Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“This Real Me #2″ – Bayu Widodo & Irennius Bonky
poster
Start: Saturday, November 29, 2008 at 19:00 WIB
End: Wednesday, December 10, 2008 at 23:00 WIB
Location: Jogja Nasional Museum
Address: Jl. Amri Yahya no.1 Wirobrajan
City/Town: YOGYAKARTA - INDONESIA

THIS REAL ME no THIS REAL ME


Saat ini pahlawan dan penjahat bercampur baur

Peperangan tidak didasarkan atas benar dan salah

Tapi berdasarkan kepentingan

(Quantum of solace,007)


Apa sih perbedaan antara This Real Me (TRM) yang pertama dan yang kedua? Dan mereka, Bayu dan Bongky menjawab,” TRM yang pertama itu lahir saat karya kami dalam bentuk screen print, drawing kertas maupun oil on canvas, yang rata-rata dalam ukuran kecil, karya kami udah mulai menumpuk”. Saat itu Bayu dan Bongky (saya sebut nama mereka berdasarkan urutan abjad) sering ngumpul di rumah Toni -Yustoni Volunteero-, dan Toni-pun mengusulkan mereka berdua untuk menampilkan karya-karya itu. Dengan semangat, Bayu dan Bongky menyambut usulan itu dengan  mengangkat tema This Real Me, sebuah pameran yang menceritakan tentang perjalanan kehidupan berkarya mereka.

Apakah This Real Me 2 ingin mengulang sukses dari sebelumnya? Apakah pesan maupun maksud dari yang pertama belum terasa, sehingga perlu adanya yang kedua? Sampai berapa seri pameran ini berlangsung? Benarkah yang pertama itu sukses? Bongky bilang “TRM adalah sebuah journey dalam berkesenian, so sebuah diary akan sangat menyenangkan jika diikuti perkembangannya dan kita bisa melihat kebelakang untuk kedepannya. Banyak karya yang saya buat dengan ukuran kecil, baik on paper maupun on canvas, terutama dalam bentuk drawing yang  tidak bisa diikutsertakan atau belum dapat kesempatan dalam pameran seni, di TRM inilah saya bisa menampilkannya”.

“Saat membikin TRM, kami berencana untuk menggelarnya setahun sekali”, ujar Bayu, “ketika saya membuat karya ukuran kecil tidak ada perbedaan atau pengurangan fokus dibandikan pembuatan karya ukuran besar, dan, pameran seni, menurut saya adalah sebuah perayaan dari seniman yang telah menghasilkan karya seni”, kata Bayu lagi.

Dalam TRM 2 ini bisa di lihat pengembangan semangat dari keduanya, bukan hanya sekedar menampilkan karya mereka yang berukuran kecil, namun unsur pe-perangan diantara mereka dapat dirasakan. This Real Me, secara harafia dapat diartikan dengan ‘begini aku adanya’, dalam hal ini, ungkapan itu dapat dipakai untuk melihat kemampuan berkarya beserta wacana dari Bayu dan Bongky, itu terjadi pada TRM 1, sedangkan TRM 2, kata Me dari kalimat This Real Me lebih mengacu pada individu Bayu dan Bongky, yang mana pengolahan berkarya dari mereka berdua mengalami perkembangan secara tehknis maupun wacana berkesenian.

Dalam pameran ini mereka berdua akan menggunakan kedua sisi dinding gallery sebagai wilayah masing-masing untuk menempatkan karya, kita bisa melihat lebih enak perkembangan berkesenian mereka berdua dari TRM 1 tahun 2004 dengan TRM 2 tahun 2008, keberanian yang jarang ditemui untuk menampilkan peperangan  secara terbuka pada hubungan antar seniman dalam bersosial, saling menyerap inspirasi tanpa berusaha tampil manis dan bersahabat ketika bertemu muka, namun dibelakang, saling menjatuhkan baik secara halus maupun kasar.lewat pameran ini, mereka berdua yakin akan hasil positip dari ‘perang’.

Sejauh mana keberanian mereka untuk menjalani peperangan ini. Minimal mereka saling terpicu untuk selalu membuat karya menjadi semakin baik, ketika mereka saling melihat karya satu sama lainnya, muncul perasaan iri, minder, marah tanpa alasan dan perasaan sesat lainnya. Namun dengan semangat ‘perang’, muncul semacam dorongan untuk bisa membuktikan diri mereka tidak terbius oleh perasaan semacam itu, berusaha untuk bisa mengimbangi dengan menghasilkan karya yang lebih baik. Dinamika hidup-pun bejalan, tanpa disadari kehidupan social dalam berkesenianpun mereka lewati dengan semangat belajar terus menerus, bersosial dengan apa adanya tanpa harus menikam dari belakang.

Rela terlihat culas, busuk, plagiat demi bisa di pandang sebagai seniman yang hebat. Dengan peperangan ini mereka bisa menepis hal itu, kalimat ini maupun alenia di atas terkesan dipermanis untuk menggambarkan suasana pameran mereka berdua. Setidaknya semangat mereka berdua merupakan bentuk pengungkapan diri yang jujur dan yakin akan jalan apa yang mereka pilih dalam kehidupan berkesenian.

Tumbuh bersama dalam dunia yang sama pada usia yang sama, merupakan peluang yang baik untuk saling mengisi dan memahami satu sama lainnya, guna mendukung sebuah obsesi dalam hidup, namun di sisi lain akan memicu persaingan yang berpotensi menikam, ketika kebutuhan hidup merupakan tanggung jawab yang besar, porsi akan kebutuhan pribadi menuntut lebih banyak  untuk dipenuhi, ditambah dengan kebutuhan materi yang berasal dari sumber yang sama, menyebabkan terjadinya persaingan. Sebagaimana yang dialami banyak orang sekitarnya. Setidaknya dengan ‘perang’ yang mereka gelar, mereka berusaha menarik dan menyikapi permasalahan seperti itu kedalam kehidupannya tanpa harus menggurui orang lain, karena perang ini adalah perang mereka, perang mereka melawan diri mereka sendiri.

Seperti apa karya seni yang mereka pakai untuk sebuah peperangan, catatan vs langkah awal.

Bongky, dengan karya ukuran kecil dan media canvas maupun kertas yang sering disebutnya sebagai karya drawing merupakan ungkapan dari sebuah catatan perkembangan dari proses berkaryanya, Bongky menampilkan karya yang dibuat dari tahun 2003 sampai 2008, yang dapat diikuti dari tahun ketahun, penggunaan warnah yang dipakai sebagai latar lukisannya semakin tahun semaki minim, bentuk figure manusia yang digunakan tidak mengalami perubahan, sampai tahun 2007 figur manusia masih sering di tampilkan dengan garis-garis, hingga karya terbaru di tahun 2008 figurnya mengalami perubahan dengan tanpa garis-garis dan lebih minimalis, di tahun 2006 karya on paper dengan menggunakan pena terasa lebih kuat bentuk figure manusianya. Eksplorasi karya juga terjadi pada tema, yang di tahun awal pada TRM 1, Bongky sering mengangkat tema religi yang diambil dari Bibel dan pada kelanjutannya tema berkarya mengembang tidak hanya di dominasi oleh religi.

Bayu, pada TRM 1 saat di lihat dari catalog pameran tersebut terlihat perubahan bentuk figure manusia yang lebih realis di bandingkan dengan figure manusia yang lebih simple pada TRM 2, karya yang ditampilkan Bayu lebih banyak karya yang di buat pada tahun 2008, beberapa karya di buat pada tahun 2006 dan 2007, selain drawing Bayu juga menggunakan tehnik screent print on canvas. Tema karyanya lebih banyak tentang keseharian yang sering ditemuinya. Street art yang merupakan gejalah urban, ditandai salah satunya dengan mural pada dinding bangunan yang menggunakan tehnik screen menjadikan salah satu daya tariknya untuk berkarya. Pada karya yang dikelompokan Bayu sebagai karya drawing, beberapa diantaranya adalah sket untuk karya yang menggunakan canvas dalam ukuran besar, terlihat bagaimana Bayu memperlakukan karya tidak melalui bentuk dari media yang di pakai, keseriusan dapat dirasakan dari tidak membuang begitu saja sket drawing, walaupun sudah tercipta karya kanvas yang lebih besar, dia memeperlakukan tiap karya adalah mempunyai potensi keindahan sendiri mskipun ada pada media yang berbeda, langkah kecil mengawali sebuah langkah besar.

Gejalah generasi instan mulai terasa dengan bertambahnya para pelaku seni, seperti gelombang besar yang ketika sampai di bibir pantai menyusut dengan sendirinya. Muncul seniman baru, penulis baru,curator baru,pelaku pasar baru, kolektor,gallery, kantong seni, seniman yang sempat menjauh dari dunia seni kemudian berkesenian lagi, semua muncul berbondong-bondong seiring dengan booming seni yang melanda negeri ini, sampai sekarangpun kegiatan berkesenian masih marak. Lepas dari booming seni, kegiatan yang marak adalah dampak positip, namun akan mengecewakan jika di tahun berikutnya kegiatan berkesenian menurun hanya karena booming sudah benar-benar dirasakan lewat.

Orientasi berpameran yang kesuksesannya semata-mata ditandai dengan laku tidaknya karya yang dipamerkan, sehingga karya seni terutama karya lukis sering dipamerkan dengan ukuran kanvas yang basar. Tingkat apresiasi dalam berpameran sudah bukan menjadi acuan lagi, indahnya jika sebuah pameran,jika, keberhasilannya bisa dilihat dari respon yang beragam dan mengusik seseorang untuk mengkritisi hingga dapat menambah wacana baru dalam berkesenian.

Bahkan sering di jumpai beberapa seniman yang karyanya sudah banyak dikoleksi orang lain, ketika membuat karya, dengan entengnya menggunakan proyektor. Hal seperti ini sah-sah aja sih, tapi terasa ada yang mengganjal saat kita menikmati karyanya yang ternyata proses pembuatannya di bantu oleh proyektor, sebuah  alat bantu yang berpotensi instant, terkesan kurang ‘cool’. Ada beberapa karya lukis yang enak untuk dinikmati ketika menggunakan proyektor ketika direspon dengan berbagai cara dan media lainnya, tapi bukan karya lukis yang realis, yang terkesan semata-mata memindahkan sebuah gambar atau obyek ke kanvas. Eksplorasi terhadap media atau alat penunjang seperti proyektor adalah seperti sebuah senjata yang dampaknya bersumber dari sang pemengang senjata.

”Membeli karya seni adalah membeli proses dan sejarah dari si senimannya”. Dan pameran seni adalah perayaan bagi senimannya karena telah selesai berkarya, dan karyanya di pamerkan” ujar Bayu.

“di pameran ini ide liar saya baik eksplorasi dalam bentuk visual maupun medianya bisa terapresiasikan” tambah Bongky.

Semangat ‘perang’ mereka dapat dimaknai sebagai kompetisi, jika ada kompetisi, dibutuhkan kerja otak yang aktif agar tidak mengalami subjugasi (berada di bawah dominasi), inferioritas, atau kepunahan.

Yoyok MDTL


Pengantar Pameran

REFLEKSI TEMA PRIVAT DALAM KONSTELASI PROBLEM SOSIAL

SALAH satu komitmen Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara (YYSN) yang menaungi Jogja National Museum (JNM) adalah menyosialisasikan karya-karya para perupa muda dalam kancah percaturan seni rupa di Yogyakarta, Indonesia bahkan dunia. Tentu saja, ini bukanlah cita-cita yang mengada-ada.  Rupanya, hal ini adalah merupakan bagian dari cita-cita yang proporsional kaitannya dalam memajukan eksistensi karya seni rupa Indonesia dalam skala yang lebih luas.

Bentuk mengakomodasi sosialisasi karya seni para perupa muda tersebut adalah beragam, kali ini Gallery For Citizens yang merupakan salah satu ruang pamer di area kompleks JNM memilih dengan cara menyajikan pameran atas karya-karya dua perupa muda yaitu Irennius Bongky dan Bayu Widodo. Di dalam Pameran Lukisan yang bertajuk This is the Real Me#2 ini, Irennius Bongky dan Bayu Widodo tampak berkehendak mengusung identitas dan tema lukisan yang berangkat dari konsep sebagaimana paparan buku harian. Jadi, diharapkan dengan melihat pameran ini, publik mempunyai tafsir estetika yang kompleks, yang bisa saja merujuk pada apa saja yang telah terjadi dalam  perjalanan hidup dua perupa tersebut.

Kita tahu, sebenarnya, dalam banyak hal, perjalanan hidup setiap orang adalah “sama”: Sama-sama pernah dilahirkan, mempunyai kenangan masa kecil, jatuh cinta, dewasa, menikah, dan sebagainya, yang kesemuanya itu bisa saja dilalui dengan manis maupun pahit, bahkan dalam tema di tengah-tengahnya yakni ada situasi ‘blank’ atau hambar pun sah saja. Nah, seberapa jauh Irennius Bongky dan Bayu Widodo berhasil merefleksikan dan mengartikulasikan situasi semacam itu secara visual? Tentu saja, dalam bentuk abstraksinya pun sangat relatif hasil pencapaian estetikanya. Meski begitu, setidaknya, dengan adanya paparan karya-karya mereka kali ini dapat menggiring kita memasuki ranah apresiasi atas pemahaman hidup yang sungguh warna-warni, tinggal bagaimana kita memetik hikmah yang ada di dalamnya, lengkap dengan kemungkinan aspek senang dan deritanya.

Harapan besar bagi Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara dengan menyuguhkan karya-karya terbaik para perupa tersebut adalah bisa memberikan kontribusi yang siginifikan bagi geliat perkembangan “pertarungan estetika” karya lukis para perupa Indonesia yang cenderung lebih didominasi ragam tema yang mengarah pada aspek sosial, budaya, feminisme, isu globalisasi, maupun tema lain yang bukan merupakan wilayah privat, personal seseorang. Semoga saja dengan adanya pameran kali ini dapat mengeliminir kekhawatiran stagnasi dalam menangkap peluang estetika yang bisa digarap oleh para perupa. Betapa wilayah yang sangat privat pun justru membuka peluang ditafsirkan dalam koridor estetika visual yang lebih kaya makna dan mempunyai fungsi sosial yang bersifat “alternatif solusi”. Sebab, bukan tidak mungkin, dari karya yang bertema privatlah maka justru dapat menyelesaikan ragam persoalan sosial yang melingkupi masyarakat kita. Apa pun bentuk ragam persoalan sosial dan kemungkinan solusi tersebut.

Akhir kata, kepada Bongky dan Bayu, kami atas nama manajemen YYSN dan JNM mengucapkan selamat berpameran, teruslah berkarya dengan semangat menghidupkan terus atmosfer berkesenian karena ini merupakan bagian dari tanggung jawab dan peran penting keberadaan Anda berdua selaku perupa muda.

Selamat berapresiasi dan menikmati gelaran pameran ini. ***

Salam JNM,

Yoyock Suryo Hardihandoyo

Manajer Program JNM



SEKALI LAGI UNTUK BY DAN BQ

Anda semua pasti sudah tahu bahwa draw dan drawing itu punya arti yang berbeda. Draw artinya seri, kalo tak percaya kalian semua ke pertandingan olah raga maka kalau kedua belah pihak yang bertanding mempunyai skor yang sama maka publik yang menonton akan bilang “wah hasil pertandingannya draw”. Nah kalau drawing artinya menggambar, terkandung disitu ada coretan yang sangat intens berulang kali dan membuat sebuah bentuk. Serta tidak disarankan memakai teknik berwarna secara blok. Lho gimana ini blok juga istilah di ranah olah raga seperti bola voli, basket atau jenis olah raga sepak-sepakan seperti sepak bola dan sepak takraw. Blok juga memberikan arti di ranah arsitektural atau tata kota.

Oke kembali ke persoalan drawing, ini kali kedua seniman BY dan BQ, inisial yang dipopulerkan kedua seniman ini untuk menyingkat nama mereka dan ditampilkan dikalangan para pengguna handphone. Yang berarti Bayu dan Bongky. Dan sampai hari inipun penulis tidak tahu nama asli atau nama kepanjangannya mereka berdua, sial! Hmmmm berarti kata inisial dari kata ini sial akibat karena ketidaktahuan akan nama yang sebenarnya hanya singkatan nama dan itu berati kesialan, maka akhirnya lahirlah kata inisial. Ini sejarah lahirnya kata coy! Serius!

O ya tentang kedua seniman eh ngapain ya aku sebut sebut? Ya aku menulis kali ini tentang mereka disini karena mereka membuat pameran dengan menampilkan karya-karya secara teknis mereka digolongkan berpameran drawing. Dan kedua kali ini juga aku menulis tentang mereka untuk menemani berpameran drawing lagi. Dulu pertama kalinya mereka berpameran bareng kan di Parking Space, Pasar Prawirotaman. Kedua kali ini di sebuah galeri mungil dengan nama GALLERY FOR CITIZEN terletak di sudut sebuah museum seni kontemporer yang letaknya di kampung Gampingan, Yogyakarta dengan nama JOGJA NASIONAL MUSEUM. Kedua tempat itu punya karakter sebuah tempat dengan keunikkannya masing-masing. Saling berbeda.

Nah sialnya lagi sampai penulis mau menulis belum dapat jawaban yang jelas kenapa kali ini mereka bertemu lagi dan memamerkan karya drawing lagi seperti waktu pertama? Disengajakan? Oleh apa dan siapa? Atau kali ini, apa itu yang dinamakan jodoh? Cinta sejati? Yang pasti pertemuan mereka kali ini disengajakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dari luar sisi mereka atau memang malah mereka sendiri secara sengaja ingin bertautan hati dan kerja, Tanya mereka sendirilah secara pribadi aku tak punya wewenang memaparkan cerita itu disini karena sangat privat personal pribadi, walah! Walaualam bin zhawap? (kayak bahasa infotaiment! hehehhe)Eh bahasa arabnya bener nggak ya? Kalo salah maafin gw ya…..

Semacam pseudo kerinduan dari dua laki-laki yang yang telah lama tak bertemu. Hmm mengharukan sekali kisah hidup percintaan mereka, aduh penulis jadi pingin seperti mereka deh tapi siapa yang mau sama penulis ya? Sudah tua, lumutan, jarang mandi, miskin, bau, rambut acak-acakan, hidup tak teratur , hidup lagi! wah lengkap deh hahaha tetapi tak apa yang penting baik hati,berbudi luhur dan tidak sombong serta gemar menabung heheheheheh…………………………………

Oke kembali ke pameran drawing kedua seniman tersayang ini untuk kedua kali ini. Yang pasti mereka selama dalam keterpisahan mereka pasti banyak melakukan perubahan-perubahan di diri mereka baik pilihan teknis, tema maupun kehidupan mereka sendiri. Dan itu yang pasti juga merubah dan mewarnai hidup kedua belah pihak. Sekarang mereka bertemu lagi untuk saling bertaut, bergelindan dan merajut saling memadu kasih untuk mencapai puncak kepuasan yang paling dalam. Aduh romantisnya mereka ini! Wah jadi pingin! Plus juga mempunyai vitalitas yang cukup tinggi dan intens untuk mengeluti wilayah drawing. Ide mereka sangat meluap luap, banyak. Dan mereka sanggup berkarya dengan bobot yang sama dalam keadaan medan yan sesulit apapun….iklan iklan motor atau mobil! Hebat ya?! Aku aja tak bisa,,eh emangnya aku siapa? Hahhahahaha………..

Oke….oka oke melulu nih emang oke karaoke! Oke…..wah oke lagi! Tapi ok sekarang kita membicarakan karya-karya mereka di pameran drawing kedua mereka di pertemuan kedua mereka, tapi kalo boleh tanya selain itu usul ‘kenapa kalian karyanya dua aja juga? maksudnya jumlahnya dua aja?” kan asyik kayak satu paket. Kan yang menulis juga dua orang jumlahnya……….

Hihihi ada hubungannya tidak ya?…..

Jadi karya mereka ini…………………………wah maaf bayu dan bongky, aku dan terlalu giting nih,………..mariyuana, magic masroom dan sebotol wine ini dah membuatku mabuk! Aku tak bisa lagi nulis lagi tentang pameran drawing kali kedua kalian ini….. maaf ya ..beeeraaat maaan….. maaf banget pokoknya SELAMAT AJA BERPAMERAN BAGI KEDUA MEMPELAI SEMOGA PERCINTAAN DAN PERKAWINAN KALIAN BERHASIL SAMPAI AKHIR HAYAT, SELAMAT,SELAMAT,SELAMAT BRO…………………………..

.WAH PUYENG AKU…..PIYE IKI…..LAMPU PAS MATI LAGI! KAMPRET! GIMANA SIH PEMERINTAH INI? PADAHAL RAKYAT MBAYAR LISTRIK TERUS! PLUS NAIK MELULU! KAMPRET! KAN INI JAMAN RESESI! KAMPRET!…..EMANGNYA INI DRAWING….EH PAMERAN ….EH GAMBAR…..

Lo kok malah nulis ini yaw ah wah maaf bayu dan bongky, pokoknya sebelum aku ngaco lagi kuucapkan lagi………

SELAMAT BERPAMERAN DRAWING KALI KEDUA INI, SELAMAT SUKSES MOHON MAAF LAHIR BATIN! REJEKI LANCAR! DAN DITERIMA DISISINYA! Emang sisi siapa? Tak tahu ya sisi merekalah….mau tahu aja…..!

(akhirnya sahabat bayu dan bongki yang dianggap mereka mumpuni untuk menulis tentang pemeran mereka ini jatuh tertidur kemabukkan! Dan sialannya kalimatnyapun masih ngaco.Kampret sialan! Kan kasian kedua mereka ini,sudah berharap banyak dapat tulisan yang secara serius membahas karya mereka. Semoga mereka tidak kecewa dan bisa memaklumi kelakuan sahabat mereka ini. Dan kalaupun merasa salah pilih itu wajar tetapi tidak sangat hehehe)

tabik

Y.V

‘fuckin” kutaror

(menerima kuratorial untuk sunatan, syukuran, selametan, kekahan, perkawinan, syuroan, kematian dll.) Kirim pesan Reg.’fuckin’kurator.com spasi Y.V kirim ke 666999

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar

  • pray to be rich, 150cm X 140cm pastel, silk screen, acrylic on canvas 2008 - Bayu Widodo
    pray to be rich, 150cm X 140cm pastel, silk screen, acrylic on canvas 2008 - Bayu Widodo
  • drawing#3 - Bayu Widodo
    drawing#3 - Bayu Widodo
  • jungle destroyer
    jungle destroyer
  • berjalandiKOTAyangtrebakar - Bayu Widodo
    berjalandiKOTAyangtrebakar - Bayu Widodo
  • doa doa tak berujung, 90cm X 65cm, acrylic, silk screen on canvas 2008 - Bayu Widodo
    doa doa tak berujung, 90cm X 65cm, acrylic, silk screen on canvas 2008 - Bayu Widodo
  • factory in the head - Bayu Widodo
    factory in the head - Bayu Widodo
  • just thinking - Bayu Widodo
    just thinking - Bayu Widodo
  • last live - Bayu Widodo
    last live - Bayu Widodo
  • law is myself - Bayu Widodo
    law is myself - Bayu Widodo
  • potrait of my friend 3, 90cm X 65cm, acrylic, silk screen on canvas 2008 - Bayu Widodo
    potrait of my friend 3, 90cm X 65cm, acrylic, silk screen on canvas 2008 - Bayu Widodo
  • art is love love is life, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
    art is love love is life, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • awas ranjau, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
    awas ranjau, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • berpikir untuk hidup, 23x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    berpikir untuk hidup, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • dancing without moving, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    dancing without moving, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • i am back home, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
    i am back home, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • ingat akan tuhanMu, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    ingat akan tuhanMu, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • kemarahan kebencian kematianku,  23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
    kemarahan kebencian kematianku, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • kemuakan, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    kemuakan, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • mana yang cocok, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    mana yang cocok, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • mohon petunjuk, 23x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    mohon petunjuk, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • new fucking life, 23x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    new fucking life, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • nge fly, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    nge fly, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • open your mind, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    open your mind, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • pencari mangsa, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    pencari mangsa, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • putus harapan, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    putus harapan, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • sarapan, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    sarapan, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • saya percaya kamu,  23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
    saya percaya kamu, 23x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • sok paham, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    sok paham, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • tak terkendali, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    tak terkendali, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • you got to finish your life, 21x30 cm, paper, drawing pen,  2002 - Irennius Bonky
    you got to finish your life, 21x30 cm, paper, drawing pen, 2002 - Irennius Bonky
  • apa kabar, paper - Irennius Bonky
    apa kabar, paper - Irennius Bonky
  • bawa diri, paper - Irennius Bonky
    bawa diri, paper - Irennius Bonky
  • berlari, paper - Irennius Bonky
    berlari, paper - Irennius Bonky
  • creepy, paper - Irennius Bonky
    creepy, paper - Irennius Bonky
  • fighting in the sky, paper - Irennius Bonky
    fighting in the sky, paper - Irennius Bonky
  • lorong, paper - Irennius Bonky
    lorong, paper - Irennius Bonky
  • paper, 37.5x39 cm - Irennius Bonky
    paper, 37.5x39 cm - Irennius Bonky
  • paper,37.5x39 cm - Irennius Bonky
    paper,37.5x39 cm - Irennius Bonky
  • paper,50.5x40 cm - Irennius Bonky
    paper,50.5x40 cm - Irennius Bonky
  • gak jadi ke greja, paper, 37x39 - Irennius Bonky
    gak jadi ke greja, paper, 37x39 - Irennius Bonky
  • meninju, paper - Irennius Bonky
    meninju, paper - Irennius Bonky
  • menyendiri 2, paper - Irennius Bonky
    menyendiri 2, paper - Irennius Bonky
  • menyendiri 3, paper - Irennius Bonky
    menyendiri 3, paper - Irennius Bonky
  • menyendiri 4, paper - Irennius Bonky
    menyendiri 4, paper - Irennius Bonky
  • menyendiri 5, paper - Irennius Bonky
    menyendiri 5, paper - Irennius Bonky
  • menyendiri#1, paper - Irennius Bonky
    menyendiri#1, paper - Irennius Bonky
  • menyeruduk, paper - Irennius Bonky
    menyeruduk, paper - Irennius Bonky
  • rusak, paper - Irennius Bonky
    rusak, paper - Irennius Bonky
  • wake up, paper - Irennius Bonky
    wake up, paper - Irennius Bonky
  • aku dan tiga anjingku, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    aku dan tiga anjingku, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • bangkit dari ...., 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    bangkit dari ...., 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • bertahan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    bertahan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • cup like me, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    cup like me, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • diatas penderitaan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    diatas penderitaan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • interopeksi diri, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    interopeksi diri, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • layu sebelum berkembang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    layu sebelum berkembang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • macan garong, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    macan garong, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • menabur benih, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    menabur benih, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • mencoba melompat lebih tinggi, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    mencoba melompat lebih tinggi, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • mencoba memberi, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    mencoba memberi, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • menengok kebelakang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    menengok kebelakang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • menerjang rintang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    menerjang rintang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • menjaga keseimbangan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    menjaga keseimbangan, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • musim kemarau, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    musim kemarau, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • three little dog, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    three little dog, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
  • ups.. kenyang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky
    ups.. kenyang, 16.5x25 cm, paper, acrylic, bolpoint, 2008 - Irennius Bonky

Comments are closed.