Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Potret Tampak Samping” – nDaru Ranuhandoko
poster
Start: Saturday, August 08, 2009 at 19:00 WIB
End: Tuesday, August 18, 2009 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Dusun Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55b Tirtonirmolo, 0274 - 7448911
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

Setelah melihat film eksen dengan tema super hero yang berhasil memberantas kejahatan, pada umumnya perasaan kita masih hanyut dalam cerita film tersebut dan masih kuat bayangan akan sosok super hero yang tampil gemilang di film tersebut, keberanian, ketangguhan, ketampanan, arif, cerdas, serta postur tubuh yang perfeksional ditambah dengan balutan kostum yang begitu pas pada anatomi dari super hero itu, membuat sulit untuk menghapus bayangannya dari pikiran. Perasaan kagum terhadap super hero tersebut semakin mengakar di dalam hati, sehingga mendorong untuk memiliki sebuah boneka super hero itu yang pada umumnya orang-orang mengnyebutnya sebagai action figure.

Karya Ndaru pada pameran ini, semuanya dalam bentuk tiga dimensi bermaterialkan kertas dalam wujud figur manusia. Karya –karya yang menampilkan kekuatan penyimbolan pada sosok manusia marjinal, Karakternya terlihat menonjol dari sisi cerita, berbagai karakter penuh beban kehidupan, sosok yang juga memiliki muatan guncangan psikologis. Pada banyak karyanya merupakan sebuah potret kehidupan manusia yang termajinalkan dalam hubungan sosial di masarakat. Kehidupan yang sering ia jumpai di sekitar bantalan rel kereta api, gubuk-gubuk liar di pinggir sungai, kolong jembatan, pengemis, gelandangan, tunasusila,pengamen, preman yang banyak tersebar di pinggiran kota besar. karakter karya tersebut terlihat kuat bercerita tentang manusia yang menatap hari-harinya dengan ketegaran sekaligus pasrah terhadap nasib yang dialaminya. Jiwa yang kuat seperti itu kiranya menjadi ciri menonjol dari karakter yang ingin di tampilkan dari karya-karya Ndaru.

Disamping figur manusia yang tegar, Ndaru juga menampilkan tingkat peradaban yang berbeda. Yang cenderung kurang beradab pada orang-orang marjinal. Pada karya, dimana seseorang di tarik oleh dua orang lainnya dari arah yang berlawanan demi untuk memperebutkan teman, orang yang diperebutkan dengan cara ditarik secara paksa itu tampak tak berdaya menahan sakit, sedangkan dua orang penarik ini sepertinya tidak mempedulikan derita yang di dera oleh teman yang sedang di perebutkan. Begitupun sebuah cerita tertangkap jelas, ketika melihat karya yang menggambarkan potongan rumah gubuk yang di penuhi dengan jemuran pakaian dalam wanita, yang di bawah jemuran itu terdapat wanita setengah telanjang duduk dengan santainya seakan tidak berlaku norma-norma sosial yang menjadi benang merah akan peradaban manusia.

Diantara figur-figur manusia marjinal yang terasa rendah tingkat peradabannya, di hadirkan oleh Ndaru sosok Semar yang merupakan dewa dalam dunia pewayangan sebagai simbol dari sifat yang bisa diterima di lingkungan apapun, baik lingkungan dewa atau lingkungan manusia, begitupun lingkungan yang peradaban tinggi maupun peradaban rendah.

alur cerita yang di sampaikan oleh Ndaru menyenangkan untuk di ikuti, selayaknya ketika kita melihat action figure, imajinasi kita terbawah secara lembut ke dalam action figure itu, hanya satu wujud action figure namun mampu membuat cerita yang kompleks.
Keinginan untuk memiliki action figure merupakan sarana perwujudan dari ekspresi diri terhadap naluri untuk bersikap pada kehidupan sosial.

Pada akhirnya mengkoleksi sebuah action figur, terjadi pada umumnya setelah kita lihat sebuah film, kita tahu beratnya “jagoan” dalam film tersebut ketika menyelesaikan permasalahannya dan kemudian berakhir dengan kebahagiaan yang abadi. Namun bagaimana ketika action figure tersebut tercipta dari hasil pengelihatan seorang seniman yang hampir setiap hari menemui orang-orang yang marjinal, yang kehidupan kaum marjinal itu berada di bawah standart ‘layak hidup’, baik secara ekonomi maupun sosial.

Ketika setiap saat kita selalu dipusingkan tuntutan akan peningkatan kualitas hidup, sehingga sedikit atau bahkan tidak ada porsi dalam benak untuk bersentuhan terhadap kehidupan marjinal di sekitar kita. Akankah karya potret manusia marjinal seperti itu layak untuk di koleksi? Atau bahkan potret marjinal dari kehidupan sehari-hari yang diwujudkan pada karya tersebut membuat semakin menarik untuk dikoleksi?. Banyak faktor yang bisa menuntun kita untuk menikmatinya.

03-08-2009,
Yoyok MDTL


Salam,

Waktu senggang Ndaru, dintara kesibukannya mengajar sebagai dosen di Jakarta sering kali di isi dengan mengolah kertas menjadi boneka. Kegemarannya ini telah menghasilkan banyak figur manusia maupun binatang.

Media kertas yang digunakannya merupakan material yang mudah ditemui sehari-hari dan tidak membutuhkan biaya yang tinggi untuk dapat diwujudkan secara maksimal sebagai karya seni. Penggunaan media yang mudah didapat ini melihatkan ketakterbatasan eksplorasi berkarya, baik secara materi maupun wacana berkeseniannya.

Karya seni yang menarik tidak harus di dapat dari material yang mahal, dan proses berkesenian yang mengalir terasa pada karyanya. Semangat berkarya Ndaru merupakan inspirasi dalam berkesenian. Dari sinilah kami tertarik untuk memamerkan karya boneka tersebut.

Yogyakarta, 03-08-2009

Ugo Untoro

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

















Comments are closed.