Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Rupa-rupa” – Ali Gopal
poster
Start: Tuesday, January 29, 2008 at 19:00 WIB
End: Sunday, February 10, 2008 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Dusun Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55b Tirtonirmolo, 0274 - 7448911
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

“cool”

ada dua tikus terjatuh dalam mangkuk berisi cream,

tikus pertama menyerah dan tenggelam, tikus kedua

berputa-putar terus sampai cream itu menjadi

mentega dan dia bisa keluar.

“aku adalah tikus kedua”

Sebuah karya seni, jika di wakili oleh suara atau tulisan orang lain maka tidaklah utuh nilai dari sebuah karya tersebut. Biarkan karya tersebut tampil alami seiring dengan maksud dari si senimannya. Maka tulisan ini bukanlah dimaksudkan untuk mewakili karya dari Alie Gopal, bukan pula pengantar dari sebuah teknik menciptakan karya seni, biarkan karya tersebut tampil dengan apa adanya tanpa terwakili oleh sebuah pengantar atau penanda dari orang lain, maupun penanda yang diciptakan dari seorang yang mengoleksi hasil dari karya tersebut.

Datangnya sebuah imajinasi, ilham, atau sesuatu apalah yang namanya menjadi daya dorong seseorang untuk menciptakan sebuah karya adalah hasil dari pergulatan pikiran yang merupakan bentuk komunikasi seseorang antara apa yang dirasakan dengan apa yang terpendam dalam otaknya. Hasil komunikasi itu wajar adanya jika ingin disampaikan kepada individu diluar dirinya.

Namun pergeseran makna dari karya tersebut sering burubah-ubah setelah karya itu disampaikan kepada publik. Beragam latar belakang pemahaman akan seni, berikut berbagai kepentingan dalam usaha untuk menguasai karya seni sangatlah besar pengaruhnya terhadap pergeseran makna dari sebuah karya.

Dalam hal ini publikasi dari sebuah karya menjadi kepentingan yang sangat besar dalam penyampaian karya tersebut terhadap publik, sebuah karya seni bisa diterima oleh khalayak umum, terutama oleh pasar seni, tidaklah terlepas dari peran akan propaganda yang merupakan bagian dari publikasi. Hal demikian yang menyebabkan begitu besar fungsi dari publikasi.bagaikan dua mata uang. Sedemikian pentingnya sebuah publikasi sehingga menyebabkan tugas dari seorang seniman tidaklah hanya berupa penyampaian respon pikiran dari sesuatu yang dialaminya kemudian diterjemahkan melalui karya seni. Seorang seniman haruslah berpikir lebih dari sekedar menciptakan karya seni, dia juga harus mempelajari cara agar karyanya diterima oleh publik. Seniman, berpeluang besar  terseret untuk mempelajari keinginan publik atau sekelompok orang bermodal yang juga menjadi penanda akan kesuksesannya dalam berkesenian.

Publikasi secara provokasi besar-besaran dari sebuah karya seni, berpotensi untuk menggeser makna karya seni, dari sang seniman mengarah kepada kepentingan akan industrial, yang berimbas terhadap kekuatan nilai seni yang bisa dikalahkan oleh kepentingan materi semata. Jika sampai pada titik yang demikian, bisakah kemurnian nilai seni itu sendiri terjamin?, jika proses penciptaan sebuah karya seni sudah di selimuti oleh kepentingan publikasi untuk diterima publik, bahkan mengikuti pola pikir dari sekelompok orang yang dengan kekuatan modalnya bisa mengkatrol akan karya seni itu diterima oleh pasar……..

Seorang seniman sangat mungkin bisa bertoleransi dengan kondisi demikian dengan mengatas namakan kemerdekaan dalam berkesenian yang begitu luas, memaklumi kondisi demikian dengan mengatakan setiap orang berhak menerjemakan akan sebuah nilai dari karya seni yang diciptakannya, atau bahkan senimannya menyerah dan pasrah terhadap arus pasar seni maupun menerima apa adanya tanpa mau berbenah dan menerima pada kondisi yang tersisihkan, bahkan menjadi pemalsu dari karya seniman lain (wwhueeeck djuuu….) yang telah berhasil. Tidak ada yang salah dalam hak seseorang untuk menyukai atau tidak, menilai baik buruk, maupun membeli atau menyampakan karya seni tersebut.

Pada akhirnya pemakluman demikian yang mengandung resiko pengendalian oleh sekelompok orang terhadap pergeseran makna karya seni, sangatlah mungkin untuk menguasai perkembangan seni. Sebagaimana yang telah ramai terjadi terhadap jenis tanaman merambat dan tumbuh liar di belahan dunia lainnya, dengan tiba-tiba menjadi sebuah jenis tanaman yang favorit, banyak diminati dan diburu oleh publik. Rela mengeluarkan uang dengan jumlah  fantastik hanya untuk mendapatkan sebuah tanaman, berani membeli berdasarkan jumlah dari daun yang tumbuh, bahkan mempertaruhkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit demi mendapatkan bibitnya.

Sangatlah mungkin hal demikian diciptakan oleh sekelompok orang untuk mendapatkan keuntungan dari tanaman yang baru dikenalkan di sini, sekelompok orang yang melihat peluang akan keunikan dari tanaman tersebut berusaha untuk menjualnya dengan menggunakan publiksasi secara provokatif, dengan mengatakan hanya segelintir orang saja yang memiliki tenaman tersebut, dan mendramatisir akan keunikannya dengan menambahi bumbu-bumbu ceritanya dengan mengabarkan telah terjadi transaksi yang fantastik dari tanaman tersebut dan transaksi itu wajar adanya karena keunikan dari tanaman tersebut. Padahal di balik semua itu transaksi tersebut hanyalah rekayasa yang dilakukan antara teman dalam kelompok tersebut guna men-standart-kan atau membuat sebuah harga dari barang yang ditawarkan.

Sebuah sudut pandang yang telah di arahkan guna mendapatkan keuntungan materi semata, mendorong seseorang membeli berdasarkan dari yang ‘didengar’, bukan membeli karena telah melihat, sebuah provokasi yang mengajarkan tentang siapa yang menyampaikan bukan apa yang disampaikan…. Hal demikian bisa saja terjadi pada sebuah karya seni pada dunia seni.

Sebagaimana terdengar kabar booming karya seni kontenporer yang terjadi di Asia, khususnya Indonesia adalah imbas dari pasar seni Asia yang mulai dilirik oleh dunia setelah booming lukisan Cina.  Kesempatan ini jika dilihat dari keuntungan materi semata, terjadilah rekayasa dari sebuah karya seni untuk bisa diterima pasar dengan provokasi beasar-besaran terhadap kenikmatan dari melihat sebuah karya seni. Senimanpun tergiur akan keuntungan yang bisa didapat dengan turut mendukung kondisi ini. Terjadinya peralian gaya berkarya dengan mengatas namakan eksplorasi dalam dunia seni, rela di olah harga karya seninya  pada sebuah badan lelang ataupun perhelatan pameran. Seniman muda yang tiba-tiba harga karyanya naik berlipat-lipat dan kekayaannya meningkat drastis, hal demikian mudah mempengaruhi pola kehidupannya yang berimbas terhadap penciptaan karya yang terkesan asal-asalan. Memang hal ini tidak bisa dilihat secara sistematis, namun peluang seperti ini sangatlah mungkin terjadi, dan tidak ada yang bisa divonis telah melakukan kesalahan seperti ini. Biarlah ini tetap menjadi permasalahan kesadaran diri terhadap perkembangan kemampuan diri. Semoga ini tidak terjadi pada dunia seni Indonesia.

Lantas apa yang terjadi pada karya seni yang secara visual sama dengan karya seniman lain, yang notabene karya-nya mempunyai banyak kesamaan dengan seniman lain yang secara materi dari hasil penjualan berbeda (hal ini terjadi juga pada banyak seniman) dan peredaran karya-nya juga berbeda.

Apakah perbedaan sepak terjang dalam mem-publikasikan karya, tingkat provokasi yang kurang heboh, penanganan penjualan karya yang kurang mendukung, apakah dewi fortuna belum berpihak, dan masih banyak lagi hal-hal yang mempengaruhi dari peredaran karya seni tersebut.

Terpengaruhkan seorang Alie Gopal terhadap kondisi demikian? Sekali lagi hal ini tidak dapat dijelaskan secara sistematis.

kita bisa merasakan ketenangannya dalam berkarya tanpa harus merasa tersingkir dari pencapaian booming seni di Indonesia saat ini, tanpa di pusingkan akan kesamaan karya dengan karya seni dari seniman lain yang bisa dikatakan lebih sukses. “Berputar-putar terus sampai cream dalam mangkuk itu berubah menjadi mentega”.

Yoyok MDTL


Salam,

Booming seni rupa yang kacau balao ini kembali melanda kita. Jutaan, milyaran bukan lagi angka yang mengejutkan para seniman. Dengan batu, benang, babi, seniman (muda) mampu merebut pasar.

Kekacauan terjadi, pasar membaca bahwa “itulah” karya-karya kontenporer. Seperti masrum di musim hujan, berbondong-bondong seniman (muda) memakai symbol tersebut agar tidak dikatakan karyanya tidak kontenporer (kasihan).

Dari segi ekonomi, saat ini memang baik bagi seniman dan pasar, uang melimpah, yang berdampak pada took-toko alat tulis, tukang pigura model-model perempuan.

Kontenporer, akhirnya, menjadi isme lagi, mental lagi. Kontenporer yang seharusnya menghargai suara-suara, bahasa-bahasa personal digilas dengan pemahaman yang mentah.

Kali ini, MDTL memamerkan karya-karya Alie Gopal, sosok misterius yang hadir dimana saja, entah di pameran, workshop, acara-acara seni dll.

Alie Gopal tumbuh pada era yang kita sebut era naïf isme. Tidak heran bila karyanya mirip Heri Dono, Edi Hara dan lain-lain. Namun dari sosoknya yang “wise”, ia menampilkan tema-tema yang sederhana, lucu, dan semangat bermain yang kuat.

Merdeka!

Ugo 25-01-08



Dalam Pameran kali ini di Museum dan Tanah Liat, Alie Gopal seniman Yogyakarta kelahiran Bandung ini memamerkan sekitar 15 lukisan dan 4 buah instalasinya dengan tema-tema kehidupan sehari-hari disekitar kehidupannya. Karakteristik karyanya, terutama didalam kreasi lukisan-lukisannya mengekspresikan keceriaan, humor, plesetan didalam kegetiran kehidupan. Bentuk-bentuk didalam lukisannya terkadang ditandai dengan ikon-ikon kelucuan yang jenaka, nampak terkadang tanpa bentuk apapun, kecuali diekspresikan dalam pewarnaan-pewarnaan yang meriah.

Dalam karya instalasinya Alie Gopal masih memboyong pada kreasi kuda liar dengan kreasi kuda Troyanya yang pernah dipamerkan di Lembaga Indonesia Perancis beberapa tahun lalu, dimana karya tersebut pada waktu itu direspon oleh Seniman Pertunjukan yang eksentrik dengan tari-tarian yang dilakukan oleh Guntur Songgo Langit.

Alie Gopal yang saya kenal adalah Seniman yang canggih dalam keteknisian penggarapan karya-karyanya, dan dia sering memberikan kontribusinya pada kreasi seniman-seniman di Yogyakarta didalam merealisasikan karya-karya instalasinya.

Dalam waktu ini Alie Gopal menciptakan salah satu karyanya diberi judul “Dark Angel” dia mengeksplorasi sayap pada figure instalasinya yang dibubuhi pula dengan lampu api dan bola disko dibelakang kepala, sedangkan pada “who want to be a leader” ada 10 figur karya instalasinya tidak terlalu besar dibuat kepala-kepalanya sanggup bergeleng-geleng. Didalam pengekspresian lukisan-lukisannya Alie Gopal benyak mengekspos kejenakaan. Ini merupakan cirri khas manusia Alie Gopal yang suka bercerita tentang kelucuan dan absurditas kehidupan.

Didalam kesehariannya dia sebagai Kepala Rumah Tangga yang mengurusi macam-macam hal. Pendistribusian beras murah, minyak tanah, persoalan-persoalan yang dihadapi yang dihadapi oleh tetangga-tetangganya adalah pula tanggung jawab sebagai Kepala Rukun Tetangga yang harus diurusi dan tentunya lagi persoalan-persoalan lain yang tak terhitung. Dimana hal bersifat mem-bumi yang penuh dengan keabsurditasan tersebut dan bersliweran didalam dunia keartistikan dan keseniannya.

Refleksi dari hal-hal keseharian yang terlihat secara visual karya-karya Alie Gopal merupakan bentuk ‘penanda’ kehidupan yang tidak lagi dapat dialami dalam ‘kehidupan nyata’, namun dapat dihayati sebagai kritik, katartik, parodi, absurditas, dan semangat hidup untuk melawan kehidupan yang keras, penuh intimidasi dan kekerasan kemanusiaan.

Selamat menikmati pameran ini.

Jakarta, 21 Januari 2008

Heri Dono

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • After the independence day, mix media,35x35x30, 2008
    After the independence day, mix media,35x35x30, 2008
  • batara kala, acrylic on canvas, 100x100, 2001
    batara kala, acrylic on canvas, 100x100, 2001
  • Dark Angel, mix media, 168x80x40, 2008
    Dark Angel, mix media, 168x80x40, 2008
  • dasa muka, acrylic on canvas, 85x65, 1994
    dasa muka, acrylic on canvas, 85x65, 1994
  • Dimana anakku, acrylic on canvas, 40x35, 2004
    Dimana anakku, acrylic on canvas, 40x35, 2004
  • family, acrylic on canvas, 75x75, 2002
    family, acrylic on canvas, 75x75, 2002
  • Garuda, Mix media, 115x88x28, 2004
    Garuda, Mix media, 115x88x28, 2004
  • loro blonyo, acrylic on canvas, 80x80, 2002
    loro blonyo, acrylic on canvas, 80x80, 2002
  • Psycho Killer, mix media, 165x60x47, 2007
    Psycho Killer, mix media, 165x60x47, 2007
  • who wants to be a leader., mix media, 50x43x29, 2006
    who wants to be a leader., mix media, 50x43x29, 2006

Leave a Reply