Reading The Wind – Bayu Widodo

August 10, 2021
admin

Reading The Wind – Bayu Widodo

Mata Hijau Kepala Botak
“ Tatkala buah apel itu telah matang, maka satu hembusan angin lembut saja bakal membuat buah itu jatuh dari pohonnya. – Van Gogh, 1 April 1876.
“ Bunga terakhirmu “ mu dengan saudara tiri telah menemukan nasibnya di tangan algojo tembakau, akankah kau menanam bunga lagi atau mencari lahan kosong untuk tanaman barumu ? Aku datang dari tidur pagiku di bak mandi karet anak-anak kebun belakang teman kita, setelah semalam bertarung dengan tubuhku sendiri di latihan untuk menemukan tubuh Tari dan bahasaku. Pintumu tak terkunci dan aku nyelonong masuk di sambut bunga bungamu dikanvas, merah, biru, hijau, kuning dengan kepala tubuh manusia. Sedianya aku hanya ingin menghirup nafas di ruanganmu bercocok tanam, namun satu buku cukup menyita mataku dengan mata dan botak kepalanya, Van gogh. Kepalaku terbenam didalamnya hingga tak tersentuh sama sekali kopi panas yang kubuat dengan jariku sendiri saat kau belum terbangun. Sampai saatnya satu tanamanmu bermuka kelamin samar, wajahnya kau penjara pada kanvas berukuran tak terbilang besar – 49×49 cm dan “ Blue Night “ – 45x45cm meraba ‘ kamar sebelahku’. Sungguh dunia fisika kekerasan. Saat matamu sudah terbuka dan kau menuju kamar mandi untuk berak dengan suara rupiah-rupiah yang telah bersemayam di perutmu dari beberapa minggu lalu. Akankah kuutarakan apa yang melintas di kepalaku saat menciumi tanamanmu barusan ? “ Bayu, kau menyergap ‘meanings’ belum setajam pisau, namun kepiawaianmu tanganmu sungguh sudah 3/4, apakah aku keliru ? nyelonong saja mulutku, mukamu kerut-kerut seperti berpikir keras, aku tidak tahu. Maaf, buktinya algojo tembakau mengisi perutmu dengan banyak logam –logam. Sungguh, dikepalaku hanya berharap “ Muntahlah seperti puisi hidupmu atau muntahlah seperti puisi matimu “ itu saja sahabatku. Sebelum tulisan ini kuselesaikan kau memintaku untuk bantu mengambil gambar dari ‘bunga bunga’ lain yang seperti harus siap dieksekusi di lapangan tembak . Kalimat terakhir dari sahabatmu, “ Tidak ada yang salah dengan bergerilya sampai garis depan, pun dengan ketakutan selalu merayap, asal bukan bunga yang tak bersalah tertembak “. Cukup sudah, kutunggu sampai bosanmu untuk tidak memegang senapan yang berpeluru namun masih tegak di garis depan. “ Pelukan hangatku untukmu. ** Sahabatku, Bacalah Di Traffic Light Pesan beruntun dari angin sahabatku. Ada dataran membaca angin, warna membaca angin, bunga membaca angin, laptop membaca angin, kwitansi servis membaca angin, panci membaca angin, kaki patah membaca angin, tabung gas membaca angin, botol-botol membaca angin, puisi tanah membaca angin, 5 handuk membaca angin, kaleng cat membaca angin, piring seng membaca angin, pintu membaca angin, kamar mandi membaca angin, kompor membaca angin, gelap membaca angin, kulkas membaca angin, skate board membaca angin, malam membaca angin, sepatu membaca angin, berlian membaca angin, cangkul membaca angin, kulkas membaca angin, penis toilet membaca angin, atap membaca angin, katak membaca angin, membaca, membaca, membaca, angin di baca. Mohon maaf mesin angin di matikan. Apakah kau sedang membaca ? ; Bacalah…; Mengapa wajah itu menengadah sahabatku ? apakah bunga-bunga itu sudah bernama sahabatku ? mengapa bulatan-bulatan itu bergulung sahabatku ? – membaca angin, membaca situasi, membaca diri sendiri, katamu. Sahabatku, empat kursi dan satu meja ini terbuat dari ban bekas semua, mereka tak punya sepasang tangan sepertimu, namun empat kaki, tanganmu seenaknya menyapu kanvas dengan cat, tanganmu mondar-mandir seperti petugas ronda, tumitmu tak peduli menginjak mulut kaleng, berita di TV jadi pupuk organik di kepalamu. Sahabatku, kutanyakan padamu, pilih mana antara pesta dan membaca angin, tergantung situasinya jawabmu. Mhmm, aku tidak akan tanya lagi, lebih baik teruskan tubuhmu kau hancurkan dengan cat yang negara ini tak bisa membuatnya. Aku akan menyibukkan tanganku dengan tuts-tuts ini sambil belajar aljabar, 3 kg angin + 2 jari ( berapa ya ? ), segelas air + 4 haus = tidak haus, pintu seng x 10 lagu coil = bergetar, ketawa mamang : kuas di jari bayu = percakapan 1 lukisan, 6 telinga – musik keras = tekad, tumpukan lukisan + jadwal menunggu = ( jumlahnya berapa ya ? ), bosan belajar aljabar. Sahabatku, Kemarin percakapan kita melahirkan warna biru mudamu, malam ini tidak ada percakapan, karena tubuhmu sibuk menghantam angin-angin ditempatmu bercocok tanam, aku mengerti, antara violin dan coil pasti berbeda, dynamo kataku. Biru mudamu berubah menjadi hitam gelap dan pisau plastik itu dengan sedikit kuda-kuda menggores “ you never walk alone “, tanpa takut. Aku senang mendengarnya darimu, karena kukira ketakutan tempatnya hanya di tong sampah belakang rumahmu atau dapur, lalu apa lagi setelah itu ? Sahabatku, perutku sepertinya mengajakku belajar ilmu biologi, program discovery channel, ada pelajaran rantai makanan. Beras tercecer dimakan bakteri, bakteri dimakan daun, daun dimakan ulat, ulat dimakan serangga, serangga dimakan katak, katak dimakan ayam, ayam dimakan ular, ular dimakan musang, musang mati dimakan burung, burung dimakan manusia, manusia dimakan manusia, hehehe…katamu dan kataku juga. Sahabatku, apakah kuningmu dimakan hijau, hijaumu dimakan oranye, oranyemu dimakan merah, merahmu dimakan hitam, hitammu dimakan biru, birumu dimakan coklat muda, coklat mudamu dimakan jarimu dimakan kuas, kuasmu dimakan kanvas, kanvasmu dimakan nasi goreng, nasi gorengmu dimakan sepak bola, sepak bolamu dimakan televisi, televisimu dimakan air putih, air putihmu dimakan kamar mandi, pipis. Sahabatku, ruangan ini seperti rumah sakit bersalin, banyak bayi-bayi lukisan lahir, akan tumbuh remaja, sekolah dan meninggalkanmu, akankah sapuanmu menjadi ‘ orang tua ‘? ; bulan lahirmu telah lewat, 7 Januari. Bacalah.. ;

Salam jewe

Leave a comment