“my Dream, my Power, my Pain” – One Gallery

August 10, 2021
admin

“my Dream, my Power, my Pain” – One Gallery

One Gallery – Thursday, 30 April 2009
Arif Yuristiawan, Benanda Putrawan ( Beben), Doni Kabo, Erik Pauhrizi, Issarezal Ismail, Roumy Handayani, Sutarno, Yunis Kartika
my dream my power my pain
Gempuran gambar-gambar dalam berbagai bentuk dan terhampar luas di berbagai tempat telah menyelimuti memory. Dimanapun kita berada, karya lukis di sebuah gallery, spanduk, baliho, poster yang menempel di dinding bangunan maupun di pinggir jalan, rambu lalu-lintas, album foto, layar tivi maupun akses internet, saat mengarahkan pandangan terhadap gambar atau citra tersebut, terekam sesuatu yang menyenangkan hingga tersimpan dalam benak.
Beberapa gambar atau citra itu telah mampu masuk kedalam wilayah multi-interpretasi yang menjadi milik pribadi, dapat membangun sebuah imajinasi yang pada akhirnya mengembangkan dan merealisasikannya dalam karya seni. Meninggalkan sebuah kenangan untuk bisa menelusurinya hingga mampu merespon dalam berbagai bentuk, begitupun dalam bentuk yang sama. Saat melihat berbagai citra, ada kecenderungan untuk mengumpulkan materi visualnya berdasarkan bentuk logo yang disukai, figure yang menjadi ikon dalam dirinya, bacaan yang menginspirasi dan sebagainya. Hingga pada satu titik, tak segan mengulang bentuk visual yang sudah ada untuk di angkat kembali sebagai karya seni.
Ketika mengulang bentuk visual dari yang sudah ada dijadikan karya seni baru (meskipun visualnya tidak jauh berbeda, bahkan sama), pembaruan visual dalam berkarya tidaklah begitu dihiraukan. Menampilkan sekali lagi atau bahkan kali kesekian dari visual yang pernah ada dianggap alami adanya, mencoba memperindah yang sudah ada dan memberi makna baru yang berbeda dari makna sebelumnya, sebagai jalan untuk mengajak penikmat karya agar bisa berinteraksi secara personal dalam diri, untuk tidak lagi sama dalam menangkap pesan atau cerita dari karya-karya tersebut.
Kecenderungan berkarya seperti itu dapat dirasakan melalui sudut pandang allegory, dalam seni rupa kontenporer, allegory bukanla hal baru. Dunia seni rupa -seniman muda- Bandung, mencobah menyentuh pandangan ini saat barkarya. Namun pada pameran ini yang diikuti oleh 8 seniman muda bandung, tidaklah semua seniman yang berpartisipasi mengusung allegory.
Pameran yang bertema eksplorasi ini, mengajak penikmnat seni untuk bisa merasakan laju perkembangan dunia seni rupa di kalangan seniman muda, seniman Bandung pada khususnya dan seniman Indonesia umumnya. Eksplorasi yang mereka terapkan tidaklah menitik beratkan pada satu unsure seni rupa. Wacana, material, konsep, media dll, merupakan bagian dari proses berkesenian yang tidak akan berhenti cepat, walaupun dunia seni rupa tidak berjalan linier.
Perkembangan seni rupa tidaklah bisa diharapkan semata-mata pada masab atau trend berkesenian yang sedang bergulir, pelaku di balik terjadinya sebuah karya itulah yang lebih penting untuk di ikuti proses dalam berkesenian dan wacana sebagai salah satu bahan untuk menikmati karya seni tersebut. Pada pameran ini bisa kita jumpai ragam eksplorasi seniman, penikmat seni akan menjumpai perjalanan seni rupa bandung saat ini, akan melihat perkembangan masab seni rupa yang terjadi pada seniman muda Bandung. Tidak semua seniman ini menggunakan sudut pandang allegory yang mulai di coba dalam berkarya, kita seperti melihat masa transisi menuju masab ‘baru’ dalam senirupa.
Dalam pameran ini 8 seniman muda Bandung telah ber-eksplorasi pada karya seni berdasarkan: kekaguman terhadap seseorang telah merangsang semangat berkarya dalam berkesenian, teori yang tercipta secara tidak sengaja saat membuat karya seni telah menginspirasi seorang seniman untuk mengembangkan karyanya, keabadian sebuah karya seni dilihat sebatas jamannya, penentangan secara wacana terhadap karya seni hingga menghasilkan karya seni baru dalam bentuk yang sama, perambahan material dalam berkarya seni, keasikan terhadap minat mengola material, pengembangan pola mencipta karya dan pengambilan suatu cerita sebagai dasar berkarya.
Arif Yuristiawan, dalam berkesenian Arif senang menjelajah melalui material, yang mana dia pada satu tempo membuat karya secara total dalam bentuk disain grafis, setelah merasa puas dan menghasilkan banyak karya grafis Arif bereksplorasi pada drawing on paper dengan jumlah karya yang tidak sedikit pula, sampai setelah puas juga pada drawing, Arif beralih ke acrylic, charcoal, pencil on canvas. Tema berkarya yang diangkat dalam canvas untuk pameran ini di fokuskan pada figure wajah yang sering di temui setiap hari, ditampilkannya wajah-wajah tersebut sesuai dengan yang dia lihat dan menimbulkan rangsangan visual yang tidak sama dengan pandangan realality, ditangkapnya wajah tersebut dalam atsmosfirnya sendiri merupakan wujud dari empati dan perasaan akrab ketika melihat figure tersebut. Dalam beberapa karya Arif, bisa kita temukan ketidak diaman rasa berkeseniannya, selalu ingin menjelajah wilayah baru terutama pada material, begitupun figure yang ditampilkan selalu dengan wujud berbeda dan tidak memberi satu ciri yang dapat di tangkap sebagai figure ciptaan dari seorang Arif. Mulai dari drawing, grafis sampai painting. Arif memvisualkan figure dari sebuah realita atsmosfir wajah yang baru, “bagiku, dalam atsmosfir tadi, seperti berempati dan saya merasa akrab di dalamnya” ujarnya.
Kekaguman terhadap seseorang telah merangsang Doni Kabo dalam menciptakan figure paintingnya, membiarkan atau membebaskan pada penikmat seni untuk mengamati karyanya yang jelas-jelas adalah sebuah figure yang pernah diangkat oleh seniman lain yang merupakan seniman idola Kabo. Sangatlah sebuah kebetulan ketika figure yang diangkat juga merupakan tampilan dari beberapa figure dunia yang menjadi idolanya. Tidak hanya sebatas memindahkan gambar lama dari karya seseorang menjadi sebuah gambar baru yang diciptakannya, Kabo memberi makna yang berbeda ketika pada beberapa karya, di sebagian kanvasnya di bakar hingga menghilangkan sebagian figurnya, dan pada karya yang terbakar terlihat ruang kosong yang memantul karena bagian belakang kanvasnya di lapisi metal yang mengkilap. Begitupun figure yang lainnya juga di beri sentuhan warna yang terimajinasi dari benak Kabo ketika melihat figure tersebut masih menjadi milik seniman idolanya. Pada karya Kabo yang menggambarkan tokoh internasional Lenin, tidaklah terdapat pada karya dari seniman idolanya itu, di sini Kabo berekplorasi pada beberapa citra yang dia lihat sebagai acuannya yang di pindahkan kedalam karyanya. Kabo mengajak para penikmat, ketika menikmati karya untuk menggunakan ruang multi interpretasi yang menjadi milik pribadi tiap individu.
Bennanda Putrawan Hendronegoro (Beben) selalu asik bermain pada karya tiga dimensi dalam ukuran kecil yang dibuatnya dengan semangat bermain, diambil figure-figur dari media film di televisi, komik, hingga dinding kamarmandi yang lembab dan membentuk figure dari air yang menempel di dinding tersebut, respon pada karya tiga dimensinya tidak hanya berhenti pada karya yang sudah jadi, cetakan dari karya tersebut juga direspon Beben dengan menggunakan sorot lampu. Beben menyikapi gempuran dari citra yang dia temui sehari-hari untuk di respon dengan nuansa bermain.
Dimensi waktu diangkat dalam tema karya tiga dimensi Erik Paurizi (Pauw). Kerangka kepala tengakorak di ciptakan sebanyak 24 yang terbuat dari sabun. Karya tersebut di display berjajar seperti serdadu yang sedang berbaris rapi. Tengkorak berbaris itu di tempatkan diatas meja yang disinari dengan sorot lampu yang panas, pada saatnya diharapkan tengkorak itu meleleh oleh panas sorot lampu dari meja. Lelehan dari obyek itu, seperti yang selalu di katakannya bahwa berkesenian adalah proses, dan sang waktu adalah pemegang peranan penting dalam berproses. Pada figure tengkorak itu Erik melihat proses kehidupan, yang mana dari kelahiran menjadi besar, tumbuh menjadi dewasa, hingga akhirnya mati menjadi bangkai. Erik mengungkapkan secara terbalik pada proses kehidupan tersebut dengan dimulai dari yang mati menuju hidup, dari melelehnya tengkorak itu karena panas sorot lampu, saat setelah meleleh itu kita bisa membentuk lagi sesuatu yang kita inginkan sebagai bentuk dari yang mati menjadi hidup. Pembalikan narasi dari sebuah karya telah di lemparkan dengan cerdas oleh Erik untuk memberi ruang pada persepsi masing-masing dari penikmat karya.
Konsep penciptaan karya selalu berkembang seiring dengan semangat eksplorasi dari seniman itu, Issarezal Ismail (Isa) suatu saat dalam eksplorasi berkesenian, Isa menemukan secara tidak sengaja tentang cat yang meleleh dengan sendirinya diatas kanvas, ketika ia sedang membuat background pada karyanya. Isa teringat akan kejadian seniman besar dunia yang melihat sebuah karya terbentuk secara tidak sengaja dari tetesan cat yang sedang dipakai untuk melukis. Pada karya Isa lelehan cat itu terjadi karena posisi kanvas yang vertical, kejadian ini begitu sederhana, karena semua orang tahu tentang teori gravitasi, bahkan ada kecenderungan untuk berfikir konyol jika melanjutkan mengamati hal tersebut. Namun Isa tidak berhenti sampai di situ, dia mencoba untuk menjelajah tentang gravitasi hingga menemukan figure yang bisa diangkat untuk menceritakan tentang gravitasi. Figure seorang atlet loncat indah yang sedang melayang di udara untuk terjun bebas kedalam kolam renang. Pencapaian wacana seni yang jeli terhadap kejadian sederhana yang sering di jumpai di kehidupan, dapat membangkitkan rasa yang lebih kekal atau lebih abadi di bandingkan dengan melihat karya painting dalam nuansa “realisme-fotografi” yang lebih banyak terasa diam dan sunyi. Dalam karya Isa ada sebuah kenikmatan untuk bisa lebih lama memandangnya, pemakaian betumin yang dominan hingga terjadi kesamaan warnah antara background dengan figure yang ada, merupakan visual tersendiri yang lebih terasa alami. Bentuk figure yang ditampilkan menghasilkan banyak cerita yang menyebabkan lebih lama kekal yang mampu di bangun oleh Isa melalui konsep gravitasi.
Roumy Handayani menampilkan seni cukil kayu yang di tampilkan pada kertas, mengambil adegan dari sebuah buku cerita lama yang telah dibacanya. Ketertarikannya pada anatomi tubuh dieksplor dengan detail pada karyanya, bentuk tubuh yang sedang memainkan gitar, tatapan tajam sepasang mata, beberapa bagian dari tangan. Dunia cetak-mencetak sangatlah digemari olehnya.
Sutarno sangat berbeda ketika berekplorasi pada dua media, media kertas dengan menggunakan cat air, juga media kanvas dengan menggunakan cat minyak. Pada media kanvas sutarno menampilkan figure yang teras tersudut pada ruang dan waktu, kesan sunyi sepi sangat terasa. Sedangkan pada media kertas Sutarno lebih cenderung ramai dengan cerita yang diangkat dari perebutan kekuasaan, pamer power, lengkap dengan obyek penderita dari cerita tersebut. “Saya melukis sesuatu yang saya alami, dekat,bayangkan, yang menganggu, yang tidak dapat diungkapkan secara verbal, yang saya lihat secara subyektif” ujarnya. Dalam pameran ini Sutarno lebih mengalir apa adanya, bercerita tentang dirinya tanpa harus terpusingkan adanya gejala-gelala masab yang muncul terhadap dunia seni rupa.
Pemahaman dari sebuah ikon menghasilkan pemaknaan baru oleh seniman yang mencoba untuk merespon ikon lama yang popular, Yunis Kartika memaknai ikon popular tersebut dengan wacana yang tidak hanya di dapat dari si pembuat ikon, bahkan wacana baru itu bersifat penentang terhadap pencipta ikon tersebut. Wacananya yang di terapkan pada otoritas berkreasi dalam mencipta karya di fungsikan semaksimal mungkin oleh Yunis, pemahaman terhadap individu si pencipta ikon yang berhubungan terhadap ikon yang diciptakan itu dipertanyakan oleh Yunis. Yunis menciptakan pemaknaan baru pada ikon lama.
Pada akhirnya gempuran gambar-gambar atau citra dalam berbagai bentuk yang tersebar di mana-mana, yang bisa di temui sehari-hari adalah tantangan untuk menjadikan siapa yang berwenang penuh terhadap sebuah karya, selayaknya orang di belakang senjata itulah yang membuat berfungsi tidaknya kecanggihan dari sebuah senjata itu.
April 2009,
Yoyok MDTL

Leave a comment