Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Something We’ve Built” – Hari Prajitno
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:

Back sound

“Mengapa mereka harus bersanding disekeliling dimana kita tinggal dan hidup”,  itulah pertanyaan yang di ajukan Hari Prayitno pada pameran instalasi di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) Yogyakarta. Yang di maksud Hari  dengan pertanyaan itu adalah kejadian/benda seperti batu, rumput/ilalang yang keberadaannya selalu disepelekan, padahal apapun di sekeliling kita mempunyai nilai bahkan makna.

Karya instalasi yang  terdiri dari dua bagian, dengan ukuran besar untuk bisa di pajang di ruang pamer MDTL dan juga merespon ruang pamer dengan sebagian dinding galeri dilumuri tanah liat hingga mampu menghidupkan sebuah karya instalasi yang menyatu dengan ruangannya, merupakan karya yang materialnya diambil dari benda-benda yang ada di sekitar kita seperti besi panjang  yang di las melingkar dan bagian luarnya di lapisi ilalang hingga membentuk sebuah wadah atau mangkok ilalang dengan ukuran besar, karya keduanya yang juga berukuran besar terbuat dari material batu putih yang ditumpuk menyerupai menara merupakan bagian dari karya pertama, di tempatkan berdampingan yang di pisah oleh tembok galeri. Kedua karya itu mempunyai makna sendiri-sendiri dan di hubungkan dengan potongan-potongan ilalang yang menggantung teratur di langit-langit galeri, potongan ilalang itu seakan keluar dari menara batu dan berkumpul pada sebuah mangkok besar.

Pada statmen karya, Hari Prayitno menulis tentang kekuatan sekaligus kelemahan dari sebuah mangkuk. Sebuah tanah liat yang di lubangi tengahnya akan berguna sebagai wadah, benda tersebut sangat kuat terhadap racun dan tahan terhadap suhu tinggi namun pada saat yang sama menjadi rentan terhadap benturan dan mudah pecah. Pada karya batu yang disusun seperti menara, merupakan gambaran tentang menara batu sebagai penanda dari siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya.

Konsep lain tentang ‘mangkuk’ dan ‘menara’ dari Hari Prayitno adalah, menara batu yang disusun tinggi merupakan perlambangan dari bentuk kelamin seorang lelaki, sedangkan mankuk adalah bentuk kelamin dari seorang wanita. Sifat maupun divinisi dari kelamin manusia pada karya ini mempunyai kriteria sendiri-sendiri sebagaimana yang tercantum pada alenia sebelumnya.

Akan sangat menyenangkan jika kita melihat dari kacamata seni sebagai bahasa alternatif dalam menelorkan sebuah wacana.  Segala sesuatu mempunyai makna sendiri, dan akan lebih bervariasi makna dari sesuatu itu saat disampaikannya melalui karya seni, sebab sang seniman maupun penikmat seni mempunyai pemahaman sendiri terhadap sesuatu yang di sampaikannya melalui karya seni. Sebuah karya seni akan begitu sempurna saat kita melihatnya dan bisa mengambil inspirasi dari karya tersebut, akan lebih beragam lagi inspirasi yang di dapat dari “sesuatu” itu saat orang lain melihat karya seni tersebut. Begitu menyenangkan merasakan dinamika yang beragam dari banyak pandangan tentang “sesuatu” itu sendiri, dan kreatifitas suatu karya seni akan terasa jika mampu menghasilkan bentuk maupun makna yang segar dari “sesuatu’ itu sendiri.

Namun sangat menyedihkan bila sebuah karya seni ditampilkan biasa-biasa saja atau tidak ada daya kejut tentang pemahaman yang segar terhadap “sesuatu” itu, mengalami pengulangan cerita di balik karya tersebut. Sebuah kata yang bernada filsafat adalah lahan yang segar untuk di gali melalui karya seni, namun publik seni pada umumnya memahami sedikit banyak tentang filsafat, alangkah menyenangkan bila sang seniman memberi pemikirannya yang segar pada karya seni tersebut, sehingga kita tidak menerima pengulangan atau merasakan romantisme semata dari nilai filsafat dalam karya seni tersebut.

Dalam menyampaikan wacana melalui karya seni, sangat terkait dengan pemilihan material dan bentuk visual pada karya tersebut. Boleh saja kita menggunakan material yang tersedia dari sekitar kita, hal itu akan memperlihatkan kreativitas maupun kejelihan seorang seniman dalam memilih materi untuk sebuah karya seni, dimana sang seniman tidak akan terbentur dan berhenti begitu saja proses kreativitasnya saat tidak mampu membeli material untuk karyanya. Dan ketika karya itu tercipta, mampu menghadirkan atsmosfir inspiratif bagi yang menikmatinya, biasanya inspirasi kita muncul saat melihat sesuatu yang biasa saja kita temui sehari-hari kemudian  di visualkan atau di rangkai menjadi karya seni yang segar kemudian di kemas dan di pamerkan dalam ruang galeri seni.

Begitupun sebuah ukuran dalam karya seni bukanlah penunjang utama estetika karya seni, sering kali kekaguman suatu karya seni berasal dari kemegahan yang semakin banyak dan semakin besar dari jumlah dan ukuran karya tersebut. Hal tersebut mengingatkan pada karya seni patung atau tiga dimensi pada masa pra sejarah yang di bisa temui pada situs peninggalan, karya tersebut pada umumnya berbentuk manusia sedang berburu, binatang, matahari, juga figur wanita berukuran besar pada bagian dada sebagai lambang dari kesuburan dan bagian kelamin wanita sebagai lambang kehidupan. Lambang-lambang tersebut divisualkan dalam ukuran besar sehingga terlihat menonjol dan tidak proposional terhadap bentuk tubuh keseluruhan, dan kita tidak ingin sekali lagi melihat karya seni terjebak pada romantisme semata tanpa ada kesegaran dari wacana maupun bentuk visual di mana organ tubuh sensitif wanita sebagai lambang kehidupan serta kesuburan dan organ tubuh sensitif lelaki sebagai lambang kejantanan.

Kesederhanaan material yang di pakai merupakan keunggulan sendiri jika wacana yang disampaikan melalui karya seni tersebut kurang mampu mengusik imajinasi bagi yang menikmati karya tersebut, dan material sederhana itu juga mampu menghindarkan nilai romantisme semata, mampu menjadi motor akan dinamika pemahaman terhadap “sesuatu”,  dan bukanlah karya seni yang siapapun bisa menciptakannya hanya karena materialnya bisa di dapat dari sekitar kita, di tambah lagi dengan konsep atau cerita yang di bangun melalui karya tersebut terasa biasa-biasa saja, cerita yang sudah banyak di mengerti oleh publik seni hingga kehilangan daya kejut dari karya tersebut.

Ketika Hari Prayitno bercerita kepada saya tentang mangkuk sebagai bentuk dari kelamin seorang wanita dan menara batu sebagai bentuk dari kelamin seorang lelaki yang ingin disampaikan melalui karya seni, tentu saja dengan nilai atau makna yang di sampaikan pada statmen karya tersebut. Saya merasakan inspirasi tersendiri dari karya tersebut, yang mana seorang Hari Prayitno seakan sulit untuk menyebutkan seks. Seks sendiri berada pada tataran wacananya, membiarkan bergerak bebas namun terkendali dalam wacana dan meniadakan kata-kata yang membuatnya terlalu jelas, belum sepenuhnya bebas mengatakan seks, entah terbentur pada tatanan sopan-santun yang berlaku pada masyarakat atau ingin menggunakan seni sebagai media alternatif untuk menjembatani pandangannya tersebut kepada publik tanpa melanggar sopan-santun dalam masyarakat.

Dengan karya instalasi yang di buat dari material yang sering di jumpai sehari-hari, seakan berusaha dengan sopan menyampaikan kehidupan seks itu sendiri yang merupakan bagian dari keseharian manusia, sering di jumpai walaupun dalam batasan tertentu namun karena seks sendiri merupakan kegiatan yang sangat privasi dari aktivitas manusia hingga seks berada pada wilayah yang bisa di bicarakan pada saat tertentu, dengan orang tertentu, dan pada tempat tertentu. Kamar tidur adalah tempat dimana seks di fungsikan dan terpisah oleh ruangan lain di dalam rumah, suami istri merupakan orang tertentu yang sah dalam hal seks, dan pernikahan adalah wilayah bebas untuk berbicara tentang seks.

Dengan mangkuk ilalang besar dan menara batu putih itulah bahasa seks disampaikan, bagaimana sang penanda yang berbentuk menara batu mengisi sperma yang berbentuk ilalang-ilalang yang tergantung rapih di langit-langit galeri menujuh pada rahim yang merupakan wadah janin  yang berbentuk mangkuk ilalang sebagai awal dari kehidupan manusia. Bagaimana sang menara batu sebagai bentuk kelamin dan lambang  kejantanan manusia lelaki  mampu untuk merawat, membawa,  menghormati akan kekuatan sekaligus kelemahan yang ada pada sebuah mangkuk yang sebagai bahasa halus dari kelamin seorang wanita. Bagaimana wanita sebagai pemilik rahim yang bisa menghasilkan manusia baru juga menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahan dari kejantanan seorang lelaki.

Wacana seks sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, ditunjang dengan material karya yang diambil dari sekitar kita bisa serasi untuk di kemas dalam karya seni, menghasilkan karya yang kuat secara wacana dan visual, bentuk yang besar bukanlah berbicara tentang kemegahan suatu karya semata, kesederhanaan material juga bukan satu-satunya kreativitas dari kejelihan memilih material karya seni, tidak haram untuk menggunakan material mahal, tapi, juga tidak berarti material murah yang di dapat dari sekitar kita semata-mata adalah wujud utama pada kreativitas seni.

Juga menyenangkan melihat karya instalasi di pamerkan di antara ramainya pameran lukis yang sering di gelar oleh galeri-galeri seni, seakan karya instalasi tidak mendapat tempat jika di lihat dari segi penjualan karya seni. Karya instalasi Hari Prayitno dapat menyita perhatian, minimal tentang pencarian inspirasi dari menikmati sebuah karya seni, yang mungkin, terasa sekali romantisme tentang wacana ataupun kesederhanaan bentuk visualnya, inspirasi tidak didapat sepenuhnya dari material maupun visual karya, namun, dapat di cari kesegarannya pada wacana yang di usung atau bahkan menghadirkan inspirasi yang lain bagi penikmat karya seni dan membuat  dinamika berfikir tentang sebuah wacana yang diangkat melalui karya instalasi Hari Prayitno.

Seperti halnya seks yang selalu suaranya terdengar lirih penuh kewaspadaan dan sering muncul pelan dari belakang agar terasa sopan ketika yang di depan tidak mendegarnya, karya instalasi Hari Prayitno ini seakan halus dalam menyampaikan kekuatan wacana seks, dengan instalasi yang di bangunnya, Hari Prayitno berusaha secara sopan menyampaikan kekuatan seks pada kehidupan.

Dan semangat menggunakan karya instalasi untuk menyampaikan sebuah wacana merupakan keberanian yang sangat indah untuk di telusuri. Kesegaran konsep wacana karya, material, maupun visual karya pada pameran ini bisa menyenangkan untuk di cari, dan jika terlewat melihat pameran ini, bisa kita nikmati melalui dokumentasi yang di buat dalam bentuk foto dan video.

Yoyok widodo

Denpasar, 13 Maret 2010



Kejadian/benda sehari-hari yang biasa-biasa saja mungkin selalu anda sepelekan, bahkan kesampingkan, yaitu bebatuan atau rerumputan/ ilalang. Padahal apapun di sekeliling akan memiliki nilai bahkan makna; mengapa mereka harus bersanding di sekeliling dimana kita tinggal dan hidup.

Ambil segenggam lempung/ tanah liat, lubangi ditengahnya (Lao Tze) maka karena ruang itulah acheter cialis sans ordonnance dia menjadi berguna sebagai wadah.

Mangkok porselin adalah sebuah wadah yang tidak mudah terkontaminasi sekalipun dituangi racun dan juga tahan akan suhu tinggi, tetapi porselin amatlah rentan benturan dan mudah pecah.

Tumpuklah berkeping-keping batu hingga tersusun menyerupai tonggak atau menara, disitulah kegunaan bebatuan, mereka akan menjadi penanda siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya.

Hari Prajitno

Yogyakarya 31 Januari 2010

Museum Dan Tanah Liat

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


2 Responses to ““Something We’ve Built” – Hari Prajitno”

  1. hp says:

    thanks tanah liat

  2. hp says:

    thanks for everything

Leave a Reply