Sign In

Subscribe

Subscribe to Museum Dan Tanah Liat.

RSS
“Tiada Jalan Tengah”, Pameran Tunggal Oktaravianus Bakara & Stevan Sixcio Kresonia
poster
Start: at WIB
End: at WIB
Location:
Address:
City/Town:

SAMBUTAN

Pelukis, perupa atau seniman tentu bukan hanya membuat sekadar rupa-rupa, sekadar karya, juga bukan saja cuma guratan dan penyusunan warna belaka, tetapi lebih jauh yaitu mencipta bahasa visual, berupa aktivitas dua arah; dialog timbal balik antara pola pikir dan pola di dalam kehidupan senimannya.

Begitulah pelukis menemukan pola pikir “baru” dalam karyanya, dari apa yang akan terlukis berangkar dari ide pikiran, imajinasi, mimpi, naluri, nurani dan pemahaman pengalaman secara personal. Jadi keontetikan akan terlihat dalam laku eksistensialnya berupa lelaku si pelukis selalu berkehendak untuk berubah yang sejalan dengan apa yang telah ditemukannya.

Sementara terjadi gejala penurunan kualitas, sehingga logis akan mempertanyakan ulang perihal nilai dan makna, siapakah seniman itu?, siapakah pelukis itu?, atau siapakah budayawan itu? Kemerosotan ini memang sedang berlangsung. Walau begitu, kami MDTL tetap berusaha memilih benih dan menanamnya dengan baik sebagai penempatan pondasi yang tepat.

Ugo Untoro/ MDTL


PREFACE

Painters or artists surely do not only create shapes, just art works and not just scratches and colour arrangement, but further than that,  they  create  a visual language, in the form of two way activity , two sided dialogue between the mindset and the way of the artist’s life.

That’s the way of an artist to find a “new” mindset in his art works of what will be created gotten from ideas, minds, imaginations, dreams, instincts, consciences and understandings of any experiences personally.

So the authenticity will be seen in the act of existence in the form of behavior of the artist who is always willing to change which is in line with what he has found. While there is the symptoms of decreasing quality, so that logic will ask again about values and meanings, who is the artist?, who is the painter, or who is the culture observer?. This decrease is still lasting. However, we MDTL still keep trying to choose the seed and plant it well as the place as the right foundation.

Ugo Untoro/ MDTL


TIADA JALAN TENGAH

Tiada keraguan bahwa pilihan setiap yang dituju adalah tanpa kecuali, bila masih bimbang antara kiri dan kanan (bukan kategorisasi dualismenya Descartes) asal tidak terjatuh pada jalan kabur; mustinya di tengah tidak lagi bisa disebut jalan karena memang jalan di tengah hanyalah ilusi. Jalan yang di tengah, karena tengah-tengah hanyalah ketidakpastian antara kiri dan kanan. Begitulah arti “Tiada Jalan Tengah”, jalan atau cara memilih tergantung kecenderungan, tendensi masing person harus memilih di jalur yang mana, jalur di antaranya adalah nonsense sebagai bukan jalan yang hendak dituju tetapi meaningless karena tujuan tidak bisa terbelah di dalam satu keutuhan individu, dua kaki tidak bisa hanya berpijak di sini sementara satunya memijak sisi yang di sana sehingga berjalanpun akan tidak mungkin.

Tiada jalan tengah, bagai tidak duduk di dua kursi sekaligus. Seni mensyaratkan ketetapan yang radikal (mendalam) menggali person dirinya hingga ke dasar-dasar kemanuisan, seni tidak setengah-setengah. Menumbuhkan kreativitas adalah konflik, konflik yang bukan melulu chaos. Konflik adalah tegangan entah melompat atau merambat yang dibentuk dari kesadaran-kesadaran baru di luarnya menuju internalisasi sedemikian rupa. Ada thesis sekaligus antithesisnya hingga bagaimana membangun konflik bagai kekontrasan di dalam satu lukisan yang tidak saling menyingkirkan satu sama lain di dalam satu komposisi dinamis.

Tiada jalan tengah merupakan bentukan-bentukan kesadaran di dalam dasar logika sebab Aristotelian bahwa aku adalah aku, aku bukanlah kamu yang kontradiksi di luar diriku walau memungkinkan berinteraksi hingga aku mencerapmu sebagai aku yang baru. Aku bukanlah abu-abu atau ketidakjelasan, aku ada bereksistensi dengan sebab yang cukup beralasan, cukup berlatar belakang kecenderungan, tendensi dan di situlah memang seharusnya aku berada.

Kali ini Museum Dan Tanah Liat, MDTL menyodorkan apa itu “Tiada Jalan Tengah”, atau ketidaksepakatan pada wilayah yang kabur dan tidak jelas yang diwakili oleh dua seniman Oktaravianus Bakara dan Stevan Sixcio Kresonia yang dipamerkan secara tunggal di dalam satu gedung yang masing-masing akan menampilkan mode ekspresi yang tidak terikat satu sama lain. Masing-masing seniman adalah sosok utuh di dalam dirinya masing-masing.

Kedua sosok ini satu angkatan di tahun 2001 dalam fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta yang di dalam pergulatannya untuk mencapai eksistensialnya. Mereka memiliki karakter stroke sapuan yang hampir sama walau nanti keberangkatan inspirasinya berlatar berbeda sehingga proses berkreasinya juga memiliki nuansa yang masing-masing unik. Kesamaan karakternya bagi saya kalau boleh diwakilkan dengan satu kata adalah “wagu”, bukan kewaguan yang negatif tetapi kewaguan yang mana seakan cara menata tiap shape, warna, garis dan beberapa objeknya yang kebanyakan tidak dimiliki oleh seniman yang lain. Wagu, ya mungkin hanya saya saja yang menilainya sebagai wagu yang mungkin bagi keduanya tidaklah sewagu yang dipikirkan. Baginya semustinya begitu menurut kadar dan proporsi kehendaknya waktu itu. Tetapi mereka, keduanya bukanlah desainer; mereka mengekspresikan untuk menuntaskan hasratnya agar selesai, sebagai peluruhan letupan-letupan yang mungkin bersifat negatif bila tidak tersalurkan. Sebenarnya cukup beragam gaya dan tema yang telah digelutinya, semuanya tiada ketetapan, semuanya selalu bersifat eksperimentatif mencoba-mencoba walau beberapa yang mungkin tiada berkelanjutan. Katakan hanya dua atau tiga kekaryaan yang bergaya seperti itu hingga selanjutnya akan bergaya-gaya yang lain sesuka konteks waktu saat itu yang tentu di kepala mereka tetap saja menjadi tanda tanya “beginikah aku” saat ini (secara psikis)? Di sinilah wagu-wagu itu terlahir sebagai kekaryaan yang tidak meragukan secara wujud. Mari kita tengok masing-masing sifat dasar apa yang melatarbelakangi, konsep-konsep apa yang mempengaruhi dan bagaimana mengeksekusinya di dalam paragraf dan alinea-alinea dari masing-masing seniman secara utuh di dalam satu ruang tulisan tersendiri dan di dalam satu ruang kekaryaannya dimana pada Okta bertajuk “Kata-Kata, Majas, Dan Rupa” dan pada Stevan “Keragaman dan Kompleksitas” agar tidak berbenturan satu sama lainnya. Masing-masing seniman memiliki ruang tersendiri di dalam katalog dan di dalam ruang pamernya juga, karena memang ini adalah pameran tunggal yang berada di dalam satu gedung.

Hari Prajitno M.Sn.


NO MIDDLE WAY

There is no doubt that everyone’s choice which is meant to be is not an exception, if they’re still doubtful in considering the left way or the right way to take (not Descartes’ category of dualism) as far as not considered to be blurred, the middle way cannot be regarded as a way because the middle one is just an illusion. The middle way is just an uncertainty between the left and the right. That is the meaning of “No Middle Way”, the way of choosing to depend on the tendency of each person to choose which way to take, the way which is among them is nonsense to be considered not as a way which is headed to but it’s meaninglessness because destinations cannot be divided from one whole individual like two legs which are one leg cannot just stand on here while the other leg stands on there so that it’s impossible to walk.

No middle way, just like not to sit in two chairs all at once. Art requires radical (deep) determination to develop one’s self to their human basis, art not vague. Growing creativity is a conflict which is not always chaotic. A conflict is a tension whether it is jumping or creeping which is formed of new awareness on its outside to the internalization in such a way. There are thesis and antithesis all at once till how to build conflicts as contrasts in a painting which do not omit one another as a dynamic composition.

Having no middle way is form of awareness in basis causal logic of Aristotelian that I am is me, I am not you who are contradictive out of me though it is possible to interact so that I consider you as the new me. I am not grey or uncertainty, I exist related to the cause which is reasonable enough, having enough background, tendency, and there should be me to exist.

This time Museum Dan Tanah Liat, MDTL is presenting “No Middle Way”, or disagreement in the blurred and uncertain area which is represented by two artists, Oktara Vianus Bakara and Stevan Sixcio Kresonia displayed in solo exhibitions in one building which each of them will present expression modes which are not related to one another. Each of the artists is their whole figures in their own selves.

Both artists are one generation in 2001 in fine art faculty of arts institute of Indonesia, Yogyakarta in which they fought for achieving their existential. They have characteristic strokes which are alike through their inspirations derived from different backgrounds till their  process of creations also has their unique nuances. The sameness in their characters if may be presented in one word is “wagu (awkward)”, not a negative awkwardness which is as if the way in arranging every shape, colour, line, and some objects which has not got by other artists.

Awkward, yes it maybe only me who value their characters awkward which are for both of them they maybe not as awkward as what I think. For them they should be like that based on their persistence and proportion of willingness at that time. However, both of them are not designers, they express to satisfy their passion to finish, as the expressions of their peak feelings that maybe negative if they are not expressed. Actually it has been various enough the styles and themes they use, all does not have determination, all is experimental to keep trying through some works which haven’t been continued.

Let ’s say only two or three paintings have the styles then the next paintings will have different styles according to the context at that time which surely appear a question in their heads “this is us” today (psychologically)?. Here the awkwards appear as the works which are not uncertain as shapes. Let us see each of what character that background, what concepts  and that influence and how they express in paragraphs from each of the artists on the whole in their specific room of writing and in their room of works where by Okta entitled “Kata Kata Majas, dan Rupa” and by stevan “Keragaman dan Komplesitas” so that they won’t crash each other. Each artist has his own room in a catalogue and in his own exhibition room too, because they are so exhibitions which are in one building.

Hari Prajitno M.Sn.


KATA-KATA, MAJAS, DAN RUPA

Dia Okta, berlatar keluarga yang plural, yang mana antara bapak-ibunya menganut keyakinan yang berlainan. Sementara pagi ke gereja tetapi sorenya juga harus mengaji di rumah hingga dia sedikit bisa membaca Quran dan Alkitab sekaligus. Baginya jalan tengah yang meragukan tidak dia jalankan, karena sejak kecilpun kehidupannya sudah menjalani dua cara tradisi keagamaan yang berbeda, yang juga berarti semua yang dialami selalu memiliki dua arah yang seperti berlaianan, kadang bisa begini atau begitu tergantung ketetapan mana yang harus dipilih saat itu walau toh! mungkin tidak benar-benar meninggalkan yang lain.

Di dalam kelas (saat studi dasar, menengah dan atas) dia bisa mencapai nilai rangking yang termasuk tinggi dan lain waktu dia juga bisa berubah turun drastis. Tidak jarang teman-teman atau tetangganya menanggapinya bahwa dia memang sedikit unik, kalau tidak bisa dikatakan bahwa dia orang eksentrik. Dia tidak gampang tertarik pada sesuatu yang sedang “in” atau secara umum teman-temannya mengerjakan/ melakukan itu, tetapi bila dia konsen pada sesuatu yang dia sukau tidak jarang dengan gigihnya hingga sampai tergila-gila; sehingga baginya apa yang dijalani bagai petualangan yang tiada harus musti memuncak, tetapi mengalir begitu saja sekehendak “kata hati”, seakan tiada ada yang pernah diulang yang semua ini pun menjadikan dia kebingungan harus memilih bidang apa.

Pengalaman ambigu, atau bisa dibilang paradoks di dalam kehidupannya telah mengingatkan bahwa masa kecilnya dia suka mencorat-coret, dari sinilah akhirnya dia memilih untuk melanjutkan studi di Fakultas seni Rupa, Institut seni Indonesia, Yogyakarta. Kini dia tinggal di pinggir sungai, dekat dengan “hutan” kecil, memelihara tanaman, memelihara ayam dan burung. Kata-Kata dan Majas Dari banyak dan sukanya membaca apapun seperti sedang berpetualang menyusuri kata per kata, melampaui dengan keheranan, keterpukauan, atau bahkan ketidakmengertian menjadikan kata-kata yang ia baca bila saat dimengerti maka akan menghasilkan rasio logis yang seakan bergambar. Begitu pula saat kata-kata yang tidak dia pahami tetap juga akan menyodorkan satu misteri yang hanya memungkinkan bisa digambarkan. Kata-kata baginya adalah sihir, seperti bait-bait majas dalam satu puisi, bukan melulu berisi rasionalitas, tetapi lebih jauh bisa memungkinkan bahwa majas akan membawa ke imajinasi yang justru kata-kata itu memungkinkan menjadi maujud.

Majas dan Rupa

Sihir dalam kata-kata, secara umum akan kita temukan di kitab-kitab suci manapun termasuk serat-serat klasik, di sana akan tergambar hal-hal pelampauan masalah hanya sekadar imanensi, kata-kata dengan tiba-tiba menjadi majas yang penuh sihir dan mistis sifatnya. Tidak lagi rasionalitas yang berbicara, semua terpengaruh sikap primordial yang di dalam Gustav Jung diartikan sebagai arketipe, yaitu bawaan lahir gawan bayi yang terbentuk oleh nenek-moyang kita melalui DNA dan kultur dimana kita tinggal yang berlembah, ngarai, jurang, gunung, hutan, sungai, pantai dan samudra sebagai penghantar antar kepulauan yang masih memiliki kemisterian/ kharisma di dalam mitos-mitos nusantara. Majas-majas  berganti wujud dalam rupa-rupa yang berfigur, sedikit cerita, dan abstrak.

Kata-kata menjadi majas, majas beralih ke rupa yang begitu kaya yang kadang amat berbenturan secara persepsi, kadang selekeh, bahkan ada yang amat serius. Dia sepertinya seenaknya, begitu saja menoreh. Kata-katanya adalah sebuah bahasa rupa yang kadang ketat mengikat, kadang bertukar tempat, atau terpaksa.

Okta, memiliki petualang yang liar, walau mungkin dia sendiri tak memahami bagaimana proses itu bisa terjadi, seperti ranah ketidaksadaran yang menyusup menggantikannya. Kesepakatan adalah kelegaan, keindahan baginya adalah tuntasnya terpenuhi antara kata sebagai bahasa rupa dan sapuan-sapuan bentuk yang tidak jarang sukar dideteksi.

Analisa dan Kritik

Dari kegemarannya membaca akan menemukan kata-kata, pola kalimat seseorang, atau rasionalitas tertentu yang memungkinkan bercengkerama antara tafsirnya dan tafsir di luarnya, antara akalnya dan akal di dalam apa yang telah dibaca hingga menumbuhkan majas atau imajinasi tersendiri walau itu sedang membaca buku non bersifat puitik. Tetapi bisa juga bahwa kekuatan kata-kata atau kekuatan majas adalah hal lain dari bahasa rupa, sehingga kecurigaan saya bisa mengarah pada seberapa jauh “kecanduan”nya atau seberapa bisa dia terlepas dari imajinasi yang oleh karena harus di luar dirinya.

Harus dipancing dulu, harus menggunakan itu dulu yang menjadi “addict” holic, karena kalau dia sanggup melepas dari kata-kata dan majas itu bukan berarti tidak harus menghentikan kebiasaan suka membacanya. Karena tenaga untuk bisa memahami kesadaran di buku itu akan menyususutkan potensi bahasa rupa di dalam dirinya, karena apa yang dipungut adalah hanya apa yang menyentuhnya, sementara kedirian sebenarnya tidak memandang buluh untuk bisa diungkap sebagai ekspresi. Lain kata “kemengaliran” ekspresinya bisa pula tanpa kata-kata dan majas. Walau sebenarnya itu hanyalah soal kebiasaan yang tentu memiliki periode tersendiri asal tidak berlarut-larut seperti penggunaan kiasan yang salah pada metaphor “membiarkan seperti aliran air mengalir”. Sebenarnya pasemon ini mengartikan bahwa masing-masing memiliki aliran sungainya sendiri-sendiri yang tidak tergantung pada aliran di sungai-sungai yang lain. Baiklah, apapun ini Okta telah melemparkan bentuk ke khalayak yang patut diinterpretasi lebih jauh, dan ini adalah batu tahapan sementara seperti analisa ini yang juga bersifat sementara.

***


WORDS, MAJAS, AND SHAPES

He is Okta, having a plural background of family, in which his father and mother have different religions. While in the morning going to church, in the afternoon he should have read Quran at home so that he can read a little Quran and Bible all at once. For him the middle doubtful way hasn’t been done since he was a little boy, he has a two religion tradition, which also means that he always has two directions which are different, sometimes it could be like this or like that depends on which determination he should choose at that time though it doesn’t mean surely to leave the other.

In a class (at study level of basic, intermediate, and advance) he could get a good rank while in another day, he could get the down rank drastically. It is often that his friends or neighbours think that he is a little unique, if it is not eccentric. He is not easily interested to something which becomes a trend or things commonly done by his friends but if he concentrate to something he likes, he could be crazy of it; so that for him what he does is just like an adventure which doesn’t always reach to the peak, but it’s just flowing according to his willingness of his heart which will be done again till it makes him confused on what field to choose.

The ambiguous or we can say “paradox” in his life has defined that his childhood was full of sketching, from here he could choose to continue his study in fine art faculty, Arts Institute of Indonesia, Yogyakarta. Now he lives in a bank of a river near from a small “jungle”, planting flowers, raising chickens and birds.

Words and Majas

From the big amount of liking from readers who are like adventuring with words through amazement, astonishment or even lack of knowledge makes words which people read if they are understood will result rational logic as if described. It is so with the words that people don’t understand, they will appear a mystery which can only be described.

Words for people are magic, like lines in figure of speech in a poetry, not only contains of rationality, but  further than that consiering that figure of speech will lead to imagination which is possible to be real.

Majas and kinds of magic in words, commonly will be found in any holy books including classical roots where are described things related to past cases which are immanent, words suddenly become figures of speech with full of magic and mystical characters. Not arketipe is functioned, all is influenced by “primordial” character in which Gustav Jung is meant as “arketipe” that is basic character which is gotten from our ancestors through DNA and cultures where we live having valleys, chasms, ravines, mountains, jungles, rivers, beaches, and oceans as  the media among islands which still have mysteries in indonesian myths.

Majas change their kinds into any forms with character, a little story, and abstract. Words become figures of speech, words of speech move to what is so rich which sometimes really crash in perception, sometimes dirty even there is something very serious. He seems so free in expressing things. His words are a language with character which is sometimes tightly tied, sometimes changes places or forced.

Okta, has a wild adventure, though sometimes he himself doesn’t understand how the process might happen, like a situation of awareness which comes to change it. Agreement is a relief, a beauty for him is a thorough fulfillment between a language of character and strokes of shapes which are often different to detect.

Analysis and Criticism

From his fondness to read in finding words, someone’s sentence pattern, or certain rationality which is possible to relate between its interpretation and the interpretation of it, between his mind and the mind inside it which is read  to appear specific majas or imagination though reading non poetry books. However, it might also be considered that the power of words or the power of figures of speech is another thing in the language of character, so that my perception can lead to how far is “his addiction” or how good he can rid of the imagination because it must be out of himself.

It must be triggered first, should use it to be “addict” a holic, because if he can get rid of the words and the figures of speech doesn’t mean that shouldn’t stop his habit of reading. Because the energy enables him to understand the awareness in the books will decrease the potential of the language of character in him, because what is taken is only the one touching him while actually individuality is not discriminating to revealed as expressions. In other words “the flow” of the expressions may also be without words and majas.

Though it’s about a habit which surely has its own  period as far as it is not protracted like the use of wrong allegories on metaphors “Letting things like water flowing”. Actually this “pasemon” explaining that every river has its own streams which do not depend on the streams of any other rivers. Well, whatever is is Okta has given a form to public which should be interpreted further and this is a temporary stepping stone like this analysis which is also temporary.


KERAGAMAN DAN KOMPLEKSITAS

Pada Stevan, tiada jalan tengah terletak di dalam misteri. Tiada keraguan setiap menapaki hal-hal yang baru, walau mungkin dia tidak merasakan hal itu sebagai perubahan. Setiap kali pola wujudnya cenderung mudah berubah dengan kemampuan ekspresif spontan, seakan mengalir dimana tiada air yang sama persis di sungai yang sama. Setidaknya sesudah terlahir hanya beberapa karya saja yang berciri itu, maka terus berlanjut menuju cara pemecahan yang baru, kesemua menciptakan formasi-formasi yang memberikan peluang-peluang untuk berubah dengan progres yang cepat.

Tiada ubah di dalam kehidupan sehari-harinya antara bertemu komunitas yang akademisi, non-akademis, komunitas bebas, bertemu keluarga dan khususnya komunitas “omah alas” ditambah komunitas “real” sosial media yang tentu juga banyak mempengaruhi.

Keluarga dan Lingkungan

Dia sudah berkeluarga, tinggalnya di luar area yang relatif tidak riuh. Tinggal di pedesaan yang bersifat diantara modern dan kedaerahan. Istrinya bernama Istri Yulianti sarjana seni tari ISI Yogyakarta yang mengajar seni tari di beberapa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Piyungan. Ke dua anaknya yang pertama lelaki Eljhiro Sinatrya Ramadhan (6 th) TK Pertiwi Piyungan, dan putrinya Ufaira Kasih Ramdhani (3 th) belum bersekolah. Mereka tinggal di desa Gedongan RT 008 Srimartani Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Dari kompleksitas di antara desa dan kota, di antara modern dan kedaerahan, antara sejuknya pegunungan dan pengapnya perkotaan, antara kegiatan membantu mertua bertani dengan kegiatannya sendiri yaitu berkarya seni. Kesemua itu membentuknya untuk selalu memilih dengan tegas, tidak setengah-setengah, seperti yang saya ketahui sendiri bahwa dia sebagai menantu yang begitu diterima dengan baik di sana seperti juga saya dikagetkan dengan hadirnya sandsack untuk berlatih tinju yang tergantung di kusen pintu diantara ruang tamu dan ruang studio lukisnya. Komunitas Omah Alas Begitu juga di dalam komunitas “omah alas”, dimana ada yang akademisi termasuk dia dan beberapa, ada yang non akademis, ada yang ini ada yang itu juga turut membentuk khasanah kekaryaannya. Kemandirian-kemandirian, kebebasan-kebebasan, dan beberapa dialog ngalor-ngidul antara rupa-musik juga hadir di sana. Tumbuhnya pengetahuan-pengetahuannya tidak berangkat dari komunitas yang note-bene mapan.

Komunitas Bebas

Dia, Stevan tidak hanya bercokol di situ saja, kelompok-kelompok lain seperti komunitas Malioboro yang begitu ragam kompleksitasnya juga turut menumbuhkan spontanitas yang mengalir untuk selekasnya diwujudkan. Wujud dari ekspresi interrelasi dan intersubjek yang terbangun telah menjadikan dia begitu ekspresif, hingga kapan memutuskan karya itu selesai atau tidak adalah amat sulit baginya, atau bahkan begitu kuatnya hal keragaman dan kompleksitas itu yang amat mempengaruhi. Semua terlihat di dalam cara menggaris, keliaran warna, dan beberpa objeknya yang tertata secara antara iya dan tidak secara tegas, yang bagi saya justru kewaguan itulah bagian dari sifat dan personanya; yaitu wagu yang terucap secara lantang, bukan wagu yang ragu-ragu.

Watak Perubahan

Dia, bergerak dengan pola tertentu di hanya beberapa kekaryaan saja, terlihat seperti itu dimana setiap kali bertemu kanvasnya sebagai ruang adalah waktu dimana dia sedang mendapatkan kegelisahan/ konflik batiniah, atau keinginan-keinginan dari interaksi dari kelompok B (bebas) misalnya, maka akan mewujudkannya sedemikian rupa hingga terlahir beberapa kekaryaan yang tidak saling berhubungan dimana saat sebelumnya dia berinteraksi dengan kelompok OA (Omah Alas) ataupun di KL (Keluarga dan Lingkunganya).

Setiap kali dia mewujudkan ekspresinya adalah hasil dari interaksi pada komunitas yang ada sebelumnya, tetapi uniknya bukan pula seumpama dia baru saja berinteraksi dengan komunitas A (akademisi) dia tidak juga akan sama secara “rasa” bahwa akan menghasilkan wujud yang mendekati gayanya di saat sebelumnya telah berinteraksi dengan komunitas itu.

Keragaman bahasa warna, garis, bentuk (shape) tidak juga bisa secara mudah dikategorikan, karena setiap kali berinteraksi akan berlainan cara pengeksekusian karyanya, sehingga saya tidak bisa secara utuh untuk menamainya kecuali bahwa Stevan selalu bergerak meluber, merembes yang sama sekali tiada niatan mengerucut pada satu fokus yang tunggal.

Pergerakan ekspresi yang disodorkan Stevan, saya tidak bisa menemukan titik fokus yang tetap untuk kemudian dikerucutkan, tetapi ataukah memang bahwa merembes dan melubernya adalah suatu gaya yang secara psikologis-sosial dipengaruhi beragam dari kompleksitas yang telah mengisi sebagai interrelasi adalah dirinya.

Tiada jalan tengah bagi Stevan adalah begini bisa, begitu pun oke. Segala yang dialami antar komunitas-komunitas tidak menjadikan dia berhenti di dalam sebuah kebingungan, ekspresi; adalah ekspresi apapun hasilnya di saat itu, walau terlihat wagu. Jadi semua hal adalah realitas bahwa keragaman membawanya di dalam kompleksitas kewaguan-kewaguan pengungkapan yang tidak perlu fokus atau memuncak.

Analisa dan Kritik

Hal inilah yang menjadi menarik, sepertinya Stevan tidak benar-benar mengikuti perintah “kebutuhan”nya kecuali keinginan-keinginan yang mungkin bagi saya pribadi sebagai kecurigaan pada keterbatasan di rentang waktu yang amat pendek. Artinya gaya pengungkapannya akan berputar-putar untuk sekadar memenuhi bidang gambar yang sebenarnya cara yang disampaikan adalah sekadar untuk menggunakan cara “yang ini” atau dengan cara “yang itu” yang tentu adalah bukan benar-benar sebagai konflik yang harus dipecahkan.

Begitu instinktif, bisa saya katakana begitu karena sebenarnya dia belum benar-benar mewujudkan interaksi-interaksi itu untuk bisa berjarak hingga menumbuhkan keotentikan keunikannya. Dia mengalir begitu saja menuruti kata hatinya, begitu mengalir walau mungkin dia tidak pernah sadar bahwa aliran itu sebenarnya adalah aliran yang sama, yaitu apapun yang tertoreh adalah begitu saja.

Akhir kata, kemungkinan juga saya tidak/ belum bisa membaca secara keseluruhan. Setidaknya keindahan yang telah dicapainya agar bisa diterima untuk berpameran di MDTL telah berhasil ditembusnya atas kualitas primordial ke”purbaannya” yang mampu menjaga kegairahan untuk tetap berjuang dan berjuang seakan tiada beda mempertahankan hidup. Dia hanya sebagian kecil dari para seniman-seniman muda lainnya yang dengan sengaja telah memilih bahwa, “kewaguan” adalah personal dirinya yang otentik.

***


VARIATY AND COMPLEXITY

To Stevan, no middle way is in a mystery. There is no doubt in facing new things, although he doesn’t feel those things as changes. Every time his shape pattern tends to be easily changed with the ability of spontaneous expressions, as if flowing where there is no exactly same water in the same river. At least, after creating, only a few art works having this character, so the process of creation keeps going to the new solution, to all creations, he creates new informations giving chances to change with fast progress.

Not different from his daily life between meeting community of academicians, community of non academicians, free community, meeting families and especially “omah alas” community, plus “real” community of social media which surely influence a lot.

Family and Environment

He is married whose family live out of town which is not noisy. Living in a village whose character is between modern and traditional. His wife’s name is Istri Yulianti the bachelor of dance in ISI Yogyakarta who teaches dancing lesson in some kindergartens and elementary schools in Piyungan. Both of his children, the first is a son Eljhiro Sinatrya Ramadan (6 years) studying at Pertiwi Pitungan kindergarten, and his daughter, Ufaira Kasih Ramdhani (3 years) hasn’t studied at school yet. They live in Gedongan village RT 008 Srimartani – Piyungan, Bantul. Yogyakarta.

From the complexity between a village and a city, between modern and traditional, between the cool air of a mountain and the stuffy weather of a city, between the activities of helping parents in law to grow rice with his own  activities of doing art work. All of those things make him to always choose things certainly not uncertainly, like what I know that as a son in law that is accepted well in his wife’s family, I was shocked by the appearance of a sand sack for him to practice boxing hanging on the door frame between the guest’s room and his art studio.

The Community of Omah Alas

It is also the same like in the community of “Omah Alas” where academicians are included him and some others, there are some non academicians. There are things like this and there are things like that can also enrich his creativity in his art works. Independences, freedoms, and some free dialogs between fine art – music are also there. The growth of his knowledge didn’t start from well established community.

Free community

He, Steven doesn’t only exist there, other group like Malioboro community which is various in complexity also grows spontaneity flowing to create things. The feeling of interrelated and interobjective expression growing has made him to be expressive; therefore, when to decide the art work has finished or not is so difficult for him or even so strong for the variety and Complexity which influence. All is seen in the way to draw lines, to colour, and to arrange some objects strictly between yes or no, which are for me the awkwardness is shown strongly not as uncertain awkwardness.

The change of character

He, moving with certain pattern at some of art works only, seen like that when every time he touches his canvas as a room is the time when he is getting his restlessness/ conflict of feelings or willingness of the interaction of F (free) for instance, therefore he will create so thus creating some art works which are not related when previously he was interested with OA (Omah Alas) or with FE (Family and Environtment).

Every time he does his expressions is the result from the interaction to the previous community, but uniquely it’s not luke as if he just interacted to community A (academicians) it won’t be in the feeling, will result creation with similar style like the previous one with the same community.

The variety of languages, lines, shapes, are not categorized easily, because every time he interacts will be different in the way he creates his art works so that I cannot name it particularly unless Stevan always moves overwhelmingly or creeps which doesn’t have willingness to focus on single point. The change of expression done by Stevan, I cannot find the settled focus point to be set into one point; however, being overwhelming or creeping is a style which is social psychologically influenced by various things from complexity exiting as interrelation is him.

No middle way for Stevan is being able like this, and being like that is okay. Everything that he experiences in communities doesn’t make him to stop in a doubt, expression, is the expression of whatever results at a time, though  seen awkward. Therefore, all things are reality, that variety brings him into a complexity, the awkward expressions which do not need to focus or to be on top.

Analysis and Criticism

These things are interesting, Stevan seems not really follow the instruction of “his need” unless any needs that are possible for me to think it’s a suspicion on a limit in a very short period of time. It means the style in expressing will go around to just fill the drawing space which is the real way to express  is just to acheter du cialis en ligne use “this style” or to use “that style” which is surely not as a conflict to be solved.

So instinctive, I can say like that because actually he hasn’t really done the interactions to be able to make a distance to grow the authenticity of his uniqueness. He us just flowing according to his heart, so flowing though he has never been aware that the current is the same current, that whatever expressed is not in serious way.

Finally, it is possible that I don’t/ hasn’t been able to read thoroughly. At least the beauty that he has could be accepted to have an exhibition in MDTL for the primordial quality that could keep his willingness to fight and fight just like trying to survive in life. He is just a small part of other young artists who intentionally choose that “awkwardness” is his authentic personal art life.

***

  • Photo Gallery*Klik gambar untuk memperbesar


Comments are closed.