapat dirasakan melalui berbagai sudut pandang sesuai dengan kepentingan masing-masing. Konon sebuah karya seni lukis dapat dinikmati karena mengandung pesan yang mengena dari pengalaman si seniman maupun penikmat karya tersebut, seorang seniman menciptakan karya seni yang terlahir dari pengalaman pribadinya yang bersentuhan dengan sosialnya, religinya, maupun sesuatu yang dirasakan dalam hatinya baik yang bersumber dari internal dan eksternal. Seorang kolektor atau penikmat seni dapat merasakan keindahan sebuah karya seni ketika karya seni tersebut bersentuhan dengan pengalaman hidupnya, baik yang dirasakan secara inteligensi ataupun perasaan hatinya hingga terjadi koneksi dengan karya seni tersebut. Tidak terjadi standarisasi akan keindahan karya seni tersebut, lebih bersifat relative yang jauh dari produk massal.

Banyak hal yang terjadi sebelum karya seni itu sampai pada tangan sang kolektor, ketika karya seni terlahir dari apa yang dirasakan oleh seniman terhadap suatu hal begitu dalam dan menyentuh hatinya, hingga di tuangkan dalam wujud lukisan maupun karya seni lainnya. Setelahnya, beberapa orang terlibat secara aktif sampai meng-asumsikan dan menentukan nilai dari karya tersebut, pada umumnya nilai dari keberadaan karya ditentukankan oleh seberapa besar karya itu diburu oleh kolektor seni, disaat yang sama ada beberapa orang dan lembaga yang berdiri diantara seniman dan kolektor, dengan kemampuan mereka masing-masing telah berperan sebagai mediator, yang melihat celah  baik untuk meraup keuntungan materi dari karya seni tersebut, hal demikian wajar adanya jika di benturkan pada nilai nominal. Namun akan terasa janggal bila dalam perburuan seni, sang mediator melakukan invansi yang mendalam terhadap kelangsungan karya seni tersebut hingga dapat sesuai dengan keinginan pasar, sang mediator meminta untuk membuat karya seni yang sedang banyak diminati, serta mencoba mengumpulkan seniman untuk mempresentasikan karyanya kemudian memilih beberapa seniman yang sekiranya sesuai dengan yang diharapkan lantas mulai memberi masukan yang sedikit menyetir seniman dalam membuat karya agar bisa diterima oleh kolektor, menginformasikan dunia lelang seni rupa yang dapat membuat nilai jual fantastic, sang senimanpun tergiur untuk merubah gaya dalam berkarya, sebuah gaya berkesenian yang tidak disenanginya namun dilakukannya juga dalam berkarya, mencoba untuk selalu membuat karya dengan ukuran yang besar agar terjadi transaksi yang besar pula.

Sebagaimana dengan Doni yang menampilkan figure diri, karya lukis yang menyampaikan pesan perlambangan akan banyak hal yang di pahami keberadaannya berdasarkan nilai nominalnya, tidak terkecuali dengan lukisan yang nilai jualnya tinggi, sehingga keberadaannya terlihat semata-mata dengan semakin tinggi harganya maka semakin tinggi keindahannya? Disisi lain tidak ada standart akan keindahan karya lukis, baik buruk dari sebuah karya tergantung akan selera penikmat masin-masing. Banyak yang menilai keindahannya bisa di lihat akan tarikan dari garis pada obyek lukis yang terasa pasti tanpa ada keraguan dari senimannya ketika membuat karya tersebut, begitu pula dengan perpaduan warna yang enak dilihat, dan masih banyak lagi elemen dari melukis yang sangat menarik untuk di ketahui.

Ketika berbicara mengenai tehknis melukis, tampilan karya yang terkesan kuat pada tarikan garisnya, sangat menarik untuk dijadikan wacana saat memilih sebuah karya lukis, namun biasanya pilihan akhir selalu berdasarkan besar-kecil, harga, dan keberadaan sang seniman, Doni, dalam karyanya kali ini menampilkan figure diri yang di sertai denga barisan angka dan grafik sebagai pesan akan keberadaanya di masarakat yang tidak lepas dari angka dan grafik sebagai perlambang dari standart kebutuhan hidup.

Bentuk sensualitas wanita dan ke-macho-an lelaki merupakan daya tarik yang besar bagi masing masing gender, di balik perbedaan masing-masing terasa ada semacam “pacuan keunggulan diri”, terdapat kekuatan sensual sebagai daya tarik diri yang selalu di tampilkan untuk menarik perhatian orang lain.

Yunis, dalam pameran ini menampilkan karya tiga dimensi dengan memakai media menekin dan resin. Karya menekin yang ditampilkan perbagian dari wujud utuhnya, dicat warna silver, di bagian tertentu ditempilin resliting yang terbuka dan bagian resliting yang terbuka telihat kolase wajah-wajah kecil dari foto model.

Salah-satu kekuatan dari seorang wanita terlihat dari bentuk sensual tubuhnya, dalam karyanya Yunis menampilkan energi seorang wanita ketika di hadapkan pada kemampuan laki-laki, namun kekuatan tersebut bukan satu-satunya yang menjadi “penanding”, didalam sobekan resliting itu terlihat banyak foto model wanita yang ingin di sampaikan Yunis sebagai terdapat beberapa kemampuan dari berbagai pikiran yang beragam dari seorang wanita ujarnya.

Pada pameran ini kedua seniman berusaha melihat dirinya sendiri di antara berbagai macam pola laku manusia pada budaya popular masarakat yang meletakan “angka” sebagai landasan dasar hidup.

Yoyok MDTL


Selamat Pagi

Ledakan seni rupa memang sedang melanda. Ledakan, apapun  bentuknya pasti akan memakan korban.

Kami dari pihak MDTL, melihat, walau belum amat dekat Doni dan Yunis, tak lepas dari ledakan itu, walau mukin cuma kena getarannya. Karya-karya mereka, baik yang 3 dimensi atau 2 dimensi mungkin masih sulit diterima pasar atau dinikmati dengan mudah. Karena alasan itulah, kami senang sekali memamerkan karya mereka. MDTL masih terus memegang konsep awal, yaitu “menampilkan seniman” yang masih ber-energi besar untuk terus mencoba atau bereksperimen.

Kita melihat ada banyak pasangan seniman baik penulis, perupa, film, dsb. Ada yang akhirnya menghasilkan karya yang mirip, ada yang sama sekali berbeda. Rodin dengan Camille Claudle, Rivera dengan Frida, Picasso dengan sicantik, siapa namanya saya lupa.Soedjojono dengan Mia Bustami, Mondo dan Alm. Kadek Murni Asih, masih banyak lagi.

Doni dan Yunis, mereka sangat berbeda dalam mewujudkan idenya, walau tidak bisa diingkari, mereka pasti saling berbagi. Doni lebih menyukai lahan 2 dimensi, sementara Yunis suka mengarap benda-benda atau 3 dimensi atau instalasi.

Pameran ini akan sangat menarik. Believe me.

Ugo Untoro

21 Juni 2008


Diagnosa Diri : Sekedar Catatan Awal

Baik karya Doni Kabo maupun Yunis Kartika bertolak dari pengalaman batin mereka sebagai manusia urban – tinggal di kota yang permisif sekaligus diiringi berbagai krisis sosial, amnesia sejarah dan krisis komunikasi. Keduanya tidak lantas menjadi pengkhutbah moral, justru, sebaliknya dijadikan ruang untuk melakukan self determination, untuk terus menghargai apa arti menjadi individu di zaman sekarang. Untuk terus menjaga jarak, atau mungkin suatu saat akan terhempas ditelan laju kebudayaan kontemporer yang instan, banal – dangkal. Karya mereka tidak menyulap sesuatu menjadi nilai-nilai, melainkan menyulap sesuatu untuk mempertanyakan nilai-nilai yang sudah mapan.

Potret-potret diri Doni mengajak kita untuk terus menghayati ihwal eksistensi, perihal ‘menjadi’ dan sekaligus berfungsi sebagai ’self-diagnosis’ terhadap realitas yang dihadapi.

Karya tersebut bisa dilihat sebagai kritik diri atau mungkin pendosaan terhadap diri sendiri yang sekurangnya berhasil membangkitkan ingatan pada sosok sang penebus dosa. Ini tak lain karena pose-pose sosok di karya Doni memang sangat ikonik. Diagnosa diri ini  menjadi berarti di zaman sekarang ketika eksistensi menjadi ‘manusia’ hanya sekedar dipahami sebagai ‘menjadi individualistik’ yang egois; ketika ruangruang untuk menangkis determinasi terhadap sesuatu bermuara di ruang-ruang penuh kepalsuan.

Karya Yunis menyoal persoalan yang senada. Dia membuat torso-torso yang segera bisa dibaca sebagai representasi mutakhir persoalan manusia atau bisa juga sebagai personifikasi dirinya. Bedanya, karya Yunis tentu saja akan mudah tergelincir sebagai karya yang dipahami publik mengandung muatan wacana spesifik, yang secara stereotip seringkali dituduhkan kepada seniman-seniman perempuan.

Singkat kata, kehadiran kedua sebagai seniman muda akan mengisi khazanah dikonstelasi seni rupa. Debut mereka ini tentu masih terasa kurang di sana-sini, mungkin di soal presentasi, bukan soal isi. Potensi yang sudah mereka kantongi ini kelak akan menjadi kematangan sebab berada di dalam proses terus menerus. Saya mencermati masih banyak hal yang termaktub di dalam karya-karya mereka.

Aminudin TH Siregar

Dosen Seni Rupa-ITB

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar





















Leave a Reply