Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Secret Identity” – Teguh Hartanto
poster
Start: Sunday, December 14, 2008 at 19:00 WIB
End: Sunday, December 21, 2008 at 23:00 WIB
Location: Museum Dan Tanah Liat
Address: Dusun Menayu Kulon RT.07 RW.07 No.55b Tirtonirmolo, 0274 - 7448911
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

Secret Identity

MDTL – 14 Desember 2008

Aroma kimia yang tidak biasa terhirup saat pertama kali masuk kerumah Teguh, sebuah meja kotak sekitar satu meter persegi dengan tinggi satu meter  dan beberapa t-shirt menggantung di kastok bertebaran di setiap sudut ruangan, Teguh dan beberapa temannya yang tinggal satu rumah sedang melakukan proses pe-sablonan kaos yang merupakan kesibukan sehari-hari bersama teman-temannya.

Teguh yang latar belakang pendidikan formal disain komunikasi visual ini sedang mengerjakan pesanan disain untuk kaos dan sekaligus meproduksinya, sebuah usaha yang dirintis bersama teman-temannya. ketika akan berkarya terhadap media kanvas Teguh berusaha untuk melakukan proses kerja yang dilakukan secara konsisten, “Berkarya ketika melukis adalah penuangan secara sepontan berusaha bekerja dengan tidak berfikir, yang terjadi adalah aku dengan mediaku” ujarnya.

Karya Teguh yang akan dipamerkan sekitar 50 karya painting on canvas tiga diantaranya dilukis melalui kuas, sisanya adalah hasil proses screen pninting, Teguh memulai membuat karyanya diatas kertas ukuran buku tulis pada umumnya setelah itu dipindahkannya gambar tersebut keatas kanvas dengan melalui proses screen printing. Baginya proses berkarya tersebut adalah bagian dari hidup yang dijalaninya juga sebagai penafsiran ulang terhadap nilai hight art dan low atr yang dirasakannya.

Dalam menggunakan warna untuk karya, Teguh cenderung menggunakan warna yang tersedia, merupakan refleksi  adanya. Saat berkarya Teguh selalu menggunakan tangan kirinya meskipun dia sendiri terlahir dengan tidak sebagai orang yang kidal. Dilakukannya hal demikian untuk sebuah pencarian bentuk keindahan dan spontanitas, berusaha untuk tidak menjadikan sis-sia hasil dari sebuah karya yang bisa saja dianggap kurang ‘baik’. “Yang terpenting dalam berkarya seni adalah konsistennitas”, kata Teguh.

Teguh merasakan untuk selalu mengasah imajinatifnya dan mempunyai kepribadian untuk menemukan jalan dan pandangan kedepan.

#

Sekilas karya lukisnya terlihat sperti karya Basquiat, karya Teguh terkesan minimalis dan apa adanya jauh dari bentuk realis dan terlihat figure yang ditampilkan terkesan distorsi dari bentuk adanya. “Saya menyukai Basquiat, Pollock dan Nasar” ujarnya.

Disini yang menarik untuk di rasakan dari karya Teguh saat kita menikmatinya, saat Teguh berproses untuk sebuah karya lukis dia selalu berusaha mengalir apa adanya, bekerja dengan tidak berfikir, spontanitas dan kontinyuitas yang selalu di kedepankan saat berkarya.

Disadari atau tidak saat Teguh melakukan proses bekarya telah menghasilkan pertentangan dalam dirinya, di satu sisi Teguh sendiri mengenal bentuk figure lukisannya tidak asing dan ada kesamaan dari karya seniman besar, kita bisa merasakan saat melihat karyanya akan teringat oleh karya lukis dari seniman besar Basquiat.

Disisi yang lain teguh berusaha mengalir apa adanya ketika bekarya, menggunakan media dan wanah yang tersedia, menggunakan tangan kiri meskipun dia sendiri tidak kidal, serta konsisten berkarya yang selalu di tanamkan dalam hatinya untuk berkesenian.

Untuk sebuah eksistensi dalam berkesian, bisa dirasakan dalam diri Teguh yang berkarya sejak tahun 2000 sampai sekarang tetap dalam nuansa yang tidak beda jauh sekarang. Selain konsisten bekarya, Teguh mempunyai semangat untuk menampilkan pola atau gaya dalam melukis sebagai ciri dari seorang Teguh sebagai seniman.

Proses berkarya yang mengalir apa adanya menghasilkan karya yang sama seperti karya Basquiat, dalam hal ini kita bisa melihat tentang Teguh yang mempunyai idolah dan senang terhadap seniman besar yang telah ia baca, namun Teguh sendiri punya kebutuhan akan status dari keberadaannya sebagai seniman yang selalu berkreasi dan konsisten dalam berkarya.

Seniman-seniman besar yang dia idolakan adalah sebagai revernsi dalam bekarya sehingga untuk mengedepankan eksistensimya di dunia seni Teguh mencari cirikhasnya yang bisa dipakai sebagai acuan seseorang ketika melihat kayanya.

Melukis dengan tangan kiri, selalu berkarya dengan mengalir tanpa harus terbebani oleh sebuah konsep yang mengharuskan dia berfikir lebih dalam, adalah sebuah ciri yang sengaja atau tidak telah dilontarkan Teguh untuk berkarya seni.

Ketika memposisikan diri untuk berkarya secara mengalir apa adanya, tanpa disadari justru Teguh telah berfikir untuk membuat dirinya berbeda dengan seniman lain atau idolanya. Disini kita bisa merasakan kesederhanaan karya lukis Teguh adalah hasil dari pengidentitasan sebuah karya beserta senimannya yang telah menghasilkan sebuah perbedaan atau ciri dari setiap seniman dalam bekarya.

Sesuatu selalu ada yang mengawali dan bukan berarti yang awal selalu yang terbaik, Teguh tanpa harus memaksa dirinya untuk menjadi yang terbaik walaupun setiap orang termasuk dirinya menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, namun yang menarik untuk di rasakan ketika melihat karya Teguh adalah perjuangan dia terhadap konsisten dan ciri yang ditampilkan dalam bekarya.

Pergulatan dalam diri Teguh antara kesamaan visual dengan seniman besar dengan ciri yang ditampilkan melalui konsistensi berkarya dan spontanitas, telah menghasilkan sebuah karya screen print, karya lukis yang tampil dengan minimalis dan mungkin bisa dikatakan distorsi figure, karya Teguh yang demikian itu mempunyai kekuatan untuk sebuah pemicu terhadap respon sebuah imajinatif fikiran dan mempunyai jalan terhadap ide baru yang ingin di sampaikan Teguh dalam pameran kali ini.

Yoyok MDTL.

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar







Leave a Reply