Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“MEET” – DWIJOKO HARIANTO
poster
Start: Tuesday, December 28, 2010 at 19:00 WIB
End: Friday, January 07, 2011 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Ds.Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55 Kasihan, Bantul
City/Town: Yogyakarta

Karya seni patung mulai menggeliat di kanca kesenian Indonesia. Sering di temukan di pameran-pameran seni dan banyak di jumpai di susut-sudut jalan Jogjakarta. Dinamika seni terasa mengalir dalam semangat yang alami pada kecenderungan berkarya seni lukis yang menuju atau beralih pada karya seni patung.
Euforia terhadap eksplorasi karya seni membuka jalan terhadap seniman lukis untuk merespon karya patung, banyak seniman yang dulunya melukis sekarang mencoba untuk membuat karya seni patung. Namun dinamika seperti ini semoga tidak sekedar semangat untuk membuat karya patung semata yang sering menghasilkan karya patung dibuat apa adanya, dimana karya patung adalah bentuk karya tiga dimensi dengan ketentuan wujud yang berbeda dengan karya dua dimensi.
Eksplorasi karya seni patung banyak tercipta semata karya seni lukis yang di buat atau di jadikan sebagai karya patung.
Kami mengenal Dwijoko Harianto yang biasa kami panggil Har, dengan karya patung yang terbuat dari kulit kambing. Eksplorasi har terhadap kulit kambing yang jarang ditemukan di antara karya seni pada umumnya menarik perhatian kami dan bisa menyiratkan kesegaran sebuah karya seni patung tidak selalu berkutat pada material yang umumnya diangkat dari material batu, resin atau logam.
Pemilihannya terhadap kulit kambing sebagai material karya patung berangkat dari pengalamannya tentang “pertemuan” yang akan diangkat sebagai konsep pameran ini. Pertemuan Har terhadap kehidupan sosial yang di angkatnya kedalam karya seni merupakan wacana sosial yang sering ditemuinya dan pertemuannya terhadap material karya seninya adalah bentuk eksplorasi terhadap berbagai material yang tidak hanya terbatas pada kulit kambing, namun juga menampilkan kayu, batu, kertas, resin dan tanah liat sebagai wujud dari konsep pertemuan yang direspon melalui berbagai material untuk di wujudkan dalam karya seni patung sebagai pengungkapan isi hati Har dalam mengolah fenomena sebuah pertemuan.

22 Desember 2010
Yoyok MDTL


DJ Har yang mengoleksi waktu
Oleh: Barahasti, (teman yang menyukai karya seni)

“lucu, seperti lukisan manusia purba digua!” komentar seorang ABG ketika saya postingkan salah satu karya DJ Har lewat BBM (blackberry messenger), kemudian obrolan terus bergulir entah kemana. Karya tersebut berjudul “Tarzan lose” , sebuah karya panel kayu yang diadaptasi dari metode membuat lukisan didinding gua masa prehistoric. Sekilas karya tersebut menggingatkan kita pada cap tangan di Cueva de las Manos-Spanyol , gua Maros-Sulawesi Selatan dan dinding Gua Tewe, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pada karya ini DJ Har tampaknya ingin membawa kita untuk sejenak mengagumi karya seni manusia lampau. Sebuah awal dari sejarah seni rupa manusia. Memperbincangkan sesuatu dari 32,000 tahun lalu dengan teknologi komunikasi modern yang memperpendek jarak, mempersempit ruang. Kenapa manusia membutuhkan teknologi untuk kehidupannya? Bila seseorang ditempatkan pada suatu wilayah, maka secara natural ia akan beradaptasi dengan lingkungannya dan menciptakan teknologi untuk mempermudah ia memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitulah pertanyaan sekaligus jawaban yang DJ Har lontarkan ketika saya mampir dan melihat karya tersebut. Ya, seperti saya yang sudah sangat dimanjakan dengan teknologi.
Lain lagi komentar yang diberikan ketika saya mempostingkan karya berjudul “marriage not war”. “ kok digunting-gunting gitu sih? Pasangan pengantinnya jadi cemberut…wkwkwk…tp keyen juga”. Dalam karya berjudul “marriage not war” ini, puluhan bungkus korek api bergambar pengantin dari seluruh nusantara disusun satu persatu dengan manis, meski tidak terlalu rapi atau indah, namun DJ Har membuat satu sentuhan menarik dengan menggunting, menempel, menjodohkan pasangan pengantin tersebut dengan pasangan berbeda suku. Sebuah simbol tak terduga yang membawa saya dan ABG tersebut kedalam konsep “Pertemuan” yang diajukan DJ Har. “aku dari jawa timur, dan pacarku dari Sumatra Utara, sedikit banyak aku paham dengan karya temen mbak itu” komen yang lain. Ada kebanggaan terselip ketika saya membaca komentar tersebut.
Ibarat melihat kotak yang bernama televisi, melihat karya DJ Har pada pameran kali ini bisa membawa kita kemana saja sesuai chanel yang kita inginkan. Membawa kita melintasi waktu mempertemukan kita dengan peradaban purba, atau berganti chanel dengan melihat kekayaan kebudayaan nusantara dengan melihat susunan gambar pernikahan berbagai suku yang telah di”jodoh”kan DJ Har tersebut. “Pertemuan” kali ini terlihat kedewasaan dalam keliaran proses berkarya DJ Har, tak sekedar memenuhi kuota dalam berkarya atau berlarian dengan deadline pameran. Tampaknya DJ Har telah menciptakan “teknologi”nya sendiri.
Seprti yang DJ Har utarakan mengenai pertemuan ini, bahwa menurutnya ada 3 perayaan besar yang mendominasi kehidupan manusia , yaitu: lahir, mempertemukan manusia dengan kehidupannya, Kawin, mempertemukan manusia dengan jodohnya, dan Mati, mempertemukan manusia (konon) dengan penciptanya. Dalam rentan waktu tersebut, manusia bertemu dengan banyak hal, yang tentu saja mengajarinya untuk terus memaknai hidup. Satu-persatu waktu tersebut diurai DJ Har dan melalui simbol-simbol tertentu ia gambarkan pada karya-karyanya agar audience mudah memaknainya. Karena bagi saya, waktu merupakan sebuah kegilaan yang tak tertaklukkan. Semoga DJ Har mampu menaklukkan kegilaan itu lewat karyanya.
DJ Har, Selamat! Selamat! Selamat untuk pameran tunggalmu bertajuk “Meet” yang digelar di Musium dan Tanah Liat dari 28 Desember 2010 hingga 2 Januari 2011 ini. Selamat telah berhasil menyusun puzzle ide dan mempertemukan waktu yang telah kamu koleksi selama ini. merangkai alur waktu untuk menggambarkan pertemuan budaya dan konsep hidup dari satu lokasi peradaban ke masa yang berbeda. Tugas DJ Har kali ini adalah menyusun sebuah pertemuan antara idenya dengan audience melalui karyanya. Agar berbagai pergeseran makna perburuan, dan fakta kebutuhan primitive yang memudar dapat Ia buktikan.


Pertemuan ala DJ Har
Kegelisahan yang panjang, rencana yang begitu mula, mengikuti proses hingga menjadi ada.

Laboratorium
Memasuki tempat tinggal DJ Har laksana memasuki sebuah laboratorium. Ada banyak bahan dan benda berserakan. Kadang kita bisa mengenali benda tersebut, kadang juga tidak. Kadang benda-benda itu tampak apik, banyak juga yang “umbrus” bagai benda-benda yang tak berguna. Tak jarang kita temui di sudut-sudut tertentu menumpuk pembungkus kopi yang tak digunakan lagi, kotak-kotak korek api yang sedang dikumpulkan, kertas-kertas bertembaga pembungkus dalam kotak rokok, kayu-kayu yang bergeletakan, kulit-kulit berwarna coklat yang bertebaran. Tak ayal, kasur yang biasanya mendapat tempat khusus dalam sebuah kamar menjadi barang sekunder yang digulung dan diletakkan di satu sudut. Ia hanya digelar di ruang ala kadarnya jika DJ Har membutuhkannya untuk menggeletakkan tubuhnya yang penat setelah beraktivitas seharian penuh.
Nritik. Demikian kesan yang terekam kuat tentang DJ Har. Dia tak bisa membiarkan benda-benda yang “bagi kebanyakan orang” tak berguna menjadi benar-benar tidak berguna. Dia memungut, mengumpulkan, lalu mengotak-atiknya hingga menjadi sesuatu yang terbayang di kepalanya. Ketidakbisaannya untuk diam itu dikuatkan dengan tangannya yang tak pernah berhenti menggores sesuatu walau hanya di atas kertas drawing. Buku sketsa seukuran A4 setebal 50 lembar amblas dalam waktu 1 minggu dengan dua sisi lembarannya dipenuhi gambar. Jangan lihat dari hasil rupa yang ia gambar, tapi lihat pada coretan yang ia buat dengan berbagai media; cat air, charcoal, pensil, pena. Penuh seolah tak ada ruang tersisa lagi, tapi tidak ramai apalagi riuh. Lalu, buku itu ia geletakkan.
Setiap Senin hingga Sabtu, dia mulai beraktivitas sejak pagi. Bersiap-siap, lalu memburuh hingga petang. Setelah beristirahat sejenak; duduk, ngopi, mengobrol; dia mulai otak-atik di laboratorium sekaligus tempat tinggalnya itu hingga larut malam. Kadang rutinitas itu diselinginya dengan mengunjungi pembukaan pameran teman-temannya, atau terhenti sejenak untuk pulang kampung. Sembari mengotak-atik, tak jarang teman-temannya berkunjung ke laboratorium DJ Har. Ia pun dengan sigap mempersilahkan temannya masuk, lalu memanaskan air. Sembari menunggu air mendidih, ia mempersiapkan gelas-gelas, mengisinya dengan kopi dan gula tanpa lupa mengajak temannya berbincang. Air mendidih. Dituangkannya ke dalam gelas-gelas. Mengaduk sebentar. Dan, kopi pun siap. Kopi buatan DJ Har yang selalu pas terasa itu menghangatkan suasana obrolan. Entah berapa batang rokok habis menemani perbincangan dari kabar-kabar keseharian hingga pernak-pernik seni rupa yang sesekali berujung pada pameran bersama. Tak jarang, DJ Har menyambi obrolan dengan kembali mengotak-atik barang-barangnya.

Kolaborasi
Seorang teman DJ Har sedang mengumpulkan kotak-kotak rokok merk apa pun. DJ Har membutuhkan kotak-kotak korek api bergambar pasangan pengantin beserta kertas bertembaga pelapis kotak rokok. Jadilah transaksi barter di antara mereka. Bisa jadi, yang mereka perdagangkan hanyalah sampah; namun bagi DJ Har dan temannya kedua jenis benda itu berharga dan penting bagi kelangsungan hidup mereka di seni rupa. Sebuah perdagangan yang diukur bukan dari nilai nominal uang, tapi nilai kebutuhan pihak-pihak yang terlibat.
Kerja sama yang lain dan juga merupakan ke-nritik-an DJ Har adalah meminta teman-temannya turut memajangkan karya mereka dalam pamerannya ini. Salah satunya Catur yang ditantang menyumbangkan karyanya. Sebuah lukisan bergambar seekor anjing berdiri pun disodorkan Catur di bulan Oktober. Walau waktu penggarapannya hanya 2 hari, Catur membuat karya ini tidaklah tanpa perjuangan. Pergaulannya dengan DJ Har selama 2 tahun menjadi titik tolok baginya untuk mendapatkan gambaran sosok DJ Har yang coba ia tampilkan sensasinya di dalam kanvas.
Di tangan DJ Har, gambar ini dibalik posisinya dan ditambahi kursi bagi sang anjing untuk merebahkan punggungnya. Pada bagian bawah kursi ditulisi “Kursi Buat Animal” seolah mengatakan; bahkan seekor anjing pun membutuhkan tempat khusus dalam hidup ini. Catur, pelukis awal, kaget dan tidak menyangka; DJ Har akan merespon karyanya demikian.
Lain lagi cerita Tukul yang ikut menyumbangkan karyanya. Tukul yang tinggal satu kos dengan DJ Har sejak tahun 2010 ini cukup was-was dengan nasib pesawat kayunya. “Karya itu untuk orang lain. Tidak niat untuk disumbangkan pada DJ Har. Itu juga baru sampelnya”, tutur Tukul dengan nada cemas. Ia pun, kemudian, mengikhlaskan karyanya untuk digarap lebih lanjut oleh DJ Har sejauh tidak dibelah atau terjadi perubahan pada bentuk pesawat itu.
Allatief yang mengetahui ada penyumbangan karya dalam pameran ini, turut pula menyetorkan sebuah pesawat mainan dari kain goni yang merupakan bagian dari karyanya berjudul “Mirage#2” pada Minggu sore, 19 Desember 2010. DJ Har langsung menyambut karya itu dengan riang seperti anak kecil memperoleh mainan baru. Langsung saja ia gantung seolah pesawat yang sedang terbang membelah udara, menukik ke tanah secara tegak lurus. Kemudian, ia minta dibawakan foto Allatief. Hingga penggarapan tulisan ini, saya masih belum tahu akan jadi apakah karya ini nantinya.
Dari “Kiss”, “Celana Dalam”, Menjadi “Meet”
Satu perjalanan tema yang cukup aneh, namun demikianlah menurut tuturan DJ Har. Kesemuanya itu untuk mengungkapkan dampak bertemunya budaya-budaya. Kiss, tema pertama yang diajukan DJ Har untuk pameran ini, merupakan produk yang diberi label budaya global. Sesuatu yang dulunya tabu bagi masyarakat Indonesia, kini tak lagi asing dan isin untuk dipertontonkan, dipajang, atau dilihat khalayak ramai.
Sementara, celana dalam, pilihan kedua tema pameran ini, adalah bagian dari pakaian manusia yang diserap bangsa ini setelah bergaul dengan Barat. Barang ini pun, yang dulunya dicari dengan malu-malu lalu dibawa pulang dengan bungkusan tertutup rapat, kini dipertontonkan dalam berbagai warna dan model di etalase toko yang terletak di sebuah ruas jalan yang ramai dan padat atau sebuah mall besar kota.
Kedua hal itu dengan sigap merujuk pada tema yang dibayangkan DJ Har, namun tak memberi kelonggaran yang cukup baginya untuk bereksplorasi. Mulailah DJ Har mengotak-atik ulang bagian ini di pusat laboratoriumnya, yaitu pikiran. Akhirnya, ditemukan satu gagasan yang merangkai sebagian besar hasil kerjanya sekaligus merupakan pangkal terjadinya berbagai produk budaya, Meet.
Peniruan, penghilangan, percampuran dua atau lebih budaya yang berbeda hingga menghasilkan ragam produk yang setelah melampaui waktu tertentu tak lagi mudah menunjuk akarnya. Ada yang memaksakan dirinya diterima. Ada pula yang mencoba bertahan dengan menangkal budaya lain di luar dirinya dengan menutup diri. Ada yang terbuka mereguk tiap kebaruan sembari memadumadankan dengan dirinya.
Berbagai upaya ditempuh. Dari adu kekuatan fisik, kelihaian berdiplomasi, perdagangan, hingga pernikahan. Persis pada bagian akhir ini DJ Har mengeksplorasi dalam satu karyanya berupa lampion dari rangkaian kotak korek api bergambar sepasang pengantin. Pernikahan yang berbungkus cinta dan membangun kehidupan lewat regenerasi tak ayal merupakan proses percampuran budaya yang paling sederhana dan sering kita temui dalam keseharian. Di sini, budaya tak sekadar asal-usul daerah dengan berbagai pernik adat istiadat yang diluhurkan, namun juga pada pola dan sikap hidup yang berlandaskan pada cara berpikir masing-masing pihak yang terlibat. Selain itu, sebagaimana masih berlaku di negeri ini, pernikahan tak hanya milik dua insan manusia yang mengikatkan diri dalam lingkungan sosial bernama rumah tangga, tapi juga percampuran keluarga kedua insan tersebut.
Kesemuanya itu berawal dari pertemuan, menurut DJ Har. Jika saya tandaskan lagi, karena adanya kesadaran dan pengetahuan yang cukup tentang pembandingan yang ditengarai lewat persamaan dan perbedaan satu dengan yang lain. Dicampurkan dengan keinginan dan hasrat, jadilah adonan dialektika kebudayaan. Namun, tetap saja, ada satu bagian besar yang tidak bisa dikendalikan oleh para pelaku kebudayaan (manusia) yang justru memiliki peran dan campur tangan besar dalam proses perjalanan ini.

Singgah di Museum
Tak pernah jelas bagi saya mana yang serius atau bercanda. Diawali dengan undangan DJ Har pada 2 orang personil MDTL yang lewat di depan kosnya untuk singgah sejenak di tempat tinggalnya dan menilik garapannya di tahun 2008. Selanjutnya, perbincangan bergulir menjadi rencana untuk menggelar pameran seni rupa di museum ini. Penentuan waktu yang tak pernah tepat sebelumnya bagi kedua belah pihak kemudian dititikkan pada 28 Desember, hari keempat sebelum tahun 2010 ditutup.
Karya-karya yang diajukan DJ Har pada mula perbincangan berbahan kulit yang disajikan dalam wujud 3 dimensi. Seiring perkembangan proses kreatifnya; bahan kayu, ban bekas, plastik, resin, gelas, dan lukisan-lukisan yang diolah dengan mengelas, menempel, menjahit, menyolder, mengecat turut pula memenuhi ruang-ruang museum.

Artefak-Artefak
Kegelisahan yang dituangkan dalam karya mengalami proses yang cukup panjang. Satu karya yang kuingat cukup baik adalah “Mahatma Gandhi”. Ia memperbincangkannya sejak tahun 2008. Sejak sibuk-sibuk membaca kisah tentangnya hingga mencari fotonya. Kini, karya itu tampil di atas kulit berlatar penuh tulisan “man full love” yang kumaknai sebagai “manusia yang penuh cinta”. Mahatma Gandhi yang menentang penjajahan di India begitu gigih memperjuangkan cinta-nya dengan aksi yang tenang merupakan sosok yang keras dan dingin terhadap Inggris, penjajah.
Ada juga yang proses pembuatan karyanya cukup mengejutkan, yaitu pagar-pagar kayu. Satu sore di bulan Agustus tahun ini, aku mengunjungi laboratorium DJ Har dan melihat tumpukan kayu di halaman depan. Selama beberapa kali kunjungan, kayu-kayu itu masih teronggok di sana terbakar matahari dan dimandikan hujan. Walau tergelitik karena keingintahuanku akan peruntukan kayu-kayu tersebut, aku enggan menanyakannya. Hingga sebulan yang lalu, kayu-kayu itu telah ditatanya yang kutangkap berbentuk pagar dengan coreng-moreng hitam. Ternyata, kayu-kayu itu adalah bagian dari karya DJ Har.
Dalam “Tomb of Head”, salah satu karya DJ Har, aku sempat tersesat mengikuti alur konsepnya. Ada tiga kunci untuk membuka peti kemas, menguak sampul buku, dan mengangkat lembar demi lembar halaman di dalamnya yang bermotif senyuman untuk menemukan sebuah tengkorak kepala manusia. “Mari mengubur kebencian”, ungkapnya tentang karya itu. Kebencian ia simbolkan dengan kepala manusia. Rasa benci yang diberi muatan pengetahuan berisi ideology tertentu, yang disimbolkan oleh buku, merupakan senjata paling ampuh dan berkekuatan dahsyat untuk memusnahkan kehidupan melebihi senjata perang paling mutakhir sekalipun. “Lalu, dikemas dalam peti dan siap untuk disebarkan”. Di titik ini aku kehilangan arah. Mengapa kebencian dengan muatan ideology itu dikemas? Kenapa senjata paling mematikan itu justru disebarluaskan? DJ Har mencoba menerangkannya dengan kembali menjeskan 3 kunci itu. Hingga kutemukan maksud yang sesungguhnya adalah menyebarluaskan gagasannya untuk menguburkan kebencian.
Di luar masalah pertemuan, karya-karya DJ Har mengungkapkan sisi-sisi miris dalam momentum kehidupan yang berbalur dengan protes dan disusupi kerinduan akan keharmonisan manusia dengan alam. Bagaimana pun DJ Har yang dikagumi teman-teman sekelilingnya karena energinya yang besar itu memiliki cara ungkap yang berbeda, seperti objek burung hantu berwarna coklat tanah. Burung hantu yang biasanya hitam menjadi lebih hidup dan bersemangat dalam coklat tanpa meninggalkan alam gelapnya.
OPée 221210


Temu Silang Budaya Dalam Karya-karya DJ Harianto
kiswondo

Menghadap Karya
Pameran ini bertajuk Meet. Berdasarkan perbincangan mendalam dengan Dwi Joko Harianto (dalam tulisan ini selanjutnya akan disebut DJ Harianto atau sapaan akrabnya Har), Meet didasarkan pada konsep pertemuan. Pertemuan antara seseorang dengan seseorang, alam, benda-benda, makhluk hidup atau dunia di luar dirinya. Pertemuan seseorang dengan seseorang atau banyak orang lain, baik yang berasal dari sekitarnya maupun dari tempat lain, yang dekat maupun jauh. Pertemuan kerap kali juga terjadi antara suatu komunitas, kelompok sosial, masyarakat bahkan bangsa dengan seseorang atau komunitas, kelompok sosial, masyarakat maupun bangsa lain. Pertemuan jenis pertama bersifat pertemuan fisik. Di luar itu juga ada pertemuan yang non fisik, yakni pertemuan seseorang, komunitas, masyarakat atau suatu bangsa dengan ide-ide, teori-teori, pengetahuan, filsafat, pandangan dunia, tata sosial dan budaya bahkan peradaban lain yang berasal dari luar dirinya.

Pertemuan itu barang tentu melahirkan event atau peristiwa. Di dalam pertemuan antara dua pihak atau lebih tersebut terjadi berjumpaan fisik wajah ketemu wajah dan perjumpaan nonfisik perilaku, ide-ide, teori-teori, pengetahuan, filsafat, pandangan dunia, tata nilai sosial dan budaya. Pertemuan menghasilkan persinggungan, relasi dialogis, interaksi intersubjektif dialektis. Ada koeksistensi, negosiasi, pembelajaran bersama, pertukaran kode, dan proses penerimaan dan penolakan kode-kode baru dalan hal ini berupa adaptasi, fusi maupun asimilasi. Dalam pertemuan juga terjadi proses negosiasi yang kadangkala berjalan secara konfliktual, manakala negosiasi itu dibarengi dengan invasi nilai-nilai, dominasi atau penundukan dan penguasaan.

Bagi pekerja seni rupa lulusan Fakultas Seni Rupa Jurusan Kriya Seni spesialisasi Kriya Kulit, ISI Yogyakarta ini, perjumpaan dengan sesuatu dari luar dirinya memberinya ransang stimuli kepadanya. Stimuli itu kemudian mendorongnya memikirkan, merasakan, merenungkan sesuatu yang terjadi di luar dirinya, lalu menghasilkan ide, konsep maupun tindakan berproses dalam berkarya. Perjumpaan atau meet inilah yang dieksplorasi dalam karya-karya DJ Harianto, sekaligus tali pengikat yang menyatukan tema-tema yang beragam. Ini nantinya banyak terlihat dalam kerja dan karya-karya.

Tema-tema yang terangkum dalam 22 karya yang dipamerkan ini berpusat pada problematika dari pertemuan atau perjumpaan ini. misalnya perjumpaan antara kapitalisme dan revolusi hijau dengan masyarakat agraris melahirkan involusi pertanian yang salah satunya berdampak pada pemiskinan, pengangguran dan problem spsial lainnya, lihat misalnya pada serial karya bertema pengangguran dan pendidikan. Industrtrialisasi juga menyebabkan eksploitasi alam yang berlebihan berakibat pada kehancuran alam dan bencana bagi manusia, flora dan fauna (ini nanpak pada karya serial ekologis). Perjumpaan antara masyarakat Indonesia dengan peradaban-peradaban besar dunia mempengaruhi pembentukan identitas ke-Indonesia kita hari ini dan nanti. Perjumpaan manusia dengan dunia di luar yang makin massif akibat teknologi transportasi dan informatika membuat dunia makin membuka untuk temu silang budaya. Kompleksitas persoalan tersebut terangkum dalam tema karya-karya di pameran ini.

Ini adalah pameran tunggal DJ Harianto yang pertama sejak menyelesaikan TA-nya dua tahun silam. Sekalipun demikian, di luar itu, dia tergolong rajin mengikuti pameran bersama baik bersama Sanggar Caping dan TP (beraktivitas seni rupa dan gerakan budaya dalam komunitas ini), maupun pameran kelompok dan pameran angkatan.

Hal yang menarik pada diri Har adalah keuletannya berproses dan berkarya dengan menggunakan berbagai media dan materi. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja di perusahaan pembuat asesoris dari batu mulia di siang hari, malam harinya dia masih menyibukkan diri di studio sekaligus kost-kostannya. Keberaniannya untuk terus berproses mengangkat berbagai tema yang dipikirkannya dan keuletannya mencoba berbagai metode, media dan materi yang tersedia untuk berkarya menarik untuk diperhatikan. Namun tulisan ini tidak akan banyak menyoal di wilayah ini.

Membacai Makna
Karya-karya yang dipamerkan terdiri dari karya dua dimensi (lukisan) dan tiga dimensi (instalasi dan patung). Ada beragam tema karya yang dipamerkan pria lajang lulusan tahun 2008, dengan Tugas Akhir ”Dari Kegelisahan Pengangguran”. Dalam TA-nya Har banyak mengekslorasi dan berproses dengan menggunakan materi kulit kambing samak nabati dengan cara dipress. Dari antara beberapa karya yang dipamerkan kini, ada yang merupakan karya-karya TA: Pertama, With My Life. Karya ini bercerita tentang eksistensi manusia yang tanpa dimanifestasikan dalam kerja atau tindakan adalah tidak mungkin. Seseorang yang kehilangan semangat bertindak, ibarat terbujur kaku dan hanya mengikuti kehendak yang dijalankan orang lain. Pada karya ini Har mau menunjukkan beginilah derita pengangguran, tak punya banyak pilihan untuk memiliki kehendak dan harapan, seperti mati langkah untuk menerakan eksistensinya.

Kedua, Di Kamar Ketika Hujan. Coba bayangkan diri kita adalah seorang pengangguran, yang mengalami kesumpekkan tinggal di rumah, yang pasti penuh problem. Lebih celaka lagi kita tidak bisa beranjak dari rumah, karena hujan harus meringkuk dikepung permenungan dan ruwetnya pikiran. Apa enaknya menjadi seorang penggangguran dalam posisi seperti ini?

Ketiga, Di Ketinggian I. Kayu bantalan rel berdiri dengan beberapa batang besi menancap di kayu. Di salah satu potongan batang besi itu duduk sesosok manusia mencakung kaki menjuntai. Karya ini menarasikan tentang seorang pengangguran yang duduk pasif, hanya anggan-anggan dan harapan yang sibuk berkecamuk dalam pikirannya. Ini akan makin membuatnya galau, ia seperti bediri di tiang tinggi, yang bisa membuatnya terpelanting pada frustasi dan dorongan untuk bunuh diri. Rel kereta api kerap menjadi salah satu pilihan tempat untuk melakukan niat jelek itu.

Keempat, Bercermin. Problematik psikologis pengangguran ini tidak hanya ditanggungkan sendiri oleh seorang laki-laki pengangguran, manakala si penggangguran laki-laki tersebut sudah berstatus menikah. Problematika psikologis itu juga ditanggungkan oleh istrinya. Karya ini bercerita tentang perempuan hamil yang sedang mengidam, sayangnya suaminya pengangguran, jadi jangan berharap dia punya keinginan-keinginan yang bakal bisa dipenuhi oleh suami tercintanya. Seperti berkaca di depan cermin, bayangan kepalanya terperangkap di dalam cermin, sementara tubuhnya duduk di kursi di depan cermin. Dia melepaskan kepalanya dalam bayangan cermin. Ia harus mau menyadari diri dan keadaan agar tidak larut dalam keinginan, emosi dan hasrat untuk membeli karena tidak punya daya beli. Ini memungkinkan orang pada posisi senewen atau kegilaan dalam pengertian tertentu.

Kelima, Tanpa Dokter, memvisualisasikan seorang perempuan stress, yang sedang hamil, perut membuncit terbujur tak berdaya. Ini menyodorkan kegelisahan yang kuat akan isu pentingnya kesehatan reproduksi perempuan. Dia dan suami figur yang digambarkan adalah pengangguran yang tidak mempunyai biaya untuk perawatan kehamilan. Apa jadinya kesehatan kehamilan, Ibu dan orok yang dikandungnya serta persalinannya nanti, manakala biaya menjaga kesehatan kehamilan dan persalinan begitu tinggi. Ibu hamil miskin terpojok pada posisi lemah, ibu hamil yang miskin seakan-akan tidak berhak atas kesehatan reproduksi.

Keenam, Ketika Kamu Marah Istrimu Takut. Karya ini masih merupakan runtutan karya serial tema pengangguran. Betapa rentannya posisi perempuan dalam silang sengkarut problematik pengangguran. Seorang istri dari seorang pengangguran akan mengalami tekanan dan tegangan psikologis semacam ini. Seorang suami yang menganggur barangkali secara psikologis rentan untuk terjebak dalam sikap temperamental, karena stressing tertentu membuatnya gapang marah dan lain-lain. Dalam kondisi semacam ini, bisa dibayangkan perempuan istri pengangguran dalam tekanan ganda. Secara ekonomi sulit secara kejiwaan lebih-lebih pasti tertekan, dan rentan terkenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Di luar karya-karya yang dihasilkan selama proses TA, dalam pameran ini juga hadir tema-tema ekologis. Tema-tema keprihatinan ekologis ini hadir dalam karya antara lain, The Tarzan Lose. Karya ini menyampaikan penuturan tentang kehancuran ekologi hutan, habitat hidup flora dan fauna, berdampak pada kehidupan manusia seperti banjir, longsor, pemanasan global, kerusakan ekosistem serta hilangnya sumber nutrisi dan matapencarian masyarakat lokal. Dalam penggunaan materi untuk memproduksi The Tarzan Lose ini menarik, Har memilih memakai sebitan (limbah bagian luar batang) kayu jati untuk memperkuat effek tema yakni penghancuran hutan.

Kalau hutan sudah habis, maka pohonan serta kehidupan yang tinggal di dalamnya tinggal menjadi Artefak. Memvisualkan instalasi onggokan sisa potongan kayu, ada batang dan akar, dengan seekor burung hantu warna coklat tanah, sunyi sendiri bertengger di onggokan itu. Artefak itu terkurung kawat berduri. Kalau hutan sudah habis kautebangi, maka ekosistem, flora dan fauna (unggas salah satunya) pun akan merana dan punah. Manusia juga akan punah olehnya. Hutan dan ekosistem di dalamnya suatu saat akan musnah dan yang tertinggal hanyalah seonggok artefak atau sepanggal dogeng yang akan dikisahkan untuk generasi manusia mendatang. Halo Selamat malam, apakah Anda masih ingat lagu Gombloh yang berjudul Lestari Alamku?

Berburu juga menarasikan keperihatinan akan eksploitasi alam berlebihan, di mana banteng, juga hewan-hewan liar lainnya, yang hidup bebas di alam, diburu secara massif hingga punah. Mereka diburu demi memenuhi prestige, hasrat penakhlukan dan kepuasan manusia. Kalau hewan liar punah, jangan-jangan nanti hewan piaraan semacam kerbau sapi dan lainnya juga akan habis dilahap manusia. Gambaran semacam ini boleh dikata hampir lenyap saat ini. Animal Lose memvisualkan kambing dengan sekrup-sekrup yang menempel pada tubuhnya. Sekrup-sekrup ini dikesankan oleh perupa sebagai simbolisasi mesin atau industri. Ini menunjukan matinya animal oleh proses industrialisasi. Ini berbeda sekali dengan keakraban anak-anak kecil dengan kerbau, di desa-desa di masa lalu, sebelum revolusi hijau, mekanisasi dan involusi pertanian terjadi. Simak pada karya Rame-Rame Numpak Gudhel, yang menggambarkan keriangan bersahaja anak-anak desa bermain akrab mesra dengan kerbau piaraan.

Mengapa dengan pencapaian kemajuan sains dan teknologi, seolah-olah manusia modern ingin hidup sendiri menguasai ruang alam semesta, melenyapkan flora, fauna, entitas lain di luar dirinya dan alam semesta? Ini mungkin era kegelapan dunia, setelah Tuhan “dimatikan” oleh manusia, lalu dilanjutkan manusia membunuh sesamanya dan akhirnya dirinya sendiri. Manusia tidak bahagia, maka ingin melenyapkan semuanya termasuk dirinya.

Kebo Kembung dengan materi karya daur ulang alumuniun voil. Ada pertentangan yang dimainkan di sini, ikon kerbau yang berupa alam nature dipertentangkan dengan sampah industri almunium voil. Ketika sampah sudah membanjiri setiap jengkal tanah sampai ke desa-desa dan padang-padang rumput, kerbau menjadi kembung barangkali karena juga memakan sampah itu. Ini menarasikan rusaknya alam serta kehidupan makhluk hidup (dalam hal ini hewan/kerbau) akibat sampah industri. Kerbau mati dan digantikan dengan kerbau imitasi terbuat dari sampah anorganik.

Ada satu lagi karya yang berjudul Animal. Karya ini memvisualkan anjing mengelosot manja di kursi. Karya ini bukan bertemakan kekalahan binatang. Figur anjing dalam karya ini dikesankan oleh perupa sebagai studi perilaku anjing. Anjing atau juga hewan lainnya memiliki perilaku unik, yang tak terlalu jauh berbeda dengan manusia. Pada dirinya sendiri dia adalah subjek lain di luar manusia, yang perlu direspon, diakui keberadaan serta dilindungi hak hidupnya.

Di luar kegelisahan akan ekploitasi alam juga ada keprihatinan akan dampak perang. Sampai hari ini dunia ini masih menyuguhkan perang serta penyelesaian konflik dengan kekerasan dan senjata. Baik itu perang antar negara, perang antar ras dan suku bangsa (yang banyak dikenal dengan konflik rasial dan konflik komunal). Dalam pameran ini kali Har juga memperesentasikan sikapnya atas perang dan kekerasan bersenjata dalam beberapa karya. Sudah Terlalu Panjang Tentang Perang memvisualkan sebilah pedang yang terhunus, beberapa objek tengkorak dan peluru tajam bergeletakan berjajar di bawahnya. Pesan yang ingin disampaikan adalah sudahi saja perang dan penggunaan kekerasan atas dasar pembenaran apapun (agama, ideologi, kepentingan politik dan ekonomi). Senjata, kekerasan dan perang tidak bermakna apa-apa untuk manusia dan nilai-nilai humanitas.

Married Not War karya instalasi dengan menggunakan bekas bungkus korek api. Dari materi yang remeh-temeh direspons menjadi karya yang menyodorkan pemikiran tidak sembarangan. Kecemasan dan keperihatinan akan potensi serta terjadinya konflik komunal dalam masyarakat Indonesia, karena kenyataan perbedaan ras, suku, pilihan keyakinan ber-Ketuhanan yang plural dieksplorasi dalam karya ini. Anjuran Married Not War membalikkan kecemasan akan potensi konflik, menjadi pemujaan akan pluralitas dan yang akan melahirkan Indonesia menjadi multi ras, multi kultur yang menarik. Indonesia lets unity.

Tomb of Heate sebuah karya yang menantang, di mana audience diajak berpartisipasi secara interaktif untuk membuka/mengangkat lembar demi lembar buku, yang sampai pada halaman tertentu akan semakin menyeruak bentuk tengkorak dari serat fiber. Ini mengisahkan tentang nisan kebencian. Buku dan juga teori tidak bebas nilai, ia menerakan ideologi atau dogmatisme tertentu, kalau tidak dibaca secara kritis. Celakanya nisan kebencian itu terkemas dalam peti kemas yang siap dikirimkan oleh ekspedi ke seluruh dunia. Kalau sudah demikian tak lebih dan tak kurang dia hanyalah menjadi nisan kebencian, yang mengajari orang membenci kelompok lain di luar kepentingan ideologi kelompoknya. Kalau tidak hati-hati dan kritis manusia termakan hasutan buku-buku dan saling membenci. Ujuran yang menyembul dari karya ini janganlah ada kebencian di antara kita, janganlah kita mau diadu oleh karena beda pemikiran dan beda keyakinan teoritis, filsafat atau malahan ideologi.

Membongkar Tembok menyiratkan dan menyuratkan pesan tematik tentang dihancurkannya batas-atas ideologis atau sekat-sekat atas nama apapun yang selama ini mengurung manusia. Ini menyiratkan kemenangan humanisme dan pembebasan manusia dari sekat-sekat yang saling memisahkan manusia, kelompok manusia, masyarakat atau bangsa yang satu dengan yang lainnya. Sistem yang anti humanis dalam perjalanan dunia kontemporer kita hari ini semua dibongkar, diruntuhkan, dihancurkan. Dan manusia secara optimistik berdiri tegak mengatasi kungkungan yang menyekat mengurung tersebut. Karya ini terinspirasi oleh legenda penjaga bunga dalam sejarah tembok berlin, yang memisahkan Jerman Timur-Jerman Barat dan yang akhirnya diruntuhkan pada tahun 1991.

This Is Gandhi memvisualkan raut muka Mahadma Gandhi, pemikir dan pejuang pembebasan India menentang penjajahan dan industrialisasi yang dilakukan Kerajaan Inggris atas India. Pesan penting yang disampaikan dalam karya ini terutama mengacu perjuangan Gandhi menentang kolonisasi dengan metode perlawanan yang anti kekerasan.

Tema-tema pendidikan juga terdapat dalam karya-karya lelaki asal Ngawi Jawa timur ini. Hasrat Belajar, merupakan karya simbolisasi seekor burung hantu menonjol kelihatan leher dan kepalanya dari ojek sebentuk celana dalam perempuan. Burung hantu yang dikenal sebagai simbol rajin belajar sampai larut malam, atau cerdik pandai. Celana (dan apa yang ada di dalamnya) menurut perupa merupakan simbolisasi sumber hasrat yang paling kuat. Perpaduan dua ikon simbolik ini divisualkan oleh perupa untuk mengkreasi simbol baru yang menyiratkan makna hasrat yang kuat mengejar pengetahuan.

Akan tetapi apalah gunannya hasrat belajar yang tinggi kalau biaya pendidikan begitu mahal dan terus melambung tinggi tak terbeli oleh orang kebanyakan. Karya patung Siapa Berani Sekolah menerakan tema persoalan sosial tentang pendidikan. Siapa Berani Sekolah digerakan oleh keperihatinan yang mendalam akan kenyataan biaya pendidikan yang tinggi. Kenyataan ini kalau terus berjalan, orang miskin dilarang sekolah, dilarang pandai! Har menyodorkan dalam karyanya segelas satire hitam pahit kental. Anda harus meneguknya, sembari perlahan mencecap pahitnya, yang menganggu cita rasa masyarakat peduli pendidikan.

Pada beberapa karya Har yang lain juga terlihat tema yang digodok ketika menyikapi modernitas. Poem of Contemporary karya ini menghadirkan ikon tumpukan ban luar motor terbungkus plastik dan ada tulisan huruf alfhabet A sampai Z, kayu yang dikesankan sebagai rakit, dan pesawat terbang yang melayang di atasnya. Ketiga ikon itu mengacu pada alat transportasi, ini mengacu pada dunia yang mengalami percepatan demikian rupa akibat kemajuan transportasi modern. Sementara huruf alfabetik mengesankan bahasa komunikasi yang begitu gencar mengusung percepatan arus informasi lintas benua. Inilah dunia kita hari ini, ketika lintas batas ditembus oleh globalisasi yang makin massif, terjadi perjumpaan yang massif dan pertukaran budaya yang massif juga. Kita seperti diserbu arus informasi yang diusung oleh transportasi modern dan lebih-lebih tehnologi informasi, cyber. Dunia menjadi kampung besar dengan identitas budaya yang menjadi relatif dan terpertukarkan, saling menyerap meminjampakai.

Tema seperti ini juga semakin digarap kuat dalam Cyber On. Karya ini memvisualkan satu individu yang terbagi dua, dibelah oleh bingkai, satu sosok di luar ruang satu sosok di dalam ruang. Visualisasi ini mau mengesankan kepada kita suatu metapora, bahwa manusia saat ini dengan hanya berdiam di dalam ruang, tetapi sekaligus dia melalang ke mana saja. Seseorang pasif berdiam di satu tempat, namun sekaligus berada di mana-mana dan bisa bersimulasi menjadi apa saja dan siapa saja/ Oleh karena kecangihan tekhnologi cybermatika, dia bisa melintas batas dunia melalui alam maya. Manusia-manusia transspace dan transculture.

Ada juga tema tentang identitas diri masyarakat Indonesia. wHaaaaa… My Name Bima memvisualkan sebentuk sosok duduk bersila. Kepalanya Sincan, tokoh kartun anak-anak terkenal asal Jepang. Anehnya tangannya seperti tangan Bima, tokoh perwayangan dari kisah Mahabarata, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ini merupakan olahan visual perjumpaan tradisi dan modernitas. Keduanya merupakan pengaruh dari luar yang dicerap, walaupun yang pertama dicerap lebih dulu dan sudah dianggap menjadi tradisi sendiri berabad-abad yang lampau. Sementara yang satuny lagi dicerap lebih kemudian dari kultur luar yang masih dianggap pengaruh asing. Karya ini menarik manakala diletakkan pada usaha mengintrogasi guna mencari arketip identitas ke-Indonesia. Anda dapat memperdalam sendiri permenungan mencurigai identitas ke-Indonesiaan kita. Identitas bukan persoalan genetis dan kultur yang melekat inheren dalam pertalian genetik, melainkan merupakan proses sosial intersubjektif dan interkultural dalam perjumpaan dan pertukaran budaya global. Barangkali identitas memang terbentuk oleh kesediaan manusia untuk menerima beragam narasi dan mengimajinasikanya sebagai milik diri.

Black Moon karya yang merespon tradisi foklore di nusantara tentang seorang dewi yang memangku kucing di lingkar sinar cemerlang rembulan. Namun demikian dalam karya ini ada sesuatu yang menarik. Dalam karya ini dewi/perempuan bersama kucing dalam pangkuannya itu terlempar melorot keluar dari lingkar bulan, sementara itu dalam lingkar bulan itu sendiri telah dipenuhi oleh siluet hitam gedung-gedung, bulan itu sendiri telah padam sinar cemerlangnya, gelap membayang.

Sekadar Catatan Untuk Dj Harianto
Dari semua karya yang dipresentasi dalam pameran bertajuk Meet ini, paling tidak saya meilihat kecenderungan yang kuat pada karya-karya yang bermediakan atau digarap dari materi kulit kambing. Lebih kuat lagi pada karya-karya multi media yang memadukan kulit dan kayu. Pada karya jenis ini saya melihat Har begitu kuat mengolah bentuk, gesture dan mampu memunculkan nuansa yang mengejutkan. Misalnya pada karya This Is Gandhi dan Membongkar Tembok sekedar menyebut contoh. Di sini Har mampu menguasai dan mengolah media ini hingga mencapai efek-fek plastis dan puitis. Dalam kesempatan bicang-bincang dengannya, diapun mengakuinya, “…kelebihan dari kulit ini ada efek-efek yang mengejutkan, ketika proses pembuatan karya sedang berjalan muncul tantangan menarik, dan ketika proses pergerjaan selesai kerap kali ada efek-efek yang tercapai mengejutkanku sendiri”. Kelebihan lain dari media kulit ini adalah bisa menjadi alternatif.

Karya-karya Har syarat dengan konsep, pemikiran tematik yang kuat. Selain itu juga sarat dengan ikon-ikon dan simbol-simbol yang diacu. Melihat karya Har memang cenderung dipaksa berkerut kening, berpikir dan merenung, meskipun masih ada celah bebas untuk menafsirkan karya-karyanya. Akhirnya selamat berpameran dan selamat mengapresiasi.

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


























Leave a Reply